Potret Shutlle Bus, Sisi Lain PON

Jauh-jauh datang ke Bandung, para mahasiswa ini menemukan angle peliputan yang berbeda dari pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Mencari ide untuk liputan ringan sebagai bagian dari Ujian Tengah Semester mata kuliah Feature Media Siar Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Sullivan Surya, Michelle Tania, Petrus Aditya, Yosia Eklesia dan  Anggie Rahmadiani pun meluncur ke ‘Paris van Java’. Dari tiga opsi liputan feature sport, mereka akhirnya sepakat memilih tema PON XIX Jawa Barat. Apa angle lebih spesifiknya? Nah, itu yang masih dipikirkan.

Di Bandung, tim ini menemukan fenomena bus Damri, yang disiapkan panitia pelaksana PON sebagai sarana angkutan cuma-cuma bagi warga kota kembang yang ingin menuju venue berbagai cabang olahraga di pesta olahraga empat tahunan ini. Khususnya lagi, bagi warga Bandung yang hendak menonton seremoni pembukaan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, nun jauh di Gede Bage.

Visual pengantar feature berdurasi 2 menit 52 detik ini menunjukkan gambar warga yang tampak ‘bete’ menunggu angkutan. Lalu shot diarahkan ke ‘terminal’ shuttle bus PON di area Mapolda Jabar. Michelle Tania pun mewawancarai pengelola bus Damri di pangkalan Polda untuk menjelaskan eksistensi bus gratis ini.

Masukan untuk paket ini, lagi-lagi, CG yang amat minim menjelaskan naskah dan narasi liputan. Selain itu, untuk penulisan nama, sedapat mungkin carilah informasi nama lengkap narasumber. Kalau bisa, nama narasumber jangan hanya satu kata, kecuali memang namanya sesingkat itu.

Perlu lebih kreatif

Michelle dan tim seharusnya bisa lebih ‘nakal’ dalam mengeksplorasi liputan ini. Bagus inisiatif mereka ikut dalam perjalanan bus. Sayang, gambar-gambar detail di dalam bus yang sedang beroperasi tak diambil secara maksimal.

PTC alias piece to camera-nya pun seharusnya bisa lebih asyik, tak terburu mengarahkan mike ke narasumber dari Damri. Berdirilah dengan santai, menceritakan keberadaan sarana angkutan ini. Dan, mengapa pula tak mencoba on-cam di dalam bus dalam kondisi berjalan? Malu? Aih, bukan itu jawaban bagi seorang jurnalis televisi. Pikirkanlah untuk tampil berbeda, misalnya reporter melompat keluar dari bus lalu langsung ber-PTC menceritakan suasana perjalanan dari kawasan Soekarno-Hatta menuju Gede Bage.

Petrus Adiyta, menjadi pengemudi sekaligus editor liputan ini menceritakan keseruan menjalankan tugas ini. Ia merasa senang, meskipun hasil peliputan tidak sesuai dengan rencana awal. “Senang bisa dapat akses nonton pembukaan PON dengan gratis, dan melihat langsung atlet-atlet idola seperti Susi Susanti, Ade Rai, dan lain-lain,” kisahnya.

Kesan senada disampaikan Sullivan Surya. “Liputannya menarik, bisa dapet tiket nonton pembukaan PON dengan cuma-cuma, serta menyaksikan langsung orang-orang yang sulit di temui seperti atlet, Presiden Jokowi, hingga Gubernur Jawa Barat,” papar pria yang bertindak sebagai juru kamera ini dengan riang.

This entry was posted in campus, journalism, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s