Feature Profil, ‘Jualan’ Gambar Cantik

Kali ini, mahasiswa UMN mengambil angle liputan ringan tentang sosok skateboarder muda yang sedang naik daun dan berjaya di pentas TAFISA 2016.

Mahasiswa peserta mata kuliah ‘Feature Media Siar’ Universitas Multimedia Nusantara mendapat beberapa pilihan untk mengerjakan tugas Ujian Tengah Semester bertema ‘feature’ sport untuk paket berita televisi. Mereka boleh meliput ‘Serpong Run’, PON, atau TAFISA, perhelatan internasional olahraga tradisional atau olahraga rekreasi.

TAFISA 2016, menjadi angle yang dipilih enam orang dalam tim ini: Ricky Dermawan,  Anandita Getar Rezha, Bernardin Mario, Dio Djohar, Daffa Syahnabil, dan Lucky Pratama. Berangkat ke Taman Impian Jaya Ancol, mereka sepakat mengangkat profil Sanggoe Dharma Tanjung, atlet skateboard Indonesia asal Denpasar, yang tengah menanjak prestasinya akhir-akhir ini.

Sebagai feature menampilkan olahraga ‘ekstrem’, karya mereka cukup ciamik. Tak banyak narasi, kelompok ini ‘menjual’ gambar-gambar cantik alias beauty shots aksi Sanggoe saat beraksi. Musik latar yang menjadi pengiring pun disertakan untuk menunjang keasyikan mata menikmati gerakan-gerakan ‘gokil’ para pegiat olahraga papan luncur ini.

Kalaupun ada masukan, lebih kepada detail teknis. Misalnya, pada sekitar detik 0:44, mengapa mengambil gambar Sanggoe dari atas ke bawah, tidak sebaliknya? Selain itu, kelompok ini melupakan elemen penting yang harus ada sebagai kriteria paket yang ditugaskan: piece to camera. Feature berisi profil memang tak harus menampilkan wajah reporter, tapi khusus dalam tugas ini, menampilkan wajah salah seorang anggota tim adalah kewajiban.

Masukan lain, seharusnya mereka bisa melengkapi dengan grafis tentang siapa itu Sanggoe Dharma. Bahan bisa cari di internet –banyak berita tentang Sanggoe terutama pasca kemenangannya di Paris- atau bisa juga menyodorkan secarik kertas agar Sanggoe menuliskan data dirinya: nama, tanggal lahir, pendidikan, prestasi, hobi, dan lain-lain. Setelah data terkumpul, buatah dalam grafis sebagai pelengkap paket.

Cerita liputan

Anandita Getar Rezha menyatakan, liputan di Ancol di terik matahari menyengat membuatnya panas, lapar, haus, dan capek. “Tapi, semua pengorbanan itu  tertutup rasa senang karena pertama kali nonton extreme secara games langsung,” kata juru kamera ini.

Rezha berterus-terang ia kekurangan ide atau konsep saat liputan di lokasi. “Awal-awla liputan, kami sempat kebingungan,” kisahnya. Mereka lalu berkumpul lakukan ‘brainstorming’, mengamati stok visual yang diambil, serta mengembangkan ide apalagi yang mungkin diambil.

Dio Djohar juga menyatakan, meliputTAFISA 2016, khusunya di cabang extreme sport, merupakan sebuah kebanggan tersendiri karena bisa mengabadaikan momen empat tahun sekali. Juga sebagai cameraperson, Dio memaparkan minimnya peralatan sebagai kendala peliputan. “Tak adanya monopod membuat gambar yang diambil sedikit goyang,” kenangnya. Pria asal Bandung ini pun mengatasi masalah dengan mengikatkan tali yang menempel pada kamera di kepalanya lalu mendorongnya ke depan agar mengurangi getaran dalam dirinya.

Ricky Dermawan mengaminkan peliputan TAFISA sebagai pengalaman seru dan menyenangkan. “Saya ikut mengambil gambar di suasana terik. Tak lupa, sebelum turun lapangan, kami kuatkan riset dari internet,” paparnya.

Bernardin Mario yang berperan sebagai penulis naskah dan editor pun senang juga bisa melihat banyak skateboarder profesional dan akhirnya bisa mewawancarai skateboarder muda berbakat asal Bali, Sanggoe Dharma yang menjadi atlet muda nan tenar hari-hari itu.

Daffa Syahnabil, juru kamera, dan editor, senada menyatakan bahwa meliput TAFISA 2016 merupakan sebuah pengalaman yang cukup menjadi pelajaran dalam menempuh perkuliahan jurnalistik. Berada di medan yang tidak biasa dan merupakan acara empat tahun sekali membuatnya tertantang melakukan liputan even besar. “Senang bisa bertemu langsung dengan skateboarder muda, Sanggoe ‘Golden Boy’ Dharma,” ungkapnya.

Lucky Pratama, juga sebagai juru kamera, bercerita tugasnya sebagai juru kamera mengambil stock-shot yang terjadi di venue skateboard TAFISA. “Situasi amat ramai membuat saya terlalu sedikit mendapat gambar dengan spot yang bagus,” sesalnya. Namun, walaupun terhalang panas dan capek, Lucky tetap bangga karena bisa meliput lomba extreme sport yang ada di TAFISA 2016 dengan gambar-gambar menawan yang dihasilkan.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s