Feature Sport: Dania, Si Pelari Cilik

Maksud hati, kelompok ini mengambil angle yang berbeda dari perhelatan ‘Serpong Run’, tapi ada beberapa masalah mendasar dari karya feature yang mereka hasilkan.

Dalam bagian Ujian Tengah Semester mata kuliah Feature Media Siar, enam mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini memilih topik ‘Serpong Run’ di antara beberapa pilihan tugas ‘Feature Sport’. Lebih khusus lagi, Yovi Syarifa, Ajeng Sekar Rini, Putri Diana Fauziah, Riani Angel Agustine, Muhammad Abidzar Ghifari, dan Mia Chiara Ecklesia mengangkat keikutsertaan pelari cilik dalam even olahraga rakyat ini.

Secara lebih spesifik lagi, dan begitulah memang seharusnya, mereka mengambil ‘personalisasi’ atau ‘human sample’ dari topik itu. Maka, diangkatkan Dania, bocah yang –menurut wawancara dengan ayahnya- gemar berlari sejak usia 1 tahun 7 bulan.

Sesuai kaidah jurnalistik televisi ideal tadi (tentukan tema khusus, lalu ambil angle lebih ‘sempit’ lagi), karya para mahasiswa ini memenuhi standar ideal. Namun, melihat paket jadi yang berdurasi 2 menit 45 detik ini, tampak ada kelemahan mendasar, yakni kurangnya riset yang kuat.

Seandainya mereka melakukan riset sejak awal, misalnya menghubungi panitia dan googling internet, maka gambar-gambar Dania bisa lebih utuh. Bisa diikuti dari rumah, atau sejak awal Dania menginjakkan lokasi di arena lomba. Tanpa riset, jadinya sangat minim visual. Sebuah profil pelari, tanpa ada visual pelarinya sedang berlari.

Piece to camera (PTC) atau on-cam Mia Chiara menghidupkan paket ini, meski lebih baik jika ia mengambil lokasi stand-up nya tak jauh dari suasana lomba yang bisa dijadikan latar belakang penampilannya.

Kesan peliputan

Yovi Syarifa, bertugas sebagai cameraperson, bercerita, saat datang ke Serpong Run pada 5.30 pagi, mereka belum menentukan angle peliputan. “Padahal, membuat sudut pandang atau angle adalah hal utama dalam liputan dengan handheld kamera. Beradaptasi dengan sikon juga ternyata sangat penting, karena terkadang banyak situasi yang tidak pernah kami duga sebelumnya,” katanya.

Kesannya menjadi juru kamera cukup sulit dalam mengambil beberapa gambar yang dipandang penting karena tidak adanya arahan. “Saya sadar bahwa seorang kamera person harus memiliki inisiatif tinggi dalam setiap pengambilan gambar dan seminimal mungkin tidak ada kesalahan dalam pengambilan gambar,” papar Yovi.

Ajeng Sekar Rini, field producer, dalam tim ini mengungkapkan, awalnya mereka kesulitan mencari narasumber untuk dijadikan Sound On Tape (SOT). Akhirnya, mereka menemukan dua narasumber, yakni, pelari wanita umur 13 tahun yang mengikuti lomba 10K, dan Dania berusia 5 tahun, namun sudah sering ikut lomba lari. “Kesan yang menarik adalah saat melihat keceriaan anak-anak kecil dalam mengikuti lomba, melihat keaktifan anak-anak kecil yang semangat bangun pagi untuk mengikuti lomba Serpong Run ini.” kenangnya.

Riani Angel Agustine, sebagai editor dan juru kamera menjelaskan kendala liputan ini karena kurangnya kamera dan tripod yang dibawa. “Jadi, stok gambar kami hanya dapat sedikit dikarenakan hanya menggunakan satu tripod,” ungkapnya.

Sementara Mia Chiara Ecklesia sebagai reporter, mengaku sangat kesulitan saat oncam. “Saya merasakan itu karena saat take, tidak cukup sekali namun berulang-ulang. Saya mengerti bahwa saya harus bisa fokus, tapi tidak tahu kenapa saya tidak bisa fokus saat on-cam,” kisahnya.

Well, pengalaman berharga tentunya…

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s