Lebih ‘Smart’ lah dalam Memilih Narasumber

Mewawancarai narasumber, apalagi untuk program live, membutuhkan persiapan dan perlakuan khusus.

Robin Boy, Ridi Khan, Gilang Fajar, Laura Felicia meliput konser Wings Tour BTS untuk Ujian Akhir Semester mata kuliah Jurnalisme Televisi Universitas Multimedia Nusantara. Keseruan ‘The Army’ atau penggemar boyband asal Korea itu menjadi ‘jualan utama’ liputan mereka, baik dalam paket pengantar live lengkap dengan PTC, maupun pada sesi livenya sendiri.

Sebagai anchor tunggal, Robin sudah oke. Cool, dengan busana memadai dan pembawaan kalem namun tegas sebagaimana seharusnya seorang pembawa berita.

Laura membawakan liputannya sebagai PTC paket pengantar live dengan percaya diri. Sebenarnya, masuknya musik pengiring menyertai liputan itu menjadikan paket ini menjadi lebih ‘berwarna’. Sayang kalau suaranya menjadi terlalu keras dan menjadi semacam mengganggu atmosfir, narasi, maupun laporan dari Laura sendiri.

Masukan lain ada pada pemilihan narasumber. Mengapa bisa dapat narasumber yang malu-malu dan tak aktif menyanyi atau berhisteria? Di sinilah pentingnya pre-interview sebagai seleksi, agar saat benar-benar ‘live’ tidak ‘malu-maluin’ di depan layar.

Pentingnya riset

Arti penting riset ditunjukkan kelompok ini. “Sebelum datang ke venue pada 29 April, kami telah mencari informasi-informasi mengenai konser dan boyband BTS,” papar Laura.

Dalam melakukan proses peliputan, mereka menggunakan dua kamera DSLR, sebuah tripod dan juga handphone untuk merekam suara. Saat mencari narasumber untuk PTC, Ridi dan Gilang mengalami beberapa kendala. Mencari para penonton yang berasal dari luar Jabodetabek pada saat itu sangat sulit. Ridi dan Gilang, mencoba menebak-nebak, seperti apa orang-orang yang berasal dari luar Jabodetabek.

Mulai dari hall 6 sampai hall 2, Ridi dan Gilang hanya menemukan penggemar yang berasal dari Bekasi. Disaat sudah hampir menyerah dan mau mengganti angle ke pedagang merchandise, Ridi dan Gilang berhasil menemukan penggemar BTS yang bernama Nur dan Aulia, yang berasal dari Bandung.

Saat mengambil PTC dan scene live, kami harus melakukan take berkali-kali, karena Laura Felicia dan Gilang Fajar, masih terbata-bata dalam mengucapkan kalimat mereka. Ditambah lagi teriknya matahari membuat mereka tidak bisa berkonsentrasi secara penuh dalam melakukan take PTC dan live.

Setelah shooting news anchor selesai, Ridi selaku editor mengatakan bahwa masih ada kekurangan ucapan yang harus ditambahkan. Akhirnya mereka kembali melakukan shooting pada esok harinya.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s