Karena Setiap Anak Punya Cerita

Karya jurnalistik soal anak, apakah itu tulisan, foto dan apalagi video, selalu memberikan sentuhan humanis lebih tinggi.   

Mengerjakan Ujian Tengah Semester mata kuliah Feature Media Siar, enam mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini memilih topik ‘Serpong Run’ di antara beberapa pilihan tugas ‘Feature Sport’. Lebih khusus lagi, Andres Forbet, Chiedryan Chierdidy, Elizabeth Chrisandra, Putri Amalia, Regina Devie, dan Vincensius Yoga mengangkat tema ‘Kid Dash’, alias keikutsertaan pelari cilik dalam even olahraga rakyat ini.

Opening paket video berdurasi 3 menit 52 detik ini menghadirkan greget tersendiri saat aba-aba lomba lari di Serpong itu diserukan. Masuk ke angle nomor lari anak, mereka menyajikan gambar pemanasan, tentu dengan gaya anak-anak yang menggemaskan, sebelum memulai lomba dengan centil. “Are you, readyyyy…?”

Bicara kekurangan, tentu saja pada riset. Seandainya, mereka bisa melakukan observasi terlebih dahulu, kelompok ini bisa mengikuti seorang anak dari rumah, dan memotret keseharian sang anak. Apakah dia memang biasa berolahraga, atau hanya untuk mengisi akhir pekan kali ini saja. Seandainya tak punya akses atau koneksi peserta yang bisa diprofilkan pada hari sebelum lomba, coba datanglah lebih pagi, lalu ‘berburulah’ lebih awal, mengambil satu profil pelari cilik secara lebih khusus.

Dengan hanya mewawancarai anak dan orangtua secara lomba, mereka terkesan terburu-buru, ala kadarnya, dan kurang fokus. O ya, satu lagi, penulisan nama narasumber sebaiknya jangan satu kata, jangan hanya Fanny, atau Hellen saja. Identitas lebih lengkap membuat liputanmu terasa lebih otentik.

PTC atau on-cam Eliz sudah bagus. Begitupula kegesitan tim pasca-produksi yang menyunting gambar ‘gangguan’ orang lewat saat reporter melaporkan di sela-sela latar pelari cilik yang, timmingnya begitu pas, amat menarik lewat di sampingnya.

Inisiatif mewawancarai peserta ‘foreigner’ patut diacungi jempol. Inisiatif yang baik harusnya diikuti dengan kepercayaan diri yang tinggi pula. Jangan ragu melakukan persiapan wawancara sebelumnya. Bicaralah di luar rekaman kepada calon narasumber, nanti akan bertanya apa saja. Toh, masih cukup waktu, kan.. Dengan ‘intro’ dan persiapan seperti itu, narasumber tak akan menjawab sependek, “Country’s lifestyle” seperti jawaban di video ini.

Ayo, tingkatkan percaya diri sebagai jurnalis!

Cerita tim peliput

Vincensius Yoga, juru kamera dan editor, mengungkapkan kendala saat meliput lomba lari ini yakni sulitnya mencari spot karena terlalu ramainya penonton. “Banyak orangtua juga ingin merekam anaknya berlari. Atau, saat sdah dapat titik yang bagus untuk live report, ada orang lewat begitu saja di depan kamera. Padahal, saat itu latar gambar anak-anak berlarinya bagus bener,” kisahnya. Yoga pun memutuskan ‘menempelkan’ footage lari tadi sebagai insert di sela-sela piece to camera­-nya Elizabeth.

Soal ini, juru kamera Chiedryan Chierdidy juga sempat curhat tentang kesulitan mencari gambar yang bagus dari balik pagar dengan kamera terbatas. “Untungnya, saya bisa melakukan teknik zoom, meski tentu belum sebaik kalau menggunakan tele,” katanya.

Regina Devie berperan sebagai penulis naskah dan juga berperan mengambil gambar. Sebagai camera person, Devie mengumpulkan footage saat para pelari cilik melakukan oemanasan, lari, dan setelah lomba selesai. “Kami saling back-up dalam pencarian footage. Kami berdikusi, dan menyusunnya bersama,” urai Devie.

Andres Forbet, juru kamera lain, mendapat pelajaran berarti, saat mengambil gambar saat liputan. “Dari hari itu saya belajar betapa pentingnya charge baterai kamera sebelum liputan. Untung ada temen kelompok yang punya backup-an,” kenangnya. Betapa persiapan teknis tak bisa diremehkan!

Putri Amalia yang berperan mengisi suara (VO) merasa liputan ini menyenangkan walaupun harus berada di bawah teriknya matahari. “Dalam take VO memang tidak mudah, intonasi suara saya kadang tidak pas dan harus melakukan take beberapa kali hingga akhirnya berhasil,” kisahnya.

Sebagai reporter on-cam, Elizabeth Chrisandra mengungkapkan, tantangan terbesar karena belum terbiasa saya canggung berada di depan kamera. Apalagi saat itu mengambil gambar dengan latar belakang anak anak yang sedang berlari. “Saya sadar, live report itu tidak bisa dilakukan berulang-ulang, sehingga saya harus benar-benar melakukannya dengan baik meskipun akhirnya tetap juga melakukan beberapa kesalahan. Saya merasa masih perlu belajar dalam live report lebih dalam lagi,” paparnya.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s