Gambar, Atmosfer dan Adegan Natural Super Keren!

Kekuatan siaran berita televisi yakni atmosfer atau natural sound serta suasana alami saat sebuah news terjadi. Tunjukkan itu agar berbicara sendiri, membawa pemirsa ke tempat peristiwa.

Kuartet srikandi Ultima News: Annisa Putri Heriyanti, Ajeng Sekar Rini, Mila Sari, dan Nadia Hersanty  menujukkan keseriusannya menggarap paket liputan Nobar Gerhana di Planetarium Jakarta. Salah satu buktinya, dalam tayangan sepanjang hampir tiga menit itu, mereka mengawalinya dengan gambar subuh. Dari kemacetan di Raya Cikini, hingga antrean pengunjung untuk mendapatkan kacamata gratis.

Di sinilah mereka berhasil mendapatkan ‘drama’ itu. CG yang konsisten pun mengikuti. Termasuk saat pihak penyelenggara memberikan ‘opsi’ tiga akses bagi pengunjung yang tak kebagian kacamata ultraviolet. Teriakan ibu petugas itu membuat liputan jadi ‘hidup’ banget.

Visual yang menyertainya pun ‘berbicara’. Misalnya, gambar ‘layar’ gerhana di dinding Planetarium serta suasana pengunjung saling berdesakan. Termasuk juga Annisa yang PTC dengan memegang kacamata. Paket pun diakhiri dengan ‘beauty shots’ gambar sesaknya Planetarium dari atas, lengkap dengan jajaran mobil Satelite News Gathering berbagai televisi berita.

Kalaupun bicara kekurangan, misalnya bagaimana memperbaiki komposisi gambar. Saat PTC Annisa dan wawancara keluarga Arifin di balkon Planetarium, sebaiknya visual dipadatkan. Kurang close (zoom in). Sayang, tembok-tembok itu menjadi ruang kosong yang terkesan mubazir. Satu lagi, nama narasumber sebaiknya dua nama, dan tak usah diberi tambahan ‘Bapak’. Tulis saja, ‘Irwan siapa…’. Ingat, reporter, narasumber, dan pemirsa adalah sejajar alias equal.

Kesan peliputan

Mila berikisah, sebenarnya ide mengambil gambar di rooftop Planetarium didapat saat melihat seorang reporter televisi sedang mengambil gambar dari rooftop. “Akhirnya kami punya ide untuk mencari jalan menuju rooftop tersebut. Sesampainya kami di atas, tujuan utamanya adalah mengambil gambar suasana dari atas kemudian baru kami mengambil gambar reporter,” paparnya. Pengambilan gambar untuk reporter diambil lebih dari tiga kali. “Ternyata hal itu tidak mudah dilakukan bagi kami yang masih awam, akan tetapi hal itu tidak menyuruti niat kami untuk mengambil gambar yang terbaik dan hasil yang memuaskan,” tambah Ajeng.

Ketika Gerhana Matahari Sebagian muncul, mereka langsung bergantian untuk melihat dengan kacamata khusus. Mereka sempat kesulitan mencari narasumber, dari astronom sampai polisi, semua terlihat sibuk. “Akhirnya kami memutuskan mengambil narasumber dari kalangan masyarakat,” kata Annisa.

Proses editing dipimpin Nadia. Sempat mengalami kendala karena editor ini masuk rumah sakit, mereka dapat menyelesaikan paket liputannya dengan ekselen. Salut untuk kerja kerasnya!

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s