Liputan Feature, Saat Keputusan Cepat Harus Diambil

Ini contoh feature memperkenalkan olahraga yang relatif baru, sekaligus dengan profil salah seorang atletnya.

Dengan segala daya upaya dan perjuangan keras nan berliku, akhirnya enam sekawan peserta mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini menuntaskan project Ujian Tengah Semester mereka. Adrian Permana Putra, Muhammad Ikbal, Akmal Azadine, Bagas Rahadian, Gregorius Aryodamar, dan Rebeca Joy akhirnya mengangkat olahraga baru ‘wakeboard’ yang sudah dua kali penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional diperlombakan di cabang serumpun dengan ski air.

Selain mengangkat tentang apa itu olahraga air ini, tim liputan juga mengupas profil salah seorang atletnya, yang juga mahasiswa UMN. Maka, dalam paket berdurasi 3 menit 7 detik itu pun merangkum dua hal sekaligus.

Dibuka dengan sekuens tentang baliho PON dan ‘Wakeboarding’ –sekaligus narasi menjelaskan bahwa olahraga ini merupakan adaptasi antara surfing, snowboarding dan ski air. PTC Rebeca oke sih, meski akan lebih keren lagi jika mereka mau take ulang dan take ulang lagi sampai latar di belakangnya lebih ‘hidup’, memperlihatkan aksi atlet wakeboard dan bukan hanya air diam saja.

Masukan lain, yakni minimnya CG (chargen/character generator) yang menjelaskan isi narasi dan wawancara dalam paket ini. Baik sekali mereka menampilkan pertanyaan dalam teks khusus yang ditampilkan sekilas sebagai ‘tanya-jawab’, namun jangan lupa CG nya juga. CG juga penting untuk menjelaskan bagi pemirsa tentang identitas narasumber dan apa yang dikatakannya. Hanya disebut sekali, pemirsa tak mengerti jelas siapa nama atlet asal Prodi Public Relations UMN yang memperkuat kontingen Jawa Timur ini.

Tentu tak semua orang bisa memutar ulang tayangan ulang video ini, lalu memasang telinga tajam-tajam dan meminta bantuan ‘Mbah Google’ untuk tahu nama atlet itu ialah Aviriano ‘Ano’ Aussie Irshadi.  Selain CG, perlu juga membuat grafis barang beberapa detik, satu lembar layar pun cukup,  untuk menjelaskan data diri Ano secara lengkap.

Last but not least, tentu saja liputan PON ini kurang lengkap karena hanya menyertakan aksi pemanasan Ano. Seandainya mereka bisa ekstend, tentu dengan riset dan perencanaan kuat, lalu memotret situasi lomba yang tentu ‘hype’-nya berbeda dengan saat latihan. Dan, laporan itu akan lengkap karena akhirnya Ano memperoleh medali perunggu untuk nomor wakeboard beregu bersama tiga rekannya. Prestasi Ano sedikit turun karena pada PON Riau 2012 ia membawa pulang 1 medali perak dan perunggu untuk Jawa Timur.

Perjuangan peliputan

Adrian Permana Putra, penulis naskah, berkisah, mendapat pilihan liputan feature Sport, mereka bergegas memilih tema PON Jawa Barat. “Kami sempat mengganti angle, tadinya kami ingin mengangkat topik aplikasi PON, menjadi profil mahasiswa UMN yang juga adalah atlet wakeboard  yang mewakili kontingen  Jawa Timur,” paparnya.

Akmal Azadine, juru kamera sekaligus, berpendapat bahwa liputan feature, ide tidak boleh habis ketika kita dipatok oleh durasi yg singkat. “Tetap semangat dan kerja keras,” ungkapnya.

Bagas Rahadian, juga juru kamera, memaparkan, awalnya mereka berniat mengambil momen pembukaan PON di Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gedebage. “Namun, kami tiba terlalu sore sehingga kondisi sekitar sudah mulai gelap, ditambah penerangan di sana sangat minim. Akhirnya kami tidak mendapatkan gambar yang kami inginkan,” paparnya.

Esok harinya, mereka menjalankan ‘Plan B’ menuju Kota Baru Parahyangan, Padalarang untuk meliput sesi latihan wakeboard di kawasan Danau Saguling. “Di sana, keadaan sangat sesuai dengan yang kami harapkan. Cuaca terbilang cerah. Saya sebagai campers langsung mengambil beberapa gambar mumpung kondisi sedang bagus,” uraimnya.

Saat itu, Bagas menemui kendala lain, karena tak berpengalaman mengambil video olah raga yang pergerakannya relatif cepat. “Saya jadi bingung bagaimana harus menangkap momennya. Akhirnya gambar yang saya dapatkan banyak yang terlihat seperti berkejar-kejaran dengan pergerakan para atlet dan banyak pula yang berguncang atau shaky,” ungkapnya.

Gregorius Aryodamar, koordinator riset berkisah, awalnya banyak topik menarik akan mereka angkat. Mulai dari pemukiman warga yang dipakai sebagai tempat atlet menginap, Bandung Great Sale dalam rangka PON, aplikasi PON pertama kali, olahraga-olahraga yang tidak biasa dalam PON, dan lain-lain.  “Setelah gagal ambil gambar memadai saat Pembukaan PON, kami beralih ke olahraga yang tak biasa dan profil atletnya,” papar Aryo.

Rebeca Joy Limardjo, sang reporter stand-upper bercerita, keputusan menginap dan pindah ke Plan B di Padalarang baru diputuskan pukul tujuh malam itu. “Beberapa kendala tak bisa kami atasi, seperti lingkungan di luar stadion yang sangat gelap sehingga tidak memungkinkan kami untuk melakukan LOT, dan kami tidak berhasil masuk ke dalam stadion karena tidak memiliki undangan,” jelasnya. Akhirnya, keputusan cepat pun diambil, dan jadilah karya ini.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s