Membandingkan Stadion Wibawa Mukti dengan Amazonia

Feature mereka mengangkat potret Stadion Wibawa Mukti Cikarang, Bekasi, yang dikhawatirkan menjadi ‘monumen’ pasca perhelatan PON.

Setiap digelar Pekan Olahraga Nasional kerap dibangun sebuah stadion baru. Tapi, apakah setelah PON kelar, stadion baru itu juga akan tetap ‘hidup’ atau terbengkalai? Stadion baru yang dibangun sebagai prasarana PON yang digelar di luar Jakarta yakni Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya, PON 2000), Jakabaring (Palembang, PON 2004), Palaran (Samarinda, PON 2008) dan Stadion Utama Riau (Pekanbaru, PON 2012). Mayoritas stadion itu terbengkalai, kecuali Jakabaring yang rutin dipakai perhelatan olahraga Internasional maupun kandang tim Sriwijaya FC di Liga Indonesia.

Di PON Jawa Barat 2016, beberapa stadion anyar disiapkan di Cikarang, Bekasi, dan Cibinong. Tim liputan mahasiswa kelas Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini memotret dua venues di antaranya, yakni Stadion Wibawa Mukti Cikarang, dan Stadion Patriot Candrabaga, Bekasi.

Karya feature berdurasi 3 menit 27 detik garapan lima jurnalis muda ini – Amanda Faras, Adrianus Saerong, Rizky Hidayat, Handita Fajaresta, dan Citra Asih ini cukup ekselen untuk kategori karya mahasiswa. Ide dan ‘lead’ mereka oke punya. Antara lain membandingkan Stadion Cikarang dengan Stadion Amazonia di Manaus Brasil, yang awalnya lahan parkir bus namun ‘disulap’ sebagai tuan rumah Piala Dunia maupun Olimpiade. Angle mereka jelas: akankah nasib Wibawa Mukti setara dengan Amazonia atau stadion-stadion eks tuan rumah PON di Indonesia?

Kalaupun ada kekurangan, pada teknis pengambilan dan penyajian gambar. Percaya dirilah mengatur narasumber saat on-cam. Jangan sampai terlihat menjadi ‘gambar wayang’ atau menampilkan narasumber hanya separuh wajah. Selain itu, untuk footage, kalau bisa memakai karya sendiri, jangan terlalu banyak ‘menyedot’ visual milik orang lain, kecuali visual pinjaman itu benar-benar dahsyat, misalnya tampilan drone dan lain-lain. Beberapa scene dari footage Galamedia yang mereka pakai cenderung ‘biasa’. Tak jelas juga, apakah tampilan gambar penutup yang ada atraksi tarian di Stadion Cikarang itu karya sendiri atau bukan.

Kesan liputan

Adrianus Saerong, reporter dan pengisi narator mengakui, karya mereka mungkin tidak sempurna, tapi mereka puas saat bicara proses. “Lima anggota yang awalnya asing satu sama lain bisa menyatukan ide dan keringat demi kepentingan bersama,” paparnya. Mereka melakukan dua kali liputan, karena hasil dari perjalanan pertama ternyata tak sesuai harapan.

Amanda Faras Nabila, reporter on-cam, menyatakan, liputan mereka yang pertama gagal karena kelalaian teknis. “Namun, kami berusaha memperbaiki dan mencari topik pembahasan yang akan kita liput berikutnya,” kisahnya. Berdiskusi saling menumpahkan ide masing-masing dan dipilih yang paling terbaik. semua bekerja berdasarkan kapasitasnya tapi tidak menutup kemungkinan untuk saling membantu karena untuk memperbaiki dan mengintrospeksi liputan yang pertama.

Juru kamera Rizky Hidayat awalnya juga ‘asing’ dengan anggota kelompok ini. “Baru kali ini saya sekelompok dan pertama kali saya satu kelas dengan mereka. Dari pengumpulan ide hingga pelaksanaan liputan bersama kami lelah, senang bersama walaupun kami harus melakukan liputan dua kali tidak menyurutkan semangat kami,” paparnya.

Handita Fajaresta, juga juru kamera, berkisah, mereka telah berlelah pergi ke Bandung meliput pembukaan PON di Gedebage. “Namun, karena hasilnya kurang memadai, kami menggantinya dengan harapan mendapat hasil yang memuaskan,” urainya. Handita menyatakan, banyak hal yang didapatkannya, terutama menjadi camera-person event olahraga yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Angesti Citra Asih sebagai editor memetik hikmah dari liputan awal mereka yang kurang memenuhi syarat karena buruknya pencahayaan. “Segala sesuatu dipelajari melalui kegagalan, baik itu kegagalan kita sendiri, maupun orang lain. Untuk kelompok ini, kita belajar dari kegagalan kita sendiri,” paparnya.

Ia menekankan, inti dari kerja kelompok adalah dapat ‘klik’ bersama. “Karena dengan adanya ‘klik; tersebut maka sisanya hanyalah usaha dan proses yang harus dilewati demi mencapai tujuan,” jelasnya.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s