Kisah Para Penggila Lari

Lari bukan hanya olahraga, tapi juga menjadi gaya hidup sebagian masyarakat perkotaan. Bagaimana mahasiswa memotret fenomena ini dalam sebuah paket soft news pendek?

Sebagai project Ujian Tengah Semester mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Jessica Bayu, Dessy Amelia, Meline Nabilla, Sevtin Juliana, dan Jefferly Helianthusonfri memotret komunitas ‘Tangerang Crazy Runners’ (TCR) yang tengah bersiap mengikuti ‘Serpong Green Warior Run’.

Footage latihan komunitas ini menjadi fokus utama liputan mereka. Kurangnya visual pendukung yang menjelaskan aktivitas TCR tertutupi dengan dokumentasi foto maupun dokumentasi video (saat outbond, misalnya) dari narasumber. Penjelasan narator juga cukup jelas, termasuk mengapa komunitas ini memakai nama ‘Crazy Runners’. Di antaranya karena ‘kegilaan’ anggota TCR, seperti berlari dari Serpong ke Monas lanjut Kelapa Gading. Audio histeria saat pembawa acara Serpong Run menyapa komunitas ini juga menjadi nilai plus sendiri.

Bicara kelemahan, tak ubahnya kelompok lain, kelompok ini terkesan ‘malas’ memberi CG dalam tampilan karyanya. Padahal, penulisan teks pada layar memudahkan pemirsa mengikuti alur cerita yang disampaikan. Selain itu, paket mereka tampak lemah karena tak ada reporter on-cam, apakah itu saat mengikuti TCR latihan, atau di event Serpong Run-nya.

Kisah tim peliput

Jessica Bayu bertindak sebagai produser mengaku beruntung mendapatkan narasumber yang ramah dan welcome. “Dari segi teknis, kami merasa semua sudah bagus meski belum optimal. Antara lain menyangkut bahasa yang digunakan saya rasa terlalu baku atau formal untuk sebuah feature,” katanya.

Dessy Amelia, cameraperson, bercerita karena ada gambar yang kurang, mereka pun melakukan liputan ulang mengikuti pertemuan rutin dan latihan TCR. “Tetapi meski liputan ulang, orangnya tetap baik mau diwawancara ulang dan menjawab pertanyaan pun tidak asal jawab,” kenangnya. Nah, sudah liputan ulang, kok tetap tak ada PTC-nya?

Meline Nabill, juga cameraperson, menyatakan kesan serunyacbisa mendapatkan pengalaman merekam komunitas malam-malam. “Tapi, saya agak kesusahan dalam mengambil detail. Karena mereka kan sedang latihan, jadi kalau mau ambil shoot detail dengan jarak dekat susah. Takut menganggu mereka latihan,” kilah Meline. Nah, di sinilah kepercayaan diri sebagai jurnalis berperan besar. Kalau koordinatornya sudah mengizinkan, mengapa takut menggangu? Jelas, di sini masalahnya adalah rasa ‘kurang percaya diri’.

Anggota tim editor, Sevtin Juliana juga mengaku happy ikut terjun liputan memotret TCR. “Hanya saja beberapa stok gambar tidak sesuai dengan ekspetasi. Penempatannya pun beberapa ada yang tidak tepat. Jadi sulit untuk menentukan stok gambar yang akan dipakai,” paparnya.

Adapun Jefferly Helianthusonfri sebagai Reporter dan pengisi suara dalam paket berita jujur menyatakan ia menyukai penugasan UTS Feature Media dan lebih suka ketika UTS/UAS dilakukan pengumpulan project dibandingkan ujian tertulis. “Kami pun punya persiapan lebih, karena sejak hari pertama kuliah sudah mendapatkan informasi tentang tugas UTS dan UAS nantinya. Ini sangat membantu proses kerja kami,” ungkapnya.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s