Jangan Remehkan Peralatan saat Proses Produksi

Dalam proses jurnalisme televisi, tiga bagiannya tak terpisahkan dan tak kalah penting. Pra-produksi alias perencanaan, produksi saat peliputan, dan pasca-produksi saat editing dan pengemasan berita.

Mengerjakan tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Jurnalistik Televisi berupa siaran dan liputan Hari Buruh, mereka hanya berempat: Vivi Melyan (anchor), Daniel Cahyadi (reporter), Kelvin Layzuardy (reporter) dan Andreas Fan (reporter). Tatanan yang kelompok ini sebenarnya sudah kuat dan ciamik, sampai kemudian tersadar, ada masalah cukup mengganggu yang kemungkinan besar disebabkan kekurangcermatan pada proses eksekusi liputan maupun editing.

Dengan jumlah kelompok amat minim dan ngotot tak mau merger dengan tim lain, mereka menempatkan Vivi sebagai host tunggal. Penataan ruang siaran yang tak kaku patut diacungi jempol. Juga pembawaan Vivi yang amat lancar membawakan narasi pengantar live, seolah-olah dia membaca prompter di layar. Pemilihan nama programnya juga keren, ‘Sapa UMN’ disertai runningtext alias newsticker yang kontekstual.

Sampai ‘toss’ ke Daniel, ada beberapa masukan. Pertama, karena namanya Daniel Cahyadi, baiknya di CG jangan hanya satu kata. Padahal di awal split reporter dan di bagian akhir live CG namanya ditulis lengkap, tapi ini kembali menunjukkan ‘ketidakkompakan’ dalam proses pasca-produksi.

Kemudian masalah penyebutan nama lokasi. Bagi orang Jakarta mungkin akrab dengan ‘Patung Kuda’, tapi karena (asumsinya) tv ini bersiaran nasional, sebaiknya disebut detail: kawasan Patung Kuda Medan Merdeka Barat, Jakarta. Sementara untuk lokasi titik kumpul akhir para buruh adalah ‘Istana Merdeka’ dan bukan ‘Istana Negara’. Bedanya, Istana Merdeka menghadap ke Jalan Medan Merdeka Utara di Monumen Nasional, sementara Istana Negara ada bersingkuran di belakangnya ke arah Harmoni-Veteran-Juanda.

mayday1Nah, mulai dari reportase Daniel inilah muncul gangguan audio. Pendengar jadi bertanya-tanya, dari mana asal latar suara ‘Kesempurnaan Cinta’ milik anaknya Sule ini? Apakah dari suara mobil pendemo yang begitu kencang menyajikan musik, hingga suara Daniel dan narasumber Lita jadi tenggelam? Sebaiknya memang saat live dipastikan alat berfungsi dengan baik, antara lain dengan di-‘tes’ dan terbukti rekaman masuk sempurna. Jika tidak, jangan segan ‘take’ ulang, termasuk dengan narasumber yang ada sekalipun.

Masuk menit ke 2:50 gangguan suara kembali menjadi. Kali ini bercampur suara dari tim produksi yang ‘bocor’. Di sinilah pentingnya mengontrol alat sebelum tim melakukan live, apalagi jika error-nya nanti ternyata tak bisa diakali di bagian pasca-produksi. Diperparah, saat wawancara berlangsung dengan suara lamat-lamat bercampur ‘Manusia Bodoh’-nya Ada Band, tak ada insert visual yang mendukung. Sebaiknya di sela penjelasan narasumber yang panjang, sertakanlah gambar yang selaras dengan pernyataan itu.

Pada ‘toss’ Kelvin, tampak pas latarnya karena ia on-cam dengan backrground para pengunjukrasa sedang berjoged. Data pasukan pengamanan yang dimilikinya pun terasa amat membantu.

Live Andreas juga oke, karena ia bicara pengamanan dengan blocking berlatar mobil pengamanan. Catatan kecil saja, Car Free Day artinya Hari Bebas Kendaraan, jadi jangan lagi menyebut rangkap ‘Hari Car Free Day’. Masukan lain, saat wawancara narasumber Susatyo dari kepolisian, biasakan menanyakan pangkat lengkapnya. Sebenarnya, dilihat dari lambang dua melati di bajunya kita bisa mengartikan sebagai Ajun Komisaris Besar Polisi. Kalau mau usaha sedikit, di-googling pun bisa: Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Susatyo Purnomo Condro. Lagi-lagi, di antara pernyataan pejabat polisi itu, sebenarnya masih bisa disisipi insert visual.

Kaget soal audio

mayday2Sebenarnya saat proses pasca-produksi mereka sadar akan kendala audio ini. Vivi memaparkan, kendala saat liputan tidak dirasakan ketika di awal, tetapi baru terdeteksi saat akan mengedit video. “Kami baru mengetahui ada kekurangan dari segi suara, karena mikrofon yang kami gunakan tidak maksimal. Kabel mikrofon tersebut kendor sehingga beberapa video tidak ada suara dan suaranya kecil,” jelasnya. Well, proses belanja tak dapat diulang…

Pengambilan video news anchor oleh Vivi Melyan dilakukan di Kompas Corner. “Melihat banyaknya suara yang tidak terdengar dan kecil pada liputan 1 Mei sebelumnya, dalam pengambilan video kali ini kami lebih teliti dalam merekam suara,” papar Andreas.

Pengalaman, mengajarkan kita lebih baik…

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s