Ketika Warga Ibukota Berburu Gerhana

Liputan ini bermaksud menunjukkan proses gerhana matahari di Jakarta dan bagaimana penduduk Jakarta begitu antusias menyambut fenomena alam itu. Sayang, kurang dieksplorasi detail-detailnya.

Mia Chiara, Irwin Syahputra, Elma Adisya, Riani Angel, dan Padrepio Bailey Van Gaguk bersama-sama meliput gerhana matahari di Jakarta. Angle atau sudut berita yang mereka ambil yakni bagaimana antusiasme warga Jakarta memburu peristiwa alam nan langka ini. Karena itu, mereka rela berangkat subuh menuju Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Secara ‘belanjaan’ gambar, sebenarnya mereka cukup ‘dapat’. Visual kemacetan kawasan Cikini, antrean mendapat kacamata gratis, sampai wawancara narasumber yang pernah mengalami peristiwa gerhana matahari 1985 pun mereka kantongi. Tak lupa, Mia Chiara dua kali stand-up untuk melengkapi paket berita berdurasi menit detik itu. Sayang, dalam pasca produksinya, paket ini tak digarap maksimal.

Ketika maksud dari paket liputan ini hendak bicara ‘proses’, seharusnya mereka lebih ‘mengeksploitasi’ kisah perjalanan itu. Secara eksekusi liputan, tim bisa menunjukkan suasana gelap, berubah menjadi sedikit terang, sampai saat puncak gerhana terjadi. Dalam hal ini tak terlihat antusias warga saat ‘pecah’ puncak Gerhana Matahari Total (GMT) di Jakarta. Satu-satunya cerita antusias yang menolong adalah wawancara/soundbyte dengan Osmar Silalahi dengan kutipan menariknya, “Adalah sebuah kasih karunia Tuhan bisa menyaksikan GMT yang konon berlangsung 350 tahun sekali ini.”

Tapi, televisi adalah media audio visual. Sebagaimana dunia fotografi punya tagline ‘satu gambar lebih bernilai daripada seribu kata’, prinsipnya jurnalisme televisi pun jelas, “Show it, don’t tell”. Visual dan atmosfir natural jauh lebih bernilai daripada ucapan verbal atau tulisan di layar.

Omong-omong soal tulisan di layar, biasa disebut CG atau Chargen (Character Generator), juga seharusnya menjadi kekuatan kelompok ini. Sayang, proses pasca produksi (editing) kurang memperhatikan kekuatan CG. CG bisa mulai dimunculkan misalnya dengan tulisan, ‘Kawasan Cikini Macet Total sejak Subuh’, ‘Ribuan Pengunjung Berebut Kacamata Gratis’, ‘Suasana Histeris Pecah saat Puncak GMT’, ‘Warga Puas Meski Gerhana Tak Sempurna’, atau pilihan-pilihan kalimat lain sesuai timeline visual yang ada.

Selain itu, untuk menunjukkan ‘drama’ yang menekankan proses peristiwa dari menit ke menit, sebaiknya di sudut kanan atas layar dipasang time locator. Penunjuk waktu itu menunjukkan peristiwa berlangsung pada pukul berapa, misalnya kepadatan lalu-lintas Cikini pada 04.10, keriuhan antrean kacamata pada 04.30, warga menanti gerhana pada 06.00, puncak GMT pada 07.30, wawancara pada 08.15 dan sebagainya.

Belajarlah detail dan menyajikan terbaik pada pemirsa, sesuai angle yang disepakati, sehingga sebuah liputan faktual selain memberikan manfaat informatif, juga bisa menyajikan unsur hiburan (entertainment) pada mereka yang menyaksikannya.

Cerita peliputan

Elma Adisya berkisah, empat orang di kelompoknya yang melakukan peliputan ke Planetarium membawa dua kamera. “Kami bertiga -Irwin, Riani, dan saya secara bergantian mengambil banyak footage. Sementara Mia ditunjuk sebagai reporter di lapangan dan mulai belatih untuk berbicara di depan kamera,” paparnya mengenang pembagian tugas pagi itu.

Beberapa kendala yang mereka hadapi antara lain di sisi peralatan, yakni kamera Riani ternyata kehabisan baterei ketika sedang shoot footages. “Beruntung kamera saya masih kuat. Lalu kendala selanjutnya kami hanya binngung mencari narasumber yang kredibel untuk paket kami,” paparnya.

Tentu saja, masalah peralatan (logstik) menjadi evaluasi penting. Ibarat prajurit yang akan berangkat perang, bagaimana mungkin mereka akan bertempur tanpa amunisi peluru yang memadai. Sebaiknya, pastikan kondisi baterei, kabel-kabel, dan semua alat dalam kondisi ‘siap tempur’ saat hendak memulai liputan. Beruntung, akhirnya mereka bisa mendapatkan narasumber yang bisa berkisah

“Kendala yang kami dapat hanya dua itu saja, namun cukup membuat kami panas dingin,” ungkap Riani.

Overall, sudah bagus proses peliputan dan pengambilan anglenya. Tinggal dipoles di sisi pasca-produksi, dan kejelian mengambil momen-momen yang ‘berbicara’.

This entry was posted in journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s