Erangan Sepakbola Tangerang

Artikel ini dimuat di  http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2016/02/29/132552/3153687/425/erangan-sepakbola-tangerang

tangSebagai satelit ibukota, sepakbola Tangerang punya riwayat panjang. Kini, belum jelas kapan mereka bangun dari tidur panjangnya.

Bayu Guntoro, 23 tahun, tak lagi banyak menyepak bola. Sebagai penyerang Persita Tangerang, Bayu justru membanting kemudi aktivitasnya dari Stadion Benteng ke spot lain di tepian kali Cisadane. Pemilik nomor punggung 93 dan 24 ini beralih profesi menjadi wirausahawan. Ia menjajakan jaket sport dan sepatu casual di lapak yang buka sore hingga malam menjelang.
bayu2.jpg“Tapi kalau musim hujan begini, seringnya gak buka,” kata Bayu saat dihubungi beberapa waktu lalu. Aktivitas Bayu selain itu, seperti kerap diunggah di akun twitter @bege_24 dan Instagram bayguntoro, yakni menunggu panggilan bermain sepakbola antarkampung atau acara-acara semacam football coaching di sekolah.

Di sela-sela masa penantian dalam kevakuman sepakbola Indonesia, Bayu sempat tampil dalam talk show televisi yang dibuat mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara.

“Sebenarnya apa yang dilakukan Menpora itu benar, karena ia ingin membersihkan masalah-masalah yang ada di PSSI. Cuma, jangka waktunya terlalu lama sehingga kami terganggu, karena penghasilan kami berkurang,” kata Bayu dalam ‘curhat’-nya.

Sebagai anak muda yang baru meretas karir di bond sepakbola kebanggaan Tangerang, Bayu memang belum jadi legenda Persita macam Agus Suparman, Giman Nurjaman, Firman Utina atau Ilham Jayakesuma — striker yang menjadi bintang timnas saat menjadi pencetak gol terbanyak Piala Tiger 2004.

Di klub sebelah, Persikota milik Pemkot Tangerang, punya Gendut Doni Christiawan, yang juga mencatatkan namanya sebagai top skorer di arena Piala Tiger 2000. Namun, Bayu yang mengawali karir di PSJS Jakarta Selatan ini punya kerinduan besar agar sepakbola Indonesia bisa kembali semarak dengan kompetisi jangka panjang, yang menjamin asap dapur para pemainnya mengepul secara berkala.

Teringat, saat itu jelang kompetisi Liga Indonesia 2004 berakhir. Saya berada dalam angkutan kota menuju Stadion Benteng untuk menonton partai antara Persita menjamu Persebaya Surabaya. Dari sisi kaca mikrolet, tampak ribuan penggemar ‘La Viola’ memenuhi jalanan Tangerang untuk menyaksikan satu dari laga-laga akhir Persita yang turut menentukan perjalanan Persebaya sebagai juara liga.

“Kalau Persita yang main mah, beda. Pendukungnya banyak benar. Mereka seperti semut keluar dari liang-liang tersembunyi,” kata sopir angkot berkisah. Akhirnya, ‘Pendekar Cisadane’ yang kala itu diarsiteki M. Basri berbagi angka dengan pasukan Jacksen Ferreira Tiago. Meski tak ada gol tercipta, hampir 20 ribu penonton di Stadion Benteng pulang dalam damai.

Dua tahun sebelumnya, Persita mencapai masa emas saat menjadi runner-up Liga Bank Mandiri 2002. Dalam final yang berlangsung di bawah guyuran hujan lebat Gelora Bung Karno, anak asuh Benny Dollo kandas 1-2 dari Petrokimia Putra Gresik melalui babak perpanjangan waktu.

Dari serigala sampai fatwa MUI

Selanjutnya, seperti banyak klub sepakbola Indonesia lainnya, nasib Persita dan Persikota menjadi suram saat larangan penggunaan APBD diberlakukan. Dari tim peserta Liga Champions Asia dan kejuaraan antarklub ASEAN LG Cup 2003, Persita yang berdiri pada 1953 bahkan menjadi klub nomaden yang berpindah-pindah rumah.

