Feature Barongsai, Variasi Gambarnya dan Totalitas Tim

Soft news tentang barongsai yang diperlombakan sebagai cabang olahraga eksebisi di Pekan Olahraga Nasional punya nilai tambah sendiri. Apa itu?

Daniel Cahyadi, Vivi Melyan, Kelvin Layzuardy, Gustama Pandu, Andreas Fan, itulah lima anggota kelompok mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara yang mengambil angle ‘Barongsai, mempererat persatuan bangsa’ ini.

Tak tanggung-tanggung, dalam liputan ke GOR Pajajaran Bogor ini, mereka berlima sekaligus menjadi camerapersons. Mungkin maksudnya agar ‘belanjaan’ gambar yang didapat lebih kaya dari berbagai sudut pandang berbeda, jadi senjata plus amunisi yang dibawa pun harus lebih banyak. What a totality!

Liputan feature berdurasi tiga menit ini diawali dengan ‘bumper in’ Sapa UMN sekitar 15 detik. Bukan hal mudah membuat OBB (Opening Bumper Break) dan ini membuat karya mereka terlihat disiapkan lebih matang. Secara konten, kelompok ini fokus pada isu yang amat spesifik: barongsai menjadi olahraga yang berperan mempersatukan bangsa. Personalisasi mereka pun amat khas: atlet barongsai dari Aceh.

Variasi show yang mereka janjikan dengan jumlah senjata dan campers lebih ‘multi’ itu pun terwujud. Andreas Fan yang khusus menjadi pilot drone mengambil gambar atas venue memberikan perspektif berbeda dibandingkan visual-visual dari kelompok lain. Varian lain yakni saat mereka mengambil gambar para atlet ‘toss’ dari bawah tumpukan tangan. Great ya, ada gambar khusus dari ‘atas’, ada dari ‘bawah’ hehehe…

Masukan bukannya tak ada. Bukankah tak ada gading yang tak retak? Dengan ‘amunisi’ sebanyak itu, sayang mereka tak mengambil gambar close, visual-visual detail yang menggambarkan sentuhan human para pemain dari sorot lebih dekat. Kalau alasannya kamera mereka tak ada lensa panjang (tele), mungkin bisa diakali dengan datang mendekat, ngobrol dengan atlet dan mengambil personalisasinya lebih akrab.

Masukan juga, mengapa SOT (sound of tape/suara narasumber) mengapa pula harus diberi sub title atau teks di layar seolah itu terjemahan bahasa asing, layaknya kita menonton film di bioskop? Kalau alasannya karena kualitas audio kurang memadai, sebaiknya penekanan dibuat dalam bentuk CG (chargen, character generator, tulisan di layar). Tulis saja, misalnya, Ratih Puspita: Barongsai di Aceh Tak Eksklusif. Maya Sari: Anggota Komunitas Barongsai bak Keluarga, dan banyak CG lain sesuai dengan audio soundbyte di layar.

Piece to camera (PTC) Vivi cukup menawan, suaranya pun clear. Ada dua masukan baginya. Pertama, PTC closing itu akan jadi lebih menarik bila Vivi tak sekadar berdiri, tapi misalnya dengan ‘gimmick-gimmick’ tertentu, misalkan bermain-main dengan peralatan barongsai. Kedua, dari sisi pasca produksi, alangkah baiknya bila dalam PTC ‘sepanjang’ itu, pemirsa tak hanya disuguhi wajah Vivi. Beri insert footage lain berupa ‘beauty shoots’ lomba barongsai. Bukankah belanjaan visualnya cukup banyak, toh?

Last but not least, masukan ada musik latar. Mestinya, Mbak Kikan Cokelat boleh diminta jangan terlalu keras bernyanyi. Inisiatif memberi musik latar ‘Bendera’ jadi tepat kalau mengingat narasi utama liputan ini adalah olahraga dan persatuan bangsa. Tapi, kalau musik latar itu menenggelamkan voice over  dalam paket, tentu menjadi masalah sendiri. Otak dan telinga penonton tayangan ini jadi seperti berebut memberikan atensi, pada suara musik, atau suara narator paket?

Kesan tim peliputan

Vivi Melyan, sang repoter stand-upper, mengatakan, fokus liputan mereka mengangkat tim barongsai yang berasal dari Aceh. Saat menginjakkan kaki di GOR Pajajaran Bogor, awalnya mereka belum dapat ide pasti akan mengambil angle apa. “Lalu, kami melihat ada sisi unik dari tim barongsai yang berasal dari Aceh karena terdapat dua atlet barongsai yang mengenakan jilbab turut berpartisipasi dalam PON,” paparnya. Akhirnya, mereka sepakat mengangkat keberagaman itu, karena menganggap unik keikutsertaan pemuda-pemudi Aceh mengikuti cabang olahraga ini.

Gustama Pandu, editor sekaligus cameraperson, mengungkapkan, pengalaman saat liputan amat mengesankan. Dengan tugas ini iabisa merasakan bagaimana liputan seperti media TV mainstream. “Saat liputan kita harus melakukan on-cam dan juga mencari narasumber untuk keperluan berita. Dengan liputan barongsai membuat saya makin terbuka wawasan akan situasi liputan di lapangan,” urainya.

Daniel Cahyadi, Kelvin Layzuardy dan Andreas Fan –juru kamera merangkap ‘pilot’ drone- bersyukur atas soliditas kelompok ini. Maklum, mereka telah lama mengenal satu sama lain. “Waktu liputan PON dan mengambil cabang barongsai, kami menganggap liputan itu seperti liburan bersama ke Bogor,” katanya.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s