Rapi, Kekuatan Pascaproduksi

Sebuah karya jurnalisme televisi tak bisa terlepas dari tiga rangkaian kerja: pra produksi alias perencanaan, proses produksi yakni eksekusi dan pasca produksi, atau bagaimana menghidangkan karya itu dalam kemasan menarik.

Ngakan Putu Dillon, Jayanti, Michael Nathaniel, Grace Sitorus, dan Ryan Irfan Fauzi memilih liputan konser artis korea BTS sebagai project Ujian Akhir Semester (UAS) Jurnalisme Televisi Universitas Multimedia Nusantara.

Dibandingkan kelompok sebelumnya, kekuatan tim ini ada pada kerapian ‘tata letak’-nya, semisal pengaturan Chargen serta hal-hal terkait estetika lainnya. Kerja pascaproduksi mereka brilian, untuk merapikan tampilan, komposisi warna dan tulisan, bumper, komposisi audio, ‘menempel’ gambar live dan sebagainya.

Masukan ada pada sisi teknis. Sekali lagi, televisi adalah media yang pemirsa harusnya cukup melihat, tak usah dijelaskan. Show it, don’t tell!

Pada kasus ini, kelemahan mencolok –sebagaimana sempat dibahas pada mentoring presentasi pasca liputan- ada saat Grace ‘menyeret’ Novia sebagai ibu penjual merchandise khas BTS. Tak ada visual yang ‘menjelaskan’ Novia sebagai seorang penjual souvenir khas band Korea, baik itu dibawa saat wawancara ataupun pada sekuence liputan (ditampilkan sebagai insert footage). Hal-hal detail seperti ini harus diperhatikan.

Penampilan Michael, Dillon, dan Grace sebagai reporter lapangan sudah oke, kecuali –sebagaimana masukan pada posting grup sebelumnya, mereka kurang cihuy dalam urusan wardrobe. Harusnya jangan pakai kaos, tapi kemeja (berkerah ya) sebagai penampil yang memiliki nilai estetika tinggi di layar.

Jayanti sebagai anchor sudah ok, kecuali masalah-masalah teknis yang seharusnya selesai jika jam terbang sudah tinggi. Selain masih gagap, catatan ada pada penyebutan kata ‘berikut’. Berikut itu seharusnya untuk hal-hal yang akan disampaikan, tapi Jay menyebut, “Ya pemirsa, berikut adalah laporan yang dapat kami sampaikan…” untuk menjelaskan tayangan sudah ditampilkan. Nah, kebalik dong…

Mengatasi Kendala

Sebagai reporter, Dillon mengaku ini pengalaman pertamanya. “ Saya masih sering gugup di depan kamera. Tapi saya terus bangun percaya diri untuk tampil depan kamera dan memberikan reportase yang baik,” paparnya.

Pria bertubuh subur itu menegaskan ini adalah pengalaman pertama saya melakukan live report dan sangat menegangkan. “Tapi ini menambah pengalaman dan mengajarkan saya harus selalu percaya diri untuk tampil di kamera,” katanya.

Ryan Irfan, sang pengunggah karya, memiliki banyak kerja rangkap. Sebagai juru kamera, editing dan penguasa suara paket. “Di lapangan, kami sulit menemukan narasumber saat menentukan tema kemanan konser BTS. Para anggota keamanan sulit diminta informasi dan keterangannya,” kisahnya. Akhirnya mereka beralih angle.

Toh, Ryan senang. Ia  mengaku benar-benar merasakan ilmu yang begitu penting dalam menjalankan profesi saya nantinya sebagai jurnalistik TV. “Saya jadi mengetahui bagaimana rasanya liputan di bawah teriknya matahari. Banyak pengalaman yang saya dapatkan saat liputan dan dalam mata kuliah ini,” urainya.

Sebagai presenter tunggal program berita ini, Jayanti berterus-terang ini juga debutnya. “Bagi saya, ini hal yang baru dan menyenangkan. Saya dilatih untuk bersabar, menambah pengetahuan, juga menambahkan skill saya dalam melakukan peliputan suatu berita,” ungkapnya.

Menjadi reporter dan penulis naskah memberi pengalaman khusus bagi Grace Sitorus. Saat di lapangan, ia berjuang keras menemukan narasumber yang mau diwawancarai sesuai tema yang disepakati. Dan akhirnya, ketemulah Novia, meski ada kekurangan seperti disebut tadi. “Saya merasa senang sekali.  Dengan adanya tugas peliputan seperti ini saya belajar bagaimana jadi reporter beneran seperti di dalam berita tv. Menulis naskah untuk berita dan bagaimana menyempurnakan tulisan agar menjadi berita yang baik,” kesannya.

Michael pun demikian. Sebagai reporter dan juru kamera, ia mendapat pengalaman nyata tentang pentingnya ‘Plan B’ dalam sebuah pekerjaan. “Liputan ini memberikan pengalaman bagi saya mengenai sebuah acara konser musik, di mana rencana liputan bisa berubah seiring kondisi di lapangan saat proses produksi berita berlangsung,” jelasnya.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s