Multimedia TV Meliput Kasus Videotron

Dua liputan ada sebagai hasil karya kelompok berisi sembilan mahasiswa yang menamakan diri ‘Multimedia TV’ ini. Hard newsnya dari kasus videotron porno, sementara paket feature dari festival kuliner di Tangerang City.

Yovi Syarifa, Ajeng Sekar, Catur Dharma, Putri Diana, Riani Angel, Mia Chiara, Yohana Ruth, Bernadin Mario, dan Daffa Syahnabil mempersembahkan dua paket liputan sebagai syarat Ujian Tengah Semester mata kuliah Produksi TV I Universitas Multimedia Nusantara.

Untuk isu ‘keras’, mereka bermain di topik videotron raksasa di Jakarta Selatan yang sempat memainkan adegan bermuatan pornografi. Meski tentu saja, kejadian itu sudah lewat beberapa hari sebelumnya, liputan Catur dan kawan-kawan layak diacungi jempol. Mereka bisa mendapatkan saksi, seorang penjual soto, dan juga wawancara anggota polisi yang kompeten menjelaskan peristiwa itu.

Masukan konten ada pada nama narasumber –sebaiknya nama minimal dua kata dan menggunakan nama asli- serta penulisan nama polisi yang seharusnya memakai pangkat serta jabatan polisi itu. Kalau tak tahu apa pangkat Ali Shodiq dengan menebak-nebak makna lambang di bahunya, ya tanya saja langsung orangnya agar tak salah akurasi.

Dalam PTC (piece to camera) yang dilakukan di lokasi, Catur juga sempat ‘keseleo lidah’. Ia menyebut, “Ya saudara, pelaku sudah ditangani oleh Mapolda Jaya Jakarta Selatan”. Mungkin maksudnya Polresta Jakarta Selatan. Karena kalau Polda maka sebutan yang benar adalah Polda Metro Jaya.

CG alias Chargen alias keterangan tulisan di layar yang mestinya rutin tampil juga sering kosong. Padahal, saat Catur on-air, CG bisa diisi misalnya, ‘Garis Polisi Telah Dilepas Polisi, ‘Pelaku Berinisial SAR Ditangkap Di Depan Kantornyai’, ‘Modus Pelaku Belum Diketahui’, ‘Kasus Videotron Porno Diberitakan Media Internasional.

Festival Jajan Kuliner di Tangerang City Mall. CG nya lebih sering keluar, tapi eit.. jangan salah persepsi. Saat CG muncul ‘Terdapat Jajanan Lawas’ dan ‘Berbagai Makanan Lawas ada di Sini’ jangn sampai yang dipersiapkan sebagai makanan dan jajanan ‘lawas’ adalah makanan kadaluwarsa! Mungkin bisa diganti ‘Jajanan Tempo Doeloe’ atau ‘Jajanan Model Lawas’. Cerita mereka juga akan lebih ‘basah’ kalau tak terlalu banyak mengambil angle. Fokuslah pada lomba makan soto panas itu.

Cerita tim Multimedia TV

Yovi Syarifa, juru kamera feature mengungkapkan pengalaman kesulitan dalam mengambil beberapa gambar yang penting dan tidak pernah pas saat mengambil gambar pengunjung yang sedang beli makanan dan penjual yang sedang meracik. “Seringnya telat ambil gambar. Tapi seru sih, bisa sambil nongkrong dan mencicipi makanan yang ada di festival,” katamnya.

Riani Angel, penanggungjawab editing, mengalami kesulitan dalam mengedit, ketidak displinan dan tidak tepat waktu pengumpulan data sehingga tidak dapat mengedit dengan baik.

Mia Chiara dan Yohana Ruth, news anchor, mengaku harus banyak belajar. “Saat saya menjadi anchor saya tidak hanya sekali take, masih banyak mengulangnya. Saya harus bisa lebih fokus saat on-cam,” tekad Mia.

Ajeng Sekar, standupper pada paket feature, pun masih merasa perlu menambah jam terbang. “Ternyata, tidak mudah berbicara di depan kamera, ada rasa gugup saat mulai on-cam. Hal ini saya lakukan berkali-kali untuk berbicara di depan kamera,” paparnya.

Catur Dharma, sang pemilik ide sekaligus standupper dalam paket videotron mengaku senang bisa terjun langsung ke lapangan dalam liputan hard news. “Melaporkan sesuatu di depan kamera kelihatannya mudah, dari berbagai informasi yang didapatkan saya hanya tinggal berbicara depan kamera. Namun, yang menjadi kesulitan ialah menyesuaikan dengan durasi, dan bagaimana memotong naskah namun informasi tetap tersampaikan secara valid dan jelas,” ungkapnya.

Putri Diana, juru kamera saat liputan feature merasa senang bisa ambil bagian dalam liputan soft ini. Bahkan, mereka sampai dua kali datang ke lokasi acara di Tangerang City. “Awalnya datang hari Kamis, sepi banget. Lalu, kami liputan lagi saat ada lomba makan soto,” jelasnya.

Kesan serupa disampaikan Mario dan Daffa sebagai tim reporter, pengisi suara, dan juru kamera. “Capek juga prosesnya. Harus kehujanan, dan melewati banjir saat liputan. Tapi, secara keseluruhan seru,” ungkap Mario. Daffa pun senang karena dapat melihat langsung hal-hal yang sedang ramai dibicarakan orang. “ Ditambah saya dapat dekat dengan narasumber yang sedang viral dibicarakan masyarakat,” ujarnya bangga.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s