“Kami Buruh Bukan Budak”

Ini contoh karya jurnalistik televisi yang komplet. Ada live, paket, wawancara dan juga grafis. Mari belajar dari kekurangan, bukan hanya kelebihannya.

Sembilan orang dalam kelompok ini -Bunga Dwi, Apriana Nurul, Randeska, Stella Hardy, Bertold Ananda, Elisa Kartika, Diva Maudy, Brigita Eveline, Andina Kamia- mencoba menyajikan karya akhir mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara dengan semaksimal mungkin. Diawali dengan bump in menawan, menonjolkan audio dari natural sound serta footage-footage berisi tuntutan buruh di antaranya poster bertuliskan ‘Stop PHK Massal’ dan ‘Kami Buruh Bukan Budak’.

Masuk ke penampilan duo anchor, Elisa dan Bunga, mereka menampilkan paduan warna gelap sebagai wardrobe (busana) berlatar perpustakaan. Cuman, pada kalimat pertama Bunga, langsung menyita perhatian. Mengapa ya Bunga menyebut, “Tahun ketiga peringatan Hari Buruh Internasional?” Kalau secara global, peringatan hari buruh sedunia diperingati di akhir abad ke-19 atau pada 1887. Di Indonesia, Hari Buruh kembali bebas diperingati sejak lengsernya Orde Baru karena era Soeharto menganggap peringatan hari pekerja identik dengan gerakan aliran kiri (sosialis). Sementara Hari Buruh ditetapkan sebagai hari libur (public holiday) di Indonesia diawali sejak 1 Mei 2015, sebagai warisan tahun terakhir pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Jadi, mengapa menyebut sebagai tahun ketiga, Bunga?

Fokus kelompok ini pada May Day 2016 bertepatan dengan hari libur sudah amat tajam. Visual mereka banyak berkisah tentang Bundaran Hotel Indonesia, yang marak dengan kegiatan olahraga publik, termasuk footage seorang anak membuang sampah di plastik dekat Bundaran Hotel Indonesia.

Masukan lain ada pada tata penulisan CG/character generator nama narasumber. Mewawancarai seorang pejabat polisi mereka menulis CG dalam dua line: Ronald (line pertama) dan Komisaris Polisi (line kedua). Seharusnya, baris pertama ditulis nama panjang Komisaris Polisi Ronal, dan di bawahnya posisi atau jabatannya. Tak sulit mengetahui nama lengkap dan jabatan perwira menengah kepolisian itu. Yang paling akurat, tinggal tanya langsung pada narasumber. Atau, kalau takut ada salah eja atau kesalahan penulisan, minta narasumber menulis di notes kita. Masih tak bawa catatan kecil? Minta dia menulis di gawai/gadgetmu. Kalaupun lupa dan malu ­–which is sifat ini tak boleh dimiliki jurnalis- di era kekinian, tak susah mencari siapa narasumber itu di internet. Nama lengkapnya Komisaris Polisi Ronald Purba menjabat Kapolsek Menteng, yang juga membawahi kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Thamrin, sebagian Sudirman, dan sekitarnya.

Penampilan standupper Eveline oke juga, termasuk gayanya ‘pura-pura’ membenarkan letak telepon genggam sebagai alat bantu dengarnya. Sayang, terlalu singkat live report. Begitu pula Andina, yang live dari depan Gedung DPR dengan membacakan grafis tuntutan buruh. Penampilan gfx mereka sudah keren, karena memang orisinal bikinan sendiri. Input sedikit, perhatikan ejaan yang benar ya. Dalam bahasa Indonesia, tulisan yang benar adalah ‘ratifikasi’ bukan ‘ rativikasi’. Kalaupun sumber awalnya, mungkin selebaran dari buruh salah, kita tentu berhak mengoreksinya, kan?

Pemilihan narasumber M. Zainudin juga bagus, apalagi dia kompeten dan bersemangat menjawab pertanyaan Eveline dengan pertanyaan yang singkat, tapi mengena. Tinggal bagaimana keberanian tim peliputan untuk dengan hormat meminta narasumber seperti ini menanggalkan kacamata hitamnya barang sejenak.

Great job, team!

Kesan peliputan

Sebagai presenter, Bunga Dwi juga turun ke lapangan saat ‘belanja barang’. “Kami bersembilan orang membagi beberapa tim untuk berjaga dan memantau perkembangan di beberapa titik yang akan dilalui para demonstran,” kisahnnya. Dengan melewati beberapa miss communication, mereka toh dapat meliput semua titik unjuk rasa, dari GBK Senayan, Sudirman-Monas sampai kawasan depan DPR.

Bertold, sang juru mudi mobil sekaligus juru kamera, mengambil hikmah lain dari tugas ini. Menurut Bertold, project live di momen besar seperti ini mengasah kepekaan dalam menanggapi suatu peristiwa dengan sigap dan cepat serta teratur tidak asal-asalan. “Keseluruhan saya suka dengan tugas seperti ini, selain bisa melihat bagaimana kondisi di luar sana, serta bagaimana saya bisa belajar menampilkan gambar sebuah berita dengan  baik agar tersampaikan dengan baik,” paparnya.

Apriana, juru kamera lain serta pengisi suara pada paket berita berkata, “Liputan May Day ini menjadi pengalaman baru, saya jadi tahu rasanya menjadi wartawan. Mulai dari datang pagi buta, menunggu lama, mengambil gambar di bawah terik matahari, sampai terpisah dari kelompok sendiri karena banyaknya pendemo.”

Sementara itu, Randeska menyayangkan aksi buruh yang kurang ‘wah’ karena mendapat pembatasan di hari Minggu. “Long march tidak terjadi seperti biasa karena mayday bertepatan dengan Car Free Day,” ungkapnya. Stella dan Diva pun berpikiran serupa. Ekspetasi dengan realitanya jauh berbeda. “Ekspetasinya di tempat demo nya itu ramai penuh para demonstran, tapi realitanya ramai sih tapi tidak penuh banget. Over all sih seru gitu, nambah pengalaman dalam liputan, dan recananya May Day tahun depan mau ke lokasi lagi walaupun sebenarnya tidak ada tugas,” kata Diva.

Elisa sebagai koordinator peliputan juga merasa beruntung bisa turun lapangan dan bertemu dengan wartawan yang dianggapnya sudah ‘senior’. Sementara itu, Andina –reporter di Senayan- mensyukuri tugas sebagai reporter untuk pertama kali,karena sebelumnya selalu berada di balik layar. “Menjadi reporter membuat saya belajar berbagai hal, dari menyesuaikan penampilan di kamera (pakaian, rambut, posisi, stance, dll) juga merasakan mencari dan merangkai suatu pemberitaan,” urainya.

Pengalaman kembali menjadi reporter, saat UTS melakoni posisi serupa dalam liputan Gerhana Matahari, membuat Eveline merasa excited. “Pengalaman kali ini membuat saya banyak belajar, bahwa seorang reporter yang baik harus menguasai medan dan bisa berpikir cepat. Pengalaman berharga yang belum tentu akan terulang lagi,” ungkapnya bangga.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s