Memotret Expo K-Pop sebagai Hard News

Pemilihan topik ‘hard news’ dan live kelompok ini berbeda dengan lainnya. Expo budaya Korea menjadi pilihannya. Bagaimana mengemas sebuah event ‘semi soft’ ini menjadi bernuansa ‘hard’.

Dalam pelaksanaan Ujian Tengah Semester, mahasiswa kelas Produksi Televisi I Universitas Multimedia Nusantara dihadapkan pada project membuat satu paket berita ‘keras’ –lengkap dengan live reportnya- serta berita ‘ringan’ atau feature. Kelompok ini memilih ‘hard news’ mereka bukan dari tema mainstream, seperti tim lain menyajikan liputan penggusuran, videotron porno, sidang Jessica, dan perobohan Gedung Panin. Dessy Amelia, Sevtin Juliana, Meline Nabila, Yohanes Aldo, Jessica Bayu, Khansa Olivia, Ervan Dwi, Andre Kusnadi, dan Kevin Nathaniel meliput ekspo budaya Korea alias K-Pop, sebuah trend anak muda kekinian, yang digelar di Serpong.

Ada tantangan tersendiri tentu saja saat mengubah berita yang bernuansa ‘soft’ menjadi kemasan hard news lengkap dengan live reportnya. Tentu saja topik ini masih memenuhi syarat sebagai sebuah berita utama. Aktualitas, kedekatan, gaya hidup unik, serta crowd massa begitu besar menjadikan event ringan ini tetap layak untuk jadi topik liputan langsung.

Sayang, mereka –sebagaimana kelompok-kelompok lain- malas menempelkan Chargen alias CG sebagai teks di layar yang dapat membantu pemirsa memahami laporan apa yang disampaikan. Terdengar, ada beberapa topik yang sebenarnya bisa dibuat CG, misalnya: ‘Korea-Indonesia Creativie Economic Fair Digelar di ICE BSD’, ‘K-Content Expo 2016: Event Budaya Korea Terbesar di Indonesia’, ‘Beberapa Perlombaan Digelar di K-Content Expo’, ‘Pengunjung Tetap Ramai Meski Event di Hari Kerja’, ‘K-Content Expo Hasil Kerjasama Pemerintah Indonesia-Korea’ dan bisa juga CG ‘Konser Saranghaeyo Indonesia 2016 Menarik Antusiasme Anak Muda’.

Penampilan duo Meline dan Dessy sebagai duo presenter cukup percaya diri, meski sempat terbata-bata membacakan lead berita. Wajar saja sih. Live Jessica menjadi atraktif dengan ‘gimmick’-nya pasca memainkan game ala Korea. Lagi-lagi kita tak bisa menyamakan isi kepala pemirsa dengan apa yang ada di ‘frame of reference’ dan ‘field of experience’ kita. Tak semua tahu apa game itu, jadi seharusnya bisa dijelaskan gamblang, mulai cara penulisannya, hingga rule gamenya. Bisa sekilas saja, tapi lebih bagus jika menggunakan grafis.

Catatan tim peliput

Jessica Bayu, sang standupper alias reporter on-cam, mengaku kendala liputan ini yakni kurangnya persiapan saat produksi. “Karena lemah dalam persiapan teknis, akibatnya, footage yang didapat kurang banyak,” ungkapnya Jessica. Ia menerangkan alasan mengangkat topik ini karena kedekatan (proximity) masyarakat penggemar budaya Korea di Indonesia sangat tinggi.

Sevtin Juliana juga menekankan adanya kesamaan antara liputan hard news dan feature, yang sama-sama mengangkat liputan game online. “Keduanya sama-sama tergolong baru dan jarang diadakan di Indonesia,” jelasnya. Apalagi, sebagaimana dituturkan Yohanes Aldo, event budaya Korea ini merupakan yang pertama sekaligus terbesar digelar di tanah air.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s