Karya Tim dalam Jurnalisme Televisi

Project ini sekali lagi menegaskan bahwa produk berita televisi merupakan kerja tim, bukan kerja satu individual tertentu.

Sebagai ujian akhir mata kuliah Jurnalistik Televisi  Universitas Multimedia Nusantara, mereka bertujuh -Rizaldy Febriyansyah, Dio Djohar, Samsul Huda Ibrahim, Catur Dharma, Gusthia Sasky, Jasmine Saputri, dan Reyhan Alfarisi- menunjukkan kualitas karya yang lebih bagus dibandingkan saat mereka terpisah dalam kelompok berbeda pada Ujian Tengah Semester. Tim ini menghasilkan satu segmen komplet tentang Peringatan Hari Buruh, dimulai dengan bumper in Berita Siang, opening duo host, paket pengantar lengkap dengan grafis, sampai liputan live yang tersebar di tiga titik berbeda.

Tapi tentu saja, tulisan ini bukan bermaksud menyajikan pujian setinggi langit bagi karya berdurasi total hampir sembilan menit itu. Seperti komedian sukses Indonesia Tukul Arwana pernah berujar, “Pujian adalah teror dan racun,” maka baiklah kita membedah karya ini secara obyektif tak hanya dari sisi plusnya saja.

Opening duet anchor Berita Siang ini cukup percaya diri. Wardrobe (busana) yang mereka pakai juga berkelas dan relevan untuk program berita level A-B. Tapi, mengapa menyembunyikan nama lengkap Jasmine dan Rizaldy? Alih-alih menulis Jasmine S dan Rizaldy F, mengapa tak menulis nama dengan minimal dua kata sebagai ‘nama beken’ mereka di layar kaca?

Paket pengantar liputan dengan menghentak, diawali dengan atmosfer atau natural sound khas dari aksi buruh 1 Mei. Penataan CG (Character Generator) juga rapi serta mudah dibaca. Sayang, mereka perlu belajar lagi dalam kaidah Bahasa Indonesia yang benar. Untuk penulisan judul –termasuk dalam hal ini CG berita televisi-, biasakan memberikan huruf besar di setiap kata, kecuali pada kata sambung serta ‘di’, ‘ke’, ‘untuk’, ‘bagi’, dan seterusnya. Bagaimanapun, pergantian CG yang cepat dan konsisten di video ini patut dipuji. Grafis yang ditampilkan sebenarnya enak dibaca. Hanya ada catatan kecil, sebaiknya grafis yang dibuat semacam slide pada power point jangan sampai membuat layar terlalu penuh. Termasuk judul, sebaiknya penulisan narasi pada PPT tidak lebih dari enam baris.

Gambar yang ditampilkan pada paket kelompok ini cukup kaya, meski sebenarnya kalau dicermati hanya dari sekitar-sekitar Medan Merdeka Barat. Setelah chit-chat cukup luwes, duo presenter mengajak pemirsa menjumpai tiga reporter langsung dalam tiga split window, yang karena keterbatasan kemampuan awalnya ditampilkan pada gambar diam, hehehe… Lebih bagus sih, kalau saat tiga jendela itu menyajikan gambar ketiga reporter di tiga lokasi bergerak-gerak seperti sedang persiapan live.

Penampilan live Gusthia amat confident, meski tak ada CG saat dia berbicara. Apakah maksudnya agar pemirsa lebih fokus ke spanduk serta tulisan tuntutan para buruh? Sebenarnya, tidak segitunya juga sih. Sekali lagi, tak semua penonton televisi bisa berkonsentrasi menyaksikan dan mendengarkan siaran berita dalam jarak dekat. Bagi mereka yang menonton sambil lalu, dalam antrean maupun di angkutan misalnya, keberadaan CG amat membantu. Satu masukan penting, Thia mengakhiri laporannya dengan mengajak demonstran berteriak sesuai yel-yel mereka: “Indonesia Poweeeer… Jaya!!!” Menarik sih, tapi come on bedakan posisi jurnalis dengan aktivis. Subyektivitas harus dihindarkan saat kita bersama-sama dengan narasumber, sekalipun dia seorang yang sangat kita kagumi.

Menuju kawasan Istana, next sebaiknya presenter tak perlu menyapa reporternya dengan sebutan “Saudara Dio.” Jadi ini yang live Dio Djohar atau saudaranya? Hehehehe… Di media, posisi reporter maupun narasumber harus sejajar. Kecuali orang yang sangat dihormati, tak usah menyebut istilah ‘Bapak’ atau ‘Saudara’. Langsung saja sapa dengan nama, jabatan atau ‘Anda’.

Problem lain muncul saat field producer kurang mempersiapkan live dengan seksama. Durasi banyak terbuang untuk urusan mengatur kabel speaker bagi buruh yang menjadi narasumber. Insert yang muncul di sela-sela pernyataan Eko Budiyanto (bahkan untuk menyebutkan namanya dengan jelas saja reporternya sampai salah dua kali) sangat membantu agar pemirsa tak bosan, meski lagi-lagi minim CG. Satu catatan lain buat Dio, 1 Mei bukanlah Hari Buruh Nasional tapi Hari Buruh Sedunia atau International Labour Day.

