Liputan Terfokus pada Angle Buruh Migran Perempuan

Angle yang mereka pilih mengerucut, bagaimana perjuangan buruh migran –khususnya perempuan- masih jauh dari pemenuhan harapan.

Sebagai sebuah karya jurnalistik kelas mahasiswa, garapan Riani Angel, Mia Chiara, Irwin Syahputra, Elma Adisya, Padrepio Bailey Van Gaguk sudah bagus. Pilihan angle liputan amat terfokus pada isu tertentu: perjuangan buruh migran perempuan.

Diawali dengan opening duo host Mia serta Irwin, perpaduan wardrobe mereka menunjukkan persiapan matang untuk on-air. Namun, mungkin bisa diperdebatkan ya, rasanya pilihan blocking alias lokasi syuting bisa lebih baik lagi daripada berlatar lorong dan pohon indoor seperti itu. Baiknya dipastikan saja, jika outdoor sekalian di taman. Jika di dalam, ya di studio atau newsroom.

Di balik layar. Pelajaran penting dari lapangan.

Di balik layar. Pelajaran penting dari lapangan.

Masukan juga ada pada beberapa typo CG. Baik untuk masalah ejaan (seharusnya huruf besar di tiap awal kata) maupun salah tulis seperti, ‘Nasip Buruh Migran Perempuan Mengalami Kesuliatan’. O ya, penulisan ‘Sejahtera’ tak usah diakhiri huruf ‘h’ jadi ‘Sejahterah’ ya. Selain itu, mengapa ya gambar di Youtube ini agak kurang terang. Apakah source aslinya demikian, ataukah masalah resolusi dan pengunggahannya…

Masuk ke sesi live di program ‘Multimedia News’, gaya Elma oke juga. Saat diantarkan toss live oleh Mia, Elma hadir dalam ‘plasma live’, bukan foto seperti kelompok sebelumnya. Ada pula gayanya celingukan dan seolah suara kurang jelas di telinga, meski seharusnya sih standby dalam posisi stabil saja. Sayang, live Elma terlalu cepat dan tanpa wawancara narasumber.

Beralih ke topik komunitas pendemo lain, pekerja RS Islam Jakarta. Pesannya sampai, meski ada slip of tongue pembaca VO di PKG saat menyebut ‘tuntutan’ sebagai ‘tuntunan’. Selain itu, sebisa mungkin nama narasumber sebaiknya minimal dua kata, jangan hanya ‘Idris’ saja.

Karena massa buruh terpecah, kelompok ini punya Riani di titik lain, yakni Silang Monas. Penampilan Riani juga cukup ‘firm’. Masukan saja, lebih sedap jika di sela-sela Riani menyampaikan live reportnya bisa diselingi insert yang sesuai dengan pernyataannya. Overall, dengan segala kekurangan di sana-sini, kerjasama mereka berlima menjadikan sebuah karya jurnalistik yang enak dilihat dan tegas menyampaikan pesannya.

Otokritik tim peliput

Bersiap take live. Perlu ketenangan dan persiapan penuh.

Bersiap take live. Perlu ketenangan dan persiapan penuh.

Ada catatan menarik disampaikan Elma dalam kesannya terjun kali pertama di even May Day. Datang sejak pukul tujuh pagi, kelompoknya bertemu seorang profesor perempuan dari Jepang, yang tengah melakukan observasi  terhadap kehidupan  buruh migran  yang saat itu juga sedang berdemo di aksi May Day. Sayang, pertemuan dengan akademisi mancanegara ini hanya ada di catatan saja, dan tidak muncul di layar, yang tentunya memberi nilai tambah kalau periset buruh itu diprofilkan atau diwawancara secara khusus. Why not, Elma?

Momen demo tahunan terbesar. Laboratorium nyata.

Momen demo tahunan terbesar. Laboratorium nyata.

Riani yang menjadi reporter sekaligus penanggungjawab editing juga punya kisah unik. Berbagai kendala mereka temui, mulai dari masalah internal sebelum peliputan mayday, pemilihan tema paket, sampai riak-riak kecil dalam kebersamaan kelompok. Mereka membawa peralatan berupa tiga buah kamera, tigatripod, handphone sebagai mic, dan juga earphone. “Kami sempat merasa panik karena kamera utama kami yang digunakan untuk menggambil gambar live dan rekaman wawancara, memiliki suhu yang tinggi. Kami pun harus menutupnya dengan kain yang sedikit dibasahi dengan air, dan menunggu beberapa saat sampai suhu kamera kembali normal,” kenangnya.

Meliput di kerumunan massa. Pengalaman berharga.

Meliput di kerumunan massa. Pengalaman berharga.

Adapun Mia Chiara gembira dengan tugasnya sebagai anchor. Ia suka belajar dengan hal-hal yang baru, dan membuatnya lebih berani lagi tampil depan kamera. “Tugas UTS kemarin saya bertugas menjadi reporter sekarang menjadi news anchor . Hal ini membuat saya banyak belajar di depan kamera untuk lebih relax dan tidak kaku lagi saat berbicara,” papar Mia.

Juru kamera Padre Bailey berkisah, dalam praktek lapangan ini ia merasakan langsung bagaimana serunya pekerjaan seorang jurnalis. “Tanpa mempedulikan hawa panas dan ramainya massa, saya merasakan suatu sensasi yang mendorong saya untuk mengambil footage dari berbagai angle yang menarik,” ungkapnya. Pengambilan gambar yang pas dan sesuai konteks liputan memberi kepuasaan sendiri baginya sebagai salah satu kru dibalik kamera.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s