Terkendala Stadion Benteng yang dianggap tak memenuhi syarat Liga Super, antara lain kondisi rumput dan tanpa lampu penerangan ditambah imbas tawuran suporter, Persita menjadi musafir dengan menggelar partai kandang di Stadion Si Jalak Harupat Bandung, Stadion Mashud Wisnusaputra Kuningan, Stadion Singaperbangsa Karawang dan Stadion Maulana Yusuf di Serang. Tahun ini, pasukan ungu berharap dapat menggunakan Stadion Bojong Nangka di Legok, Kelapa Dua, sebagai markas baru yang, katanya, berstandar Asia dan dibangun dengan dana senilai Rp 90 miliar rupiah.

Adapun nasib rival mereka tak juga lebih baik. Baik secara finansial maupun prestasi, tim ‘Bayi Ajaib’ — Persikota mendapat julukan ini karena di awal kelahirannya pada 1994 langsung melejit jadi tim kuat — lebih dirundung masalah. Para pemainnya kerap menggelar pertemuan demi pertemuan, unjuk rasa demi rasa, demi tuntutan gaji yang belum dibayarkan manajemen di bawah kepemimpinan walikota sekaligus ketua umum Persikota, Wahidin Halim.

Di era dualisme kompetisi pada 2010, Stadion Benteng menjadi home base Tangerang Wolves Football Club. Serigala Tangerang peserta Liga Primer Indonesia (LPI) ini dilatih Paulo Camargo, yang pernah ikut memoles bintang dunia Ricardo Kaka sewaktu masih di tim yunior Sao Paulo. Belakangan, nama Camargo muncul kembali di persepakbolaan nasional setelah coach asal Brasil ini menandatangani kontrak semusim sebagai arsitek Persija Jakarta. Wolves dimanajeri Fadlin Akbar, anak walikota Tangerang saat itu, Wahidin Halim. Sesuai usia LPI, Wolves yang sempat diperkuat Kurniawan Dwi Yulianto, bubar tak sampai dua tahun kemudian, dengan ‘bumbu’ wacana merger dengan Persikota.

“Bicara tentang sepakbola di Tangerang, sama dengan bicara tentang belum profesionalnya tata kelola sepakbola Indonesia. Semuanya, mulai dari manajemen, sampai kepada sikap pemain dalam mengatur kehidupannya,” papar Akmal Marhali, mantan CEO Tangerang Wolves.

Aroma tidak profesional para pemangku kepentingan sepakbola kian diperparah dengan munculnya Fatwa MUI di Tangerang. Rusuh antar pendukung Persita versus Persikota membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tangerang mengharamkan pertandingan sepakbola Persita dan Persikota berlangsung di wilayah berjuluk ‘Kota Seribu Industri’ itu.

“Pertandingan sepakbola sedikit manfaatnya dibandingkan dampak positifnya. Maka, kami mendukung bila pertandingan sepakbola di Kota Tangerang yang makin meresahkan ini dihentikan dan ditiadakan,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang, KH Baijuri Khotib, Januari 2012. Sampai detik ini, fatwa itu belum dicabut, meski upaya perdamaian telah coba dilakukan pengurus Benteng Viola dan Persikota.

Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sepakbola Tangerang masih terus mengerang. Dan, belum ada kabar gembira bagi Bayu, untuk beralih dari lapak jualan pinggir kalinya dan kembali bersenang-senang di lapangan bola membela Persita di kompetisi resmi. Seperti pernah dicuitkan di akun media sosialnya, “Sepakbola itu soal cinta bukan semata-mata hanya karena uang.”

====


* Penulis biasa disapa ‘Jojo’, lahir sebagai bonek Niac Mitra, Persebaya, dan Mitra Surabaya, dan besar sebagai pendukung virtual Liverpool. Sekarang bekerja sebagai koordinator peliputan CNN Indonesia TV. Pernah menjadi wartawan media cetak, online, radio dan televisi. Dua cita-cita yang belum terwujud dalam hidupnya: punya warung makan dan jadi manajer tim sepakbola. Twitter: @jojoraharjocom

This entry was posted in football evangelist and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s