Memotret Suara Rakyat

Untuk menggembarkan keseruan dan antusiasme masyarakat Jakarta dan sekitarnya menonton Gerhana Matahari di Planetarium, mereka menjaring suara para pelaku.

Mereka pergi berempat, Rizaldy Febriyansyah, Ahmad S. Huda Ibrahim, Dio Djohar dan Catur Dharma menuju ke kawasan Cikini sejak subuh. Angle yang diambil bagaimana antusiasme warga Jakarta dan kawasan sekitar ibukota menyambut gerhana. Mungkin karena datangnya dini hari, mereka pun berkonsentrasi mengambil gambar di dalam dan di luar Planetarium saat masih subuh, yang notabene amat gelap.

Secara belanjaan visual, untuk situasi subuh, mereka banyak mengambil footage. Misalnya, wawancara relawan dilengkapi dengan kegiatan volunteer menggelar registrasi penonton. Saat menggambarkan padatnya Planetarium, mereka mengambil antrean mendapatkan bingkisan dan kacamata gratis dari panitia.

Sayang memang, liputan hampir tiga menit itu mereka ‘berakhir’ sebelum puncak acara. Paket ini hanya menampilkan keseruan penonton menyambut gerhana sebelum klimaks even. Wawancara tiga vox pop pengunjung Planetarium dilakukan tanpa menunjukkan keseruan di waktu paling penting dari perhelatan ini.

Selain itu, sudah oke, baik secara belanjaan visual, CG maupun insert yang mendukung saat PTC berlangsung saat Rey menyatakan, “Bisa kita perhatikan…” Kalaupun ada masukan, lebih kepada kelengkapan nama narasumber. Jangan memberi nama narasumber di CG hanya satu kata, apalagi itu bicara warga negara asing yang baginya family name amatlah penting.

Input lain, lepada kepada penampilan Rey harusnya bisa lebih rapi. Kabel-kabel earphone yang menggantung di badannya, sebaiknya ditata lebih baik di belakang badannya. Inilah fungsinya field producer yang membantu jalannya pengambilan gambar. Jumlah empat orang dalam satu kelompok tentunya memadai untuk membereskan hal-hal yang mengganggu seperti ini.

Cerita di balik layar

Rey mengaku, sebagai reporter, kesulitannya adalah menyusun kata-kata apa yang akan diucapkan saat proses live report atau take untuk PTC (piece to camera). “Karena itu dilakukan tanpa skrip, jadi kita harus benar-benar spontan dan mengandalkan pengetahuan kita tentang keadaan di TKP,” katanya.

Dio dan Huda menambahkan, masalah lain misalnya pencahayaan yang gelap, keramaian masyarakat, serta narasumber yang malu-malu ketika mau ditanya. Proses editing dilakukan dengan apik dipimpin Catur. “Kendala saat pasca-produksi cukup banyak, pertama karena stabilitas video pun kurang baik, banyak video yang shaking dan pencahayaannya kurang. Lalu terkadang harus mengubah susunan naskah karena kita harus bisa melihat kontinuitas dari gambar juga,” papar Catur.

Sebuah pelajaran berharga untuk project berikutnya!

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s