Membawa Pemirsa ke Lokasi

Salah satu keberhasilan sebuah liputan jurnalistik, apapun itu platformnya –tulis, online, foto maupun jurnalistik televisi, yakni membawa audiensnya seolah langsung berada ke lokasi.

Dibuka dengan bumper sederhana, Stella Hardy, Brigita Eveline, Elisa Kartika Barus  dan Bertold Ananda menyajikan liputan mereka dengan mengusung ‘misi’ itu: membawa pemirsa UMN TV seperti ikut berada di Planetarium Jakarta.

Keunggulan liputan ini antara lain menampilkan keriuhan pengunjung sejak subuh, menyorot mobil-mobil SNG (Satelite News Gathering) dari angle atas, serta dua kali PTC Eline, yang satu di antaranya berlatar crowd alias kerumunan massa.

Nilai plus lain yakni teriakan ibu petugas Planetarium yang memberikan informasi sekaligus menenangkan pengunjung yang tak kebagian kacamata gratis. Dalam video berdurasi 3 menit ini, natural sound ibu petugas Planetarium membawa suasana riil yang seolah ‘menyeret’ pemirsa video liputan ini ada di lokasi yang sama pada pagi itu.

Kalau pun ada kekurangannya, yakni kurangnya intensitas CG alias teks di layar yang seharusnya bisa mempertegas visual yang ditampilkan. Tak semua pemirsa televisi menonton berita dengan seksama. Beberapa orang menonton televisi dengan ‘sambil lalu’, misalya sambil antre di depan teller bank, di ruang tunggu rumah sakit, atau karena memang tak dapat menangkap volume audio dengan jelas.

CG itu bisa muncul misalnya saatnya wawancara Ria dan Fatin, yang justru menyatakan sosialisasi dari Planetarium amat minim. Tentu ini kontradiktif dengan visual ibu petugas yang ditampilkan di menit sebelumnya.

Kesan peliputan

Bertold Ananda yang menjadi juru kamera dalam tim ini menyatakan, mereka mengalami kendala karena telat datang ke TKP sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan kacamata anti radiasi secara gratis. “Kami berharap, untuk kedepannya kelompok kami lebih solid lagi serta lebih kreatif lagi.”

Adapun Stella Hardy, juga juru kamera dan penulis naskah, menyatakan mereka sempat bingung memilih angle. “Awalnya kami bimbang, apakah memilih pendapat dari pengunjung atau suara penjual kacamata hitam di pintu depan Planetarium. Kami juga sempat berpisah dan membagi dalam dua tim kecul agar bisa menghemat waktu dan mengambil gambar lebih banyak.” Mereka bersenjatakan dua DSLR Canon 600 D dan telepon seluler sebagai perekam audio.

Elisa Kartika yang bertanggung jawab atas editing, selain juga ikut mengambil gambar, pun mengaku senang dapat menjadi saksi sejarah fenomena alam ini. Demikian pula Brigita Eveline, sang standupper, “Senang sekali bisa melihat peristiwa langka yang tak terjadi setiap hari. Selain itu bisa merasakan menjadi reporter lapangan dan menjadi wartawan sungguhan.”

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s