Bicara Detail, Bicara Proses

Liputan proses nonton bareng Gerhana Matahari Parsial di Jakarta. Dikerjakan secara utuh, dieksekusi dengan runut.

Menyaksikan liputan karya Chintya, Dea Satriani, Lucia Gilberta Vania, Muhamad Farid Hardika dan Rina Ayu Larasati, tampak kerja keras gabungan dari pasca produksi (perencanaan), proses produksi (peliputan), serta pasca-produksi (editing) yang dikerjakan dengan matang dan penuh kehati-hatian.

Anglenya tak terlalu istimewa: bicara proses nonton bareng Gerhana Matahari Parsial di Planetarium Jakarta. Yang menarik, mereka mengerjakan paket liputan ini dengan runut. Timeline waktu peristiwa ditunjukkan melalui time code pengambilan gambar di sudut atas layar, ditambah CG (chargen) yang terus update sesuai narasi yang dibacakan pengisi suara.

Tapi, bicara visual dan suara yang seharusnya seiring, ada beberapa kelemahan minor dalam karya ini. Saat mereka bicara ada warga negara asing ikut antre dan terlibat nobar gerhana, tak ada visual (sekuence) yang cukup menggambarkan si bule ini. Baru beberapa detik kemudian muncullah wawancara (SOT/soundbyte) dari Viona Leventhal.

Satu kritikan, saat ada suara penanya dari pihak reporter masuk dalam paket berita, sebaiknya kamera juga mengarah pada wajah sang reporter. Tapi, kalau misalnya terkendala lupa (kamera terfokus pada narasumber saja) sebaiknya suara penanya tak usah disertakan dalam paket. Langsung aja ke sound of tape alias kutipan narasumber.

Kelalaian kecil juga muncul saat narasi (VO) dengan penanda waktu dalam paket ini tak senada. Suara voice over menyebutkan pukul ‘enam lewat delapan belas menit’, tapi time code menunjukkan 06.48. Bukan masalah besar, sebagaimana ungkapan Barat berkata, “To err is human”.

Di luar kritik itu, paket berdurasi 3 menit ini sudah oke. Termasuk PTC (piece to camera) Rina Ayu di akhir paket, yang dilengkapi aksinya memakai kacamata tiga dimensi.

Susah akses

Farid Hardika, yang kebagian peran sebagai juru kamera dan editor mengungkapkan kendala mereka, yakni tidak bisa meliput dan masuk ke dalam Planetarium karena kuota yang terbatas. “Padahal kalau seandainya kami bisa masuk ke dalam, pasti akan lebih banyak lagi belanjaan stockscene yang ada di dalam Planetarium,” kata Farid. Ini sebenarnya persoalan yang aneh, mengingat mereka datang tidak terlambat, yakni sejak pukul 3 dini hari. Mengapa tidak mencoba membagi jumlah tim yang lima orang itu? Misalnya sepasang anggota tim masuk ke dalam, dan tiga lainnya mengambil gambar di luar.

Ia juga memaparkan, hasil video dari tiga juru kamera, beberapa ada yang hasilnya kurang baik sehingga akhirnya hanya menggunakan scene-scene yang menurut mereka pantas untuk ditayangkan.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s