Ketika Game Online jadi Sebuah Perlombaan Resmi

 Feature ini mengangkat game online yang ‘naik kelas’ dalam perhelatan semacam olimpiade. Gambar-gambar awalnya cukup memukau, tapi ada evaluasi kritis untuk karya mereka.

Yohanes Aldo, Khansa Olivia, Ervan Dwi, Andre Kusnadi, dan Kevin Nathaniel punya pilihan unik saat mengerjakan ujian praktek mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara. Mendapat opsi memilih di antara tiga alternatif untuk feature sport: Serpong Run, PON XIX dan Tafisa Games, mereka memilih agenda ketiga.

Pun demikian, saat memutuskan mengambil perhelatan Tafisa Games 2016 –semacam olimpiade untuk cabang-cabang olahraga non olimpik- pilihan tim ini pun lain dari umumnya. Dengan sentuhan khas anak muda seusia mereka, opsi meliput ‘kompetisi’ game online alias ‘E-Sport’, sebagai salah satu nomor di Tafisa Games, menghadirkan pendekatan-pendekatan istimewa.

Gambar-gambar yang muncul di detik-detik awal paket feature ‘E-Sport’ ini menggelegar dengan animasi, musik, dan tampilan-tampilan khas dalam game online. Pendekatan konten mereka pun sudah benar. Kelompok ini mengangkat sebuah tema besar dengan ‘main’ personalisasi khusus, yakni menampilkan sosok Hansel Ferdinand, salah seorang peserta ‘E-Sport’ dari kontingen Indonesia.

Ada beberapa masukan teknis dalam paket berdurasi 3 menit 3 seken ini. Saat Hansel berbicara (SOT/soundbyte) mereka kurang mengambil sisi kamera dengan tepat. Ini sering disebut sebagai ‘gambar wayang’, di mana wajah narasumber hanya terlihat separuh, merujuk pada figur wayang, yang juga selalu kelihatan satu matanya saja (miring) dan tidak menampilkan gambar muka secara utuh. Mengingat narasumber toh bukan atlet kaliber dunia macam Marc Marquez atau olahragawan lain yang untuk mendapatkan gambarnya harus berdesak-desakan dengan jurnalis lain, harusnya mereka bisa lebih tenang dan jernih dalam mengambil wajah Hansel.

Input lain untuk karya ini yakni CG yang amat minim ditampilkan, sehingga pemirsa jadi ‘buta’ dengan informasi di dalam paket ‘E-Sport’, kecuali para penonton memasang kuping erat-erat menyimak apa kata narator. Khusus untuk PTC alias on-cam Andre, seharusnya kawan-kawan yang berfungsi sebagai ‘field producer’ merapikan kabel-kabel yang berseliweran di tubuhnya. Setidaknya, kabel-kabel itu bisa dilewatkan via ‘saluran’ belakang tubuhnya, jangan terjuntai di depan dada sampai perut. Masalah estetika saja.

Cerita dari lapangan

Yohanes Aldo, koordinator peliputan merangkap juru kamera dan editor berkisah tentang proses peliputan di Ancol Beach City (ABC) Mall, Jakarta Utara. “Awalnya, kami masih belum menentukan venue apa yang akan diambil karena pada dua tempat yang berbeda, ada kompetisi Cheerleader dan E-sport. Setelah kami petimbangkan, akhirnya kami memilih untuk meliput e-sport karena jenis olahraga ini masih belum dikenal di Indonesia,” urainya.

Pada saat peliputan ada beberapa kendala yang terjadi, di antaranya  pencahayaan di lokasi yang kurang, jumlah kamera DSLR yang kami miliki hanya dua unit, dan sejumlah kendala teknis lainnya. “Tetapi, semua dapat kami atasi dengan baik hingga selesai. Semoga hasil yang kami sajikan memuaskan dan dapat berguna bagi masyarakat,” ungkap Aldo.

Khansa Olivia, menuturkan, sebenarnya kelompok ini juga memiliki stok liputan lain yakni pertandingan ice skating di Bintaro dan memfokuskan kepada salah satu peserta yang bernama Aiko. “Dengan segala pertimbangan, kami putuskan liputan di Ancol yang naik sebagai karya ujian,” kata Khansa yang dalam liputan ice skating Tafisa menjadi pengisi suara dan juru kamera.

Ervan Dwi, cameraperson, mengakui, melihat hasil karya orang lain yang sudah ada, ternyata tidak semudah yang terlihat. “Di balik itu semua, ada proses yang bisa dibilang cukup melelahkan. Baik secara waktu maupun tenaga,” paparnya. Ia gembira mendapat pengalaman seru saat berbaur dengan jurnalis lain dan sempat dikira jurnalis dari media mainstream, terutama bawaannya berupa tas besar, berisi tripod dan kamera.

Andre Kusnadi, standupper di Ancol, mendapat pelajaran berharga saat tahu ‘belanjaan’ gambar mereka ternyata minim sekali. “Baru terasa saat proses editing. “Kami cukup kebingungan karena menurut saya belanjaan kami kurang sesuai harapan. Saya harap event selanjutnya kami bisa lebih baik lagi,” tuturnya.

Kevin Nathaniel, figur lain di balik layar, menyatakan, sosok di belakang kamera tak kalah pentingnya.Liputan di Bintaro dan Ancol, Kevin berperan seagai interviewer, camera person, bahkan sampai jadi carrier atau pembawa barang. Ia pun senang ketika berhasil mewawancari salah satu peserta perwakilan Indonesia untuk game Counter Strike Global Offensive dan juga mewawancarai salah satu peserta Ice Skating terbaik yang dimiliki Indonesia. “Memang saya tidak tampil di layar. Namun, saya cukup berbangga hati setelah melihat hasilnya,” ungkapnya.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s