Live terakhir ada di Stadion Gelora Bung Karno yang disampaikan oleh saudaranya Catur. Bagus angle yang diambil karena Catur menunjukkan persiapan kawasan Senayan tempat para buruh bakal menuju ke sana usai beraksi di kawasan Sudirman-Thamrin. Bahwa saat real time saat itu, di Senayan masih dipadati warga berolahraga Minggu pagi dengan pasukan keamanan bersiaga di sekitar lapangan yang masih kosong.

Catatan para peliput

Reyhan Alfarisi yang pada kesempatan ini berperan sebagai juru kamera berujar, ia mencoba ‘belanja’ gambar dengan mengambil banyak stock gambar yg ada di tempat kejadian. di saat teman-teman sedang bekerja mengerjakan tugas-tugasnya masing masing saat peliputan. “Situasi keramaian yang berbeda dibandingkan tugas UTS meliput Gerhana Matahari di Planetarium memberikan kesan dan kesulitan tersendiri,” paparnya.

Sementara itu, Jasmine, salah seorang anchor memaparkan cerita uniknya saat take studio.  “Kendalanya sih, pas take, udah lancar-lancar mendadak lupa mau bicara apa. Kemudian juga suka ketawa-ketawa karena banyak godaan dari orang-orang sekitar. Ya, kebanyakan sih take diulang karena suka lupa mau bicara apa karena tidak liat naskah,” kisahnya.  Akhirnya, naskah diletakkan di meja, agar saat lupa, ia bisa melirik-lirik sedikit ke naskah. Adapun saat May Day, Jasmine ikut membawa kamera serta tripod dan mengambil stockshoot.

Salah seorang standupper di lapangan, Catur Dharma mengisahkan perjalanannya di Gelora Bung Karno, berduet berdua bersama Samsul Huda sebagai juru kamera. “Saya banyak mendapatkan pengalaman baru dan ilmu baru, dari mulai mencari narasumber, mencari informasi, hingga me-lobby orang agar kami diperbolehkan masuk dan live report di tepi lapangan stadion terbesar di Asia Tenggara,” ungkapnya.

Ini merupakan pengalaman pertama Catur menjadi reporter setelah pada tugas-tugas lain menjadi juru kamera. “Menjadi reporter tidak semudah yang dibayangkan. Ketika on record seakan-akan semua naskah yang ada di otak hilang seketika. Namun, ketika selesai dan berhasil, rasa malu, lelah, ataupun teriknya matahari terbayar dengan rasa puas akan berita yang kita sampaikan,” kata Catur.

Hal yang sama disampaikan Dio, standupper lain di kawasan Istana Merdeka. “Ternyata tugas seorang reporter lumayan berat, karena kita harus fokus dan memahami informasi yang ingin kita sampaikan. Selain itu, reporter  harus mencari narasumber yang berpengalaman agar tidak menghambat proses wawancara live on-cam,” jelasnya. Ia berjanji akan memperbanyak latihan, agar artikulasi, intonasi dan mimik mukanya dapat terlihat lebih tenang dan enak dilihat.

Begitu pula ungkapan Gusthia, standupper di kawasan Patung Kuda Indosat. “Biasanya saya selalu bertugas menjadi camera person, dan menjadi seorang reporter merupakan tantangan untuk saya karena saya sudah terbiasa berada di balik kamera dan bukan di depan kamera,” ungkapnya.

Gusthia menceritakan, saat menjadi reporter, hal yang pertama dirasakan yakni grogi. “Ketika pengambilan gambar, saya take berkali-kali karena sedikit terbelit dengan kata-kata yang akan saya ucapkan. Perasaaan nervous membuat ritme berbicara saya juga terlalu cepat sehingga menyebabkan saya menjadi terbelit-belit ketika berbicara,” kisahnya.

Rizaldy, sang koordinator kelompok, menekankan pentingnya koordinasi sebagai kata kunci keberhasilan timnya. “Kerja tim di lapangan harus menjadi perhatian khusus. Terutama, karena kelompok kami terpecah menjadi tiga bagian, yaitu di Monas, Istana, dan GBK. Oleh karena itu, koordinasi harus sangat jelas agar tidak terjadi kesalahan. Saya sedikit bingung awalnya, karena sebelumnya hanya terbiasa liputan olahraga atau musik dan juga karena biasanya saya liputan untuk media tulis, bukan siar, sehingga saya sempat bingung harus berbuat apa awalnya. Terlebih, konsep dan arahan kepada kelompok di sini saya yang mengambil kendali,” urai pemimpin portal Sportikel.com ini.

Rey terus menekankan kepada para kawan-kawannya untuk siap siaga di mana pun tempatnya. “Terutama kepada mereka yang menjadi reporter, mereka saya tekankan untuk selalu update berita dan juga situasi terkini. Hal ini dilakukan agar terjadi keselarasan antara pembicaraan di depan kamera dengan apa yang terjadi sebenarnya,” jelasnya.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s