Petik Satu Angle, dan Kupas Habis!

Ibarat masuk ke pasar, saat liputan kita dihadapkan pada begitu banyak pilihan bahan untuk dimasak. Sebaiknya, pilih satu ‘masakan’ lalu fokus di situ. Jangan terbuai dengan banyaknya belanjaan yang bisa diambil. Perencanaan matang dan pikiran cerdas menjadi kunci.

Banyak sudut pandang alias perspektif alias angle bisa diambil dalam sebuah peristiwa besar seperti peliputan Gerhana Matahari Total di Planetarium Jakarta. Erwin Halimuci, Ramadhan Sultan, Nicolas Laurencius dan Devina Aurel  mesti belajar bagaimana memilih satu saja di antara belantara fenomena itu untuk diseriusin lebih mendalam.

Dari paket video liputan berdurasi 2 menit 43 detik ini setidaknya ada lima angle yang sebaiknya dipilih satu saja secara fokus. Pertama, soal besarnya antusiasme warga Jakarta menyambut gerhana. Kelompok ini punya segalanya: dimulai dari kemacetan di subuh hari (sesuatu yang amat jarang terjadi di Jakarta Pusat), stokshot Jalan Cikini lengkap dengan penanda jalan Cikini I, serta piece to camera Nico yang masih sekitar besarnya animo masyarakat datang ke Planetarium.

Angle kedua yang bisa didalami: khusus membahas Shalat Gerhana. Harusnya, mainkan saja topik ini mendalam. Apa beda Shalat Gerhana dengan shalat-shalat lainnya? Bagaimana prosesinya, serta tak lupa ambil SOT dari ulama dan warga yang shalat.

Yang bisa jadi angle ketiga, yakni ricuhnya pembagian kacamata gratis. Mereka punya gambar dramatis, seorang pengunjung yang tampak mengeluh tak kebagian sarana untuk menonton gerhana itu. Sayang, natural sound peristiwa itu tak dieksploitasi secara luas.

Angle lain yakni soal relawan. Mereka mendapat soundbyte lima orang mahasiswa Universitas Bina Nusantara yang menjadi volunteer  di Planetarium. Lagi-lagi harus berucap, “Sayang”, karena tak dieksplorasi lebih mendalam, baik secara narasi maupun visual sekuence: apa saja yang mereka kerjakan, jam berapa berangkat dari rumah, kesan-kesan, dan lain-lain.

Angle kelima, yakni keceriaan warga menonton gerhana. Baik memakai kacamata ultraviolet maupun alat bantu seperti slide rontgen bekas. Ambil satu saja dari lima pilihan itu, lalu dalami secara khusus. Itulah sebuah liputan dengan bahan masakan yang spesifik, namun enak dinikmati. Sebaliknya, dengan durasi terbatas dan menjajakan semua angle ke muka pemirsa, tak ubahnya mereka mencampur sedikit kuah rawon, sedikit daging soto, sedikit sayur sop, sedikit  rendang, sedikit krecek gudeg plus sambal dari masakan lain, semua dituang dalam satu piring standard. Bagaimana rasanya kira-kira? Puas, tidak?

Secara teknis, beberapa masukan atas karya mereka misalnya: tidak sesuai antara narasi dan visual. Saat narasi berucap tentang ‘Planetarium Menyediakan Delapan Teleskop’, sebaiknya visual juga menyertakan gambar serupa. Selain itu, ketika memunculkan wajah Nico on-cam, harusnya langsung saja Nico dalam posisi siap laporan. Jangan disorot dari atas ke bawah (til down) seperti yang dilakukan di sekitar detik ke-58 sampai 1.20

Catatan lain soal musik pengiring. Dalam sebuah berita hard, tak perlu memakai musik latar, kecuali yang munculnya adalah atmo atau natural sound dari peristiwa yang tengah terjadi. Musik pengiring yang terlalu kencang dan tidak sesuai nafas berita yang ditampilkan justru malah merusak suasana. Termasuk menutup suara narasi VO dalam PKG itu.

Mendadak Blank

Erwin berkisah, awalnya kelompok mereka menyiapkan beberapa hal, salah satunya dengan mempersiapkan alat-alat yang ingin dibawa dan tempat berkumpul agar dapat pergi bersama ke tempat tujua. Namun, waktu kumpul yang ngaret dan membuat mereka baru berangkat jam 4 pagi (sebenarnya sih belum terlalu ‘siang’ ya) serta jalanan macet membuyarkan rencana kelompok ini.

“Sampai di sana semua terasa blank, bingung apa saja yang mau diambil. Ditambah lagi naskah LOT yang saat itu belum siap,” kisah Erwin. Mereka merasa sangat beruntung karena angle liputan yang ingin diangkat, yaitu antusiasme warga mengantre kacamata masih dapat dilanjutkan. Evaluasi internal merkea juga menyatakan, perbedaan pendapat mengenai cara mengambil gambar untuk video pun tak terelakkan, sehingga kita mengambil gambar tidak terlalu banyak karena semua anggota berada di satu posisi yang sama setiap momen.

Sekali lagi, perencanaan memegang perananan penting. Kegagalan dalam merencanakan, sama saja dengan merencanakan kegagalan.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s