Partisipatif ‘Engklek’ ala Nathania dan kawan-kawan

Paket feature ini memiliki kelebihan dibandingkan paket-paket dari kelompok lain, yakni tampilan (PTC) partisipatif dari reporternya.

Salut untuk konsep dan eksekusi dari Jessica Damiana, Nathania Zevwied Pessak, Yohanes Bintang, Abraham David dan Bangkit Jaya Putra yang mengerjakan project Ujian Tengah Semester mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara.

Dalam pilihan mengerjakan feature sport, mereka mengambil tema TAFISA 2016, pekan olahraga tradisional dunia, yang digelar di kawasan Ecopark Ancol. Di antara berbagai gambar tentang aneka olahraga masyarakat, kelompok ini kemudian terfokus pada ‘engklek’, permainan tradisional yang mengingatkan sebagian kita pada masa-masa kecil yang indah.

Untuk menyegarkan ingatan pemirsa, Nathania selaku reporter on-cam menjelaskan dan memeragakan ‘rules of the game’ dari engklek itu. Sampai di sini, pilihan konsepnya bagus, kecuali terkendala pada eksekusi yakni pengambilan gambar yang goyang dan beberapa kali hanya menampilkan separuh badan ke bawah. Jika maksudnya ingin detail, harusnya tak perlu nanggung, arahkan saja close-up ke mata kaki yang tengah bergerak. Karena bagaimanapun, jangan terlalu lama meninggalkan wajah reporter dari mata pemirsa. Tapi, secara esensi, pesan yang disampaikan masih ‘kena’.

Pada pasca-produksi, miskinnya CG (kalau boleh dikatakan tegas bahkan: tidak ada, kecuali saat menampilkan narasumber) menjadi titik sentral paket liputan ini. Padahal, selain CG, mereka seharusnya bisa pula menampilkan grafis, berisi aturan rinci mengenai engklek, sejarah, atau daftar cabang olahraga masyarakat yang diperlombakan di TAFISA 2016.

Wawancara dengan ‘Abah He’ menjadi nilai plus karena ekspresif dan cara menjawab dari narasumber membuat suasana lebih ‘hidup’. Sayang, lagi-lagi di sektor pasca produksi’, seharusnya di sela-sela tokoh Komunitas Hong Bandung ini menjawab, ditampilkan insert footage sekuence narasumber atau aktivitas yang mendukung.

Kesan tim lapangan

Jessica Damiana sebagai sebagai script writer dan periset bersyukur atas kemauan untuk bekerja sama dan ketepatan waktu dari kelompok ini. “Kelompok ini memiliki inisiatif untuk berkontribusi bagi kepentingan bersama. Untuk membawa kamera dan perlengkapan audio saja, tidak perlu diingatkan lagi. Semua orang sudah tahu job desc masing-masing,” paparnya. Hal senada diungkapkan sang stand-upper, Nathania Zevwied Pessak juga menekankan pentingnya inisiatif masing-masing anggota kelompok tanpa saling membebani satu sama lain.

Yohanes Bintang, editor video dan sound mixer, merasa senang karena bisa meliput internasional ini dan dari proses editingnya tidak banyak mengalami masalah karena belanjaan gambar yang begitu banyak. “Kuncinya ada pada kerjasama kelompok yang solid,”kata Bintang.

Kesan senada juga disampaikan dua juru kamer, Abraham David  dan Bangkit Jaya Putra. Mereka bangga karena di kelompok ini, tidak ada yang mau menang sendiri dan mementingkan ego masing-masing. “Kami semua bekerja atas nama kelompok. Capek pasti, tapi semua terbayar dengan canda dan tawa saat di lokasi, dan tugas kami selesai tepat waktu,” paparnya.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s