Penting, Memilih Visual Selaras dengan Materi Liputan

Kelompok ini menyajikan live demo May Day dari tiga titik: kawasan Monas, Bundaran Hotel Indonesia dan Gelora Bung Karno. Ada beberapa masukan, misalnya  ada visual yang ‘tidak penting muncul’, sementara gambar yang seharusnya ada justru tak nampak.

Mereka bersepuluh bahu-membahu mengerjakan ‘project’ Ujian Akhir Semester mata kuliah Jurnalistik TV Universitas Multimedia Nusantara berupa satu segmen berita termasuk liputan live dari aksi May Day 2016. Ristania Tiara, Kevin, Abidzar Ghifary, Hafiz Raka Wibisono, Daffa Syahnabil, Shela, Buko Vinaring, Rahma Amelia, Bagus Fauzi, dan Rizka Apriyani bertekad mengulang sukses liputan Gerhana Matahari Total saat UTS, yang kala itu dikerjakan dalam dua tim berbeda.

Ada beberapa masukan, pujian dan kritik, pada segmen berdurasi 8 menit 27 detik ini. Diawali dari opening host tunggal mereka. Apresiasi ada pada blocking atau pemilihan lokasi yang diambil. Bagus, terlihat background tulisan UMN di belakangnya. Tapi, sebenarnya siapa sih nama anchor ini? Baik di awal maupun akhir, terdengar nama ‘Rizka Apriliani’, sementara di CG tertulis ‘Rizka Apriyani’ dan di absensi akademik maupun credit title akhir terbaca ‘Rizka Apriani’. Sebenarnya, tak ada masalah jika anchor atau reporter tidak menggunakan nama asli sebagaimana ejaan resminya. Namun, nama yang dipakai itu harus konsisten sama, baik yang diucapkan maupun yang tertulis.

Pada live Shela, terlihat monoton karena kita terus-menerus disajikan wajah Shela dan backgrounnya. Alangkah baiknya jilka di sela Shela menyampaikan narasi livenya, terputar insert pendukung terkait aksi buruh maupun grafis mengenai tuntutan buruh yang juga dibacakannya. Beberapa orang yang familiar dengan lokasi tempat Shela berdiri mungkin paham ia ada di sekitar Istana Merdeka, tapi bagi pemirsa dari luar kota maupun yang jarang tahu kawasan itu, bisa jadi tak tahu lokasinya. Inilah pentingnya ada CG locator, yang menunjukkan di mana lokasi Shela berada. Input lain, tentu karena suara Shela nyaris tenggelam oleh backsound/natural sound suasana demo yang amat dominan.

Masuk ke live Buko. Sayang, Buko kurang membangun komunikasi dengan baik karena tak menyapa nama anchor. Saat bicara tentang parkir yang digunakan selama aksi demo, juga tak ada visual penting terkait materi itu. Pujian patut diberikan karena Buko dan tim berhasil mendapatkan narasumber A1, yakni Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Kombes Risyapudin Nursin. Di sela-sela penjelasan Pak Dirlantas, baiknya disertakan grafis terkait pengalihan arus, atau at least footage terkait keriuhan kendaraan di sekitar Sudirman-Thamrin. O ya, next kalau tak tahu nama lengkap narasumber yang orang terkenal, jangan ragu bertanya, atau coba googling ya. Gampang, kok.

Masuk dalam paket berita, bagus saat mereka mencoba memberi grafis terkait perkembangan upah buruh di beberapa provinsi pada dua tahun terakhir. Sayang, saat dipelototi, kok grafisnya melenceng jauh, terutama pada paparan 2016? Seharusnya menunjuk di sekitar angka tiga jutaan, tapi garis di grafis mengarah ke sekitar lima juta. Fatal, dong…

