Menjadi Saksi Sejarah Perobohan Gedung Panin

Mereka memilih liputan malam hari, saat gedung eks Bank Panin ‘direncanakan’ runtuh. Kerja berat di tengah malam.

Sembilan mahasiswa peserta mata kuliah Produksi Televisi I Universitas Multimedia Nusantara ini memilih topik ‘hard news’ yang tidak mainstream. Vivi Melyan, Kelvin Layzuardy, Daniel Cahyadi, Gustama Pandu, Anandita Getar, Chiedryan Chierdidy, Anders Forbes, Abidzar Ghifary, dan Clara Bilan mengabadikan ‘peristiwa bersejarah’ yakni upaya merobohkan gedung eks Bank Panin di Sektor 7 Bintaro, Tangerang Selatan.

Ini even langkah, karena perubuhan gedung setinggi 21 lantai ini merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia. Tak heran, perhatian massa dan media banyak tersedot ke kawasan Bintaro, berharap menyaksikan visual luar biasa detik-detik ambrolnya sebuah gedung pencakar langit secara terencana dan sistematis.

Kelebihan liputan ini, yakni totalitas bekerja. Selain itu, mereka sukses mendapatkan narasumber kelas satu, yakni pihak eksekutor proyek perubuhan gedung, serta Walikota Tangerang Selatan. Meski akhirnya, visual detik-detik gedung roboh secara dramatis memang tidak ada –karena prosesnya tak semudah yang diperkirakan- perjuangan tim ini tetap patut diapresiasi.

Kelemahannya, tentu saja, karena liputan malam, pencahayaan menjadi masalah. Lighting yang kurang memadai menjadi kritikan utama pada paket feature ini. Meski begitu, pesan utama toh masih tersampaikan. Kesibukan polisi mengatur lalu-lintas dan PTC Kelvin dengan latar gedung Panin tampak jelas, masih dapat terlihat oleh pemirsa dengan pencahayaan cukup.

Pilihan Daniel menjadi presenter tunggal di newsroom juga oke. ‘Kesibukan’ para editor/produser di belakangnya menjadi nilai tambah. Juga ‘tek-tok’ live antara anchor di studio dengan reporter di lapangan layak menjadi kredit tersendiri.

Catatan tim liputan

Vivi Melyan berpendapat, liputan perobohan gedung ini sangatlah berkesan baginya. Walaupun liputan membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi tentu menambah pengalaman karena perobohan gedung ini pertama kali dilakukan secara ‘resmi’ di Indonesia. “Awalnya kami berharap dapat melihat gedung ini roboh dan menunggu sampai dinihari. Tapi, berhubung liputan sudah dilakukan dan mendapat narasumber yang relevan akhirnya kami memutuskan untuk menyelesaikan liputan,” kata Vivi, yang berperan sebagai camera person.

Gustama Pandu berpendapat serupa. “Seru, harus menunggu hingga jam 3 malam untuk menunggu gedung runtuh dan rebutan untuk mendapatkan soundbyte Airin dan kepala proyek,” katanya.

Kelvin Layzuardy sebagai reporter di lapangan menyatakan, kelompoknya menyambut ide meliput perobohan Gedung eks Bank Panin. “Bagi kami tugas itu cukup menantang. Karena liputan dilakukan malam hari. Kendala dari pencahayaan, rasa ngantuk, dan lelah terbalut jadi satu. Namun,  ini pengalaman berharga bagi kami,” katanya.

Anders Forbes  dan Chiedryan Chierdidy  memaparkan, dari liputan malam, mereka belajar betapa pentingnya cahaya. “Situasi di lokasi juga sangat ruwet karena banyaknya warga yang ingin menonton kejadian bersejarah tersebut. Saya juga mendapatkan pengalaman liputan langsung bersama wartawan-wartawan di media-media mainstream,” tambah Anandita Getar.

Abidzar Ghifary sebagai program editor awalnya merasa canggung men-direct tapping news. Biasa menjadi program director program musik di UMN TV, dapat ilmu baru ketika tapping news. “Mungkin kedepannya pengambilan gambar saat tapping akan lebih variatif mungkin dengan menggunakan slider,” ungkapnya.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s