Indonesia Lebih Dekat yang Terlalu Singkat

Kemasan berita liputan Hari Buruh dikemas dalam dua live report. Sayang, terlalu singkat.

Lima orang bekerjasama dalam kelompok ini – Nabila Muniva, Bidara Deo Pink, Kevin Handoko, Marcella Ingrid, dan Arnold Agustinus- mengerjakan take home test berupa project liputan May Day mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara.

Segmen mereka, dalam tayangan yang diberi nama Indonesia Lebih Dekat di APTV, diawali dengan opening Bidara Deo menjadi anchor di lokasi outdoor (berlatar kolam renang). Oke, Bidara cukup percaya diri membacakan lead paket dengan tablet di tangannya.

Paket pengantar juga cukup oke, meski masalahnya tak beda dengan yang lain yakni peralihan gambar yang kurang smooth. CG, kualitas narasumber serta natural sound yang ditampilkan cukup memberi warna tersendiri. Masukan ada saat mereka menyebut nama ‘Bapak Kuncoro’ sebagai narasumber keduanya. Aih, mengapa pula pakai dipanggil ‘bapak’ oleh narator PKG nya? Atas nama keseimbangan atau kesejajaran narasumber, baiknya narasumber langsung saja dipanggil nama atau jabatannya.

Menit ketiga, masuk ke toss live dari Deo ke Kevin, Sudah ok sih, tapi sayang, laporan Kevin terlalu pendek dan terkesan kurang ada isinya. Apa yang membuatmu terburu-buru, bro? Padahal, banyak yang bisa dieksploitasi dari kawasan Monumen Nasional, misalnya suasana saat long march buruh terasa berbeda di Car Free Day.

Bergeser ke gerbang Istana Merdeka, Nabila konfiden sekali. Bagus saat ada inisiatif reporter membacakan grafis, dalam hal ini mengenai apa saja tuntutan para buruh dalam aksi May Day 2016. Sudah biasa itu dilakukan di televisi berita beneran saat reporter membacakan grafis yang kemunculannya di-roll dari studio. Yang tidak biasa, mengapa grafis itu muncul setengah-setengah? Seharusnya gfx tampil utuh di layar dan tidak menutup separuh penampilan Nabila seperti ini… Kasihan, euy, wajah reporternya ketimpuk tulisan.

Kesan mendalam tim peliput

Sebagai salah seorang standupper alias reporter on-cam, Nabila bersyukur bisa langsung terjun ke lapangan sebagai liputan pertamanya di mata kuliah televisi. “Mewawancarai orang baru, take berulang-ulang, jalan dari lokasi satu ke lokasi lainnya, ikut berdiri sampai kawan buruh selesai menyampaikan aspirasi, tentunya bukan hal yang mudah,” kisahnya. Namun, bagi Nabila hal itu terbayar dengan pengalaman serta cerita baru, yang ketika hal itu diceritakan kembali, akan membuat mereka tersenyum. Nabila sendiri merasa jingle aksi buruh begitu menancap di kepalanya… “May Day, May Day, marilah kawan mari kita bersama…”

Bidara Deo, sang anchor¸ yang juga turun lapangan awalnya takut terjadi kerusuhan saat meliput aksi Hari Buruh. “Ternyata May Day tidak seperti yang saya bayangkan. Banyak atribut lucu yang mereka kenakan, banyak yel-yel juga, dan bahkan ada orang iseng juga yang ada di sana,” cerita Deo. Ia mencontohkan ada orang iseng membawa kertas yang bukan berisi tuntutan, tetapi malah Pin BBM untuk promote diri mereka.

Kevin, reporter lain yang tampak ‘bermodal’ dengan menggunakan microphone khusus, menekankan pentingnya liputan di lapangan seperti ini untuk menambah ‘jam terbang’ mahasiswa berada di even besar. “Kesan dan liputan May Day sungguh tidak terlupakan. Melihat dan berbaur dengan massa yang begitu banyaknya merupakan pengalaman yang jarang terjadi,” papar Kevin.

Marcella yang berperan sebagai camera person mengingat liputan May Day dengan kesan khusus. “Walaupun saya harus berlari-larian di bawah teriknya matahari, tapi saya senang bisa meliput aksi para buruh. Karena nantinya kejadian ini akan menjadi kisah tersendiri yang akan saa bagian kepada banyak orang di masa mendatang,” jelasnya. Marcella berpesan bagi para peliputa May Day atau aksi massa lain di kesempatan mendatang, agar menggunakan baju tangan panjang dan topi agar kulit tidak terbakar.

Juru kamera lain, Arnold, awalnya juga terbayang bakal ada chaos dalam aksi melibatkan ribuan massa ini. Tapi, saat mulai tune-in bersama para buruh di jalan dan melihat banyak rekannya sesama mahasiswa melakukan tugas serupa, kecemasan itu sirna. “Lama-kelamaan, rasa khawatir akan terjadinya rusuh pun hilang dan saya sangat menikmati proses ‘belanja’ gambar sebagai campers,” katanya. Menurut Arnold, cara mendidik mahasiswa untuk turun ke lokasi langsung seperti ini sangat dibutuhkan, karena mahasiswa bukan hanya membutuhkan teori, tetapi juga praktek.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s