Saat live di GBK, Raka dan tim sudah benar melakukannya. Tanpa insert, kamera dipanning ke arah panggung (ditambah belanjaan gambar khusus soal penampilan Gigi), sehingga suasana live dari sudut berbeda pun nampak. Di luar itu, pada coba perhatikan baik-baik pilihan kata yang dipakai. Apa benar aksi teatrikal itu sebaiknya menggunakan kata ‘diorama’? Diorama itu kan semacam miniatur atau cerita berbentuk semacam patung-patung kecil di dalam museum? Mungkin maksudnya menggunakan kata ‘teatrikal’ ya. Selain itu, perhatikan pengucapan kata yang benar dalam bahasa Indonesia. Coba mana spelling yang benar: ne-go-siasi atau ne-go-isasi? Satu lagi, saat menyebut nama Basuki Tjahaja Purnama, jangan lupa menyebut nama jabatannya. Basuki tak mungkin mengeluarkan larangan aksi di Thamrin, kalau dia bukan Gubernur Jakarta.

Kritik terakhir ada pada gambar seorang yang beraksi solo meminta sumbangan agar dia bisa berangkat ke Sumatera Utara dan mengentikan erupsi Gunung Sinabung? Apa-apaan ini? Sebaiknya pilihlah visual yang relevan. Daripada mennempelkan gambar pendemo yang berhasrat pergi ke Karo itu, mengapa tak menyertakan visual negosiasi antara pendemo dan polisi yang mencoba menghalangi aksi teatrikal May Day di kawasan Bundaran HI?

Catatan teknis peliputan

Berperan sebagai produser, Ristania Tiara mengakui, bekerja-sama dengan sembilan orang lain tidak semudah ketika ia bertugas dengan teman-teman seangkatannya pada tugas UTS. “Bersama kelompok sebelumnya, kawan-kawan karib yang jumlahnya lebih sedikit, sudah saya ketahui watak serta kepribadiannya. Kini, dengan beberpa anggota baru, saya harus menyesuaikan diri agar pengerjaan tugas ini dapat berjalan secara optimal,” ungkapnya.

Adapun juru kamera Abidzar mengeluhkan ada kendala teknis pada peralatan. “Kami mengalami kesulitan dalam persiapan alat, microphone jenis shotgun yang kami gunakan di liputan sebelumnya ternyata rusak dan tidak bisa digunakan,” paparnya. Dengan sangat terpaksa mereka menggunakan peralatan seadanya seperti handphone dan earphone untuk membantu dalam merekam audio”.

Hafiz Raka, reporter di GBK, merasa, meliput langsung sebuah event besar seperti May Day memberinya impresi tersendiri. “Karena dalam kuliah ini saya dapat pelajaran yang berharga mengenai kesusahan dan keasyikan dalam liputan yang sesungguhnya, terlebih saat dihadapkan pada ribuan massa di lapangan, yang tentunya sangat sulit untuk membawakan berita karena banyaknya gangguan,” katanya.

Standupper lain, Shela, menyatakan liputan ini memberi nuansa berbeda dibandingkan liputan gerhana saat UTS. “Sangat melelahkan dibandingkan liputan gerhana matahari kemarin, tapi saya sangat senang menjalani tugas yang diberikan para dosen, sehingga menjadikan saya lebih banyak belajar lagi dalam melakukan pekerjaan seorang jurnalis, terutama sebagai reporter,” urainya.

Buko, asisten produser merangkap reporter, mengungkapkan syukurnya bisa mewawancarai Dirlantas Polda Metro Jaya. Meski saat live ada kendala karena kondisi sekitar yang berisik dan suasana yang sangat ramai, baik suara aksi maupun obrolan para polisi. “Bahagianya, di setiap liputan kami selalu dimudahkan untuk mendaptkan temat parkir dan narasumber yang kredibel,” katanya.

Rizka memaparkan, momen saat dirinya mengambil gambar di antara buruh dan massa menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan samanya.  “Hal yang lebih membanggakan lagi, ketika saya mengambil video atau gambar mereka, banyak dari para buruh meminta saya untuk mengarahkan kamera saya pada mereka untuk memperlihatkan atribut mereka ataupun kostum yang mereka gunakan,” kenangnya. Saat itulah ia merasa ada pride tersendiri menjadi jurnalis.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s