Pengalaman Tak Terlupa dari Sidang Jessica

Senang melihat para mahasiswa memilih topik liputan berupa topik ‘hard news’ yang sedang hangat. Mereka berbaur dengan jurnalis profesional dari media ‘mainstream’.

Mahasiswa peserta mata kuliah Produksi Televisi I Universitas Multimedia Nusantara mengerjakan project Ujian Tengah Semester berupa satu paket liputan ‘hard news’ lengkap dengan aksi live reporter, serta sebuah paket liputan soft news.

Di antara kelompok lain yang memilih topik hard news penggusuran, videotron porno, dan perobohan gedung tua, delapan orang dalam kelompok ini memilih meliput sidang terbunuhnya Mirna Salihin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Regina Devie, Rachel Anastasia,Elisabeth Chrisandra, Putri Amalia, Vincensius Yoga, Sharon Yemima,  Andini Nur Nabila, dan Selvie Lestari meliput sidang ke-28 berupa pembacaan nota pembelaan terdakwa Jessica Kumala Wongso.

Hadir (dan liputan) di sidang Jessica ini saja sudah memberi nilai plus bagi kelompok ini. Sebuah pengalaman tak terlupa bisa ada di sebuah persidangan yang menarik minat media dan masyarakat luas.

Sisanya, adalah persoalan teknis. Chargen yang minim menjadi catatan khusus. Selain itu, memaksakan adanya running text kali ini justru memperburuk visual di layar televisi. Huruf-hurufnya bergerak terlalu cepat dan terkesan merusak pemandangan gambar dan cerita utama yang ditampilkan.

Sayang, tak ada narasumber yang diwawancarai dalam paket maupun live Elisabeth dari PN Jakpus. Elis, sebagai reporter on-cam, menyebut pernyataan Otto Hasibuan selaku penasehat hukum Jessica, sayangnya tak ada kutipan dari Otto yang ditampilkan sebagai ‘kalimat langsung’. Padahal, seandainya tak ada ‘quote’ berupa soundbyte tim lawyer, mereka boleh saja lho wawancara pengunjung sidang Jessica, yang konon hadir dari berbagai daerah di Indonesia.

Di balik layar

Putri Amalia Irawan, penulis naskah serta juru kamera di PN Jakpus bercerita, berada di kelompok Produksi TV adalah perjuangan tersendiri bagnya. “Sebenarnya, ini pertama kali saya jadi campers dan saya masih sangat amatir,” ungkapnya. Namun, Putri dan Regina merasa mendapat pengalaman berharga dengan berdesak-desakan bersama juru kamera profesional dari berbagai stasiun televisi.

Vincensius Yoga, anchor, serta penyunting visual menyatakan, dari project ini, ia mendapatkan pengalaman baru saat mengedit produksi TV.

Selvie Lestari, juga juru kamera, mengungkapkan pengalamannya mengambil gambar feature di Bogor serta saat take anchor. “Sebagai campers saya belajar dalam menebak situasi dan mengira-ngira gambar yang harus diambil. Selain itu juga saya belajar bekerja sama dengan anchor untuk bagaimana dapat membangun suasana dalam kamera,” urainya.

Sharon Yemima, selain menjadi anchor, juga gembira dengan tugasnya membuat bumper in program. “Ini Menambah pengalaman dalam bekerja satu tim,  karena saya bertugas membuat bumper yang sebelumnya saya belum pernah coba saya menambah keahlian lain di bidang itu,” ungkapnya.

This entry was posted in jalan-jalan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s