Gelisahnya Garis Keras Yogya

Artikel ini dimuat di http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2016/02/12/135043/3140467/425/gelisahnya-garis-keras-yogya

detik

PSIM adalah sebuah sejarah. Big history. Dan anak-anak muda itu tak ingin mendengar Laskar Brajamusti hanya sebagai his story’.

Ruangan berukuran separuh lapangan badminton itu ada di kawasan Sagan. Sedikit nyempil dari keriuhan Yogyakarta yang kian padat dengan hotel, kafe, dan sampah reklame. Beberapa anak muda rajin bersekutu di situ. Mereka mengoplos aneka topik sepakbola nasional, berbincang riang tentang masa lalu yang masih diyakini kembali bangkit di masa datang. Mereka anak-anak muda yang merindukan kebangkitan PSIM Yogyakarta sebagai salah satu ikon sepakbola nasional.

Sebagai bukti romantisme sejarah, replika koran Kedaulatan Rakyat berukuran besar terpampang di tembok. Koran terbitan 30 Januari 1992 itu memasang headline PSIM Lolos ke Divisi Utama. Sebagai sebuah tim kelas menengah ke bawah, macam Crystal Palace, Norwich, atau Sunderland di Liga Inggris, kebanggaan bukanlah menjadi juara Liga Primer. Cukup bisa berlaga di top flight competition akan menjadi epos yang terus dikenang dan diceritakan dengan penuh emosional pada anak cucu.

Bawahskor, itulah nama komunitas penggila PSIM ini. Mereka anak-anak muda yang memilih menonton bond kebanggaan masyarakat Yogyakarta di tribun khusus di Stadion Mandala Krida: tribun di bawah papan skor. Sebuah hal yang lumrah bagi kelompok suporter sepak bola di dunia. Sebagaimana pendukung Liverpool garis keras ada di Tribun Kop, atau Bonek Persebaya suka berada di tribun utara dan dikenal sebagai Green Nord’.

Selain nonton bareng PSIM, kalau kompetisi sedang tak vakum seperti saat ini, ruangan di Sagan itu menjual aneka merchandise, mulai buku hingga busana serba PSIM. Yang dijual bukan hanya kaos suporter PSIM, tapi ada juga jersey asli, bekas dipakai pemain. Sesekali, komunitas ini menggelar pertemuan sekaligus sharing bersama narasumber sesama penggila bola. Mereka menamai acara semacam itu: Open Bawahskor.“Proyek Open Bawahskor kami ambil contoh dari ruang seni kontemporer yang ada di Indonesia. Mereka membangun programnya ke masyarakat melalui program seni dan kemasyarakatan,” papar Dimaz Maulana, salah seorang penggagas gerakan kebudayaan melalui sepakbola di Yogya ini.

Karut-marut persepakbolaan Indonesia memberi andil atas matinya klub-klub sepakbola di tanah air. Maka, salah satu bahan dalam obrolan mereka, tak pelak, menyoroti nasib para idola. Membicarakan kapten PSIM yang menjadi penjaga gudang di Malioboro. Atau pemain lain yang saat gaji lancar hobi memelihara burung, tapi saat kompetisi berhenti tiba-tiba hilang dari jagad media sosial.

Dalam kesempatan diskusi yang sama, mereka tak habis pikir, mengapa wisatawan yang meluber ke Yogyakarta –juara kedua destinasi wisata di negeri ini– tak menganggap PSIM sebagai identitas daerah yang mereka kunjungi. Mereka rindu membangun city branding’ pada PSIM, sebagai sebuah klub sepakbola yang melekat pada Yogya. Jangan jauh-jauh bicara kunjungan turis ke Inggris yang membawa oleh-oleh permen Liverpool, gantungan kunci Arsenal atau pembuka botol berlogo Manchester United. Rasa iri pun sudah tertanam ke Malang. “Mengapa mereka yang datang ke Malang dengan bangga pulang membawa kaos Arema, tapi tak melakukan hal yang sama ke Yogya?” tanya Sirajudin Hasbi, heran. Penulis muda lulusan Fisipol UGM itu menginisiasi dokumentasi cerita masa lalu PSIM dalam portal https://bawahskor.wordpress.com.

Lebih dekat lagi, rasa cemburu dialamatkan pada Pasoepati, kelompok suporter pendukung Persis Solo –atau tepatnya tim sepakbola mana saja yang bermarkas di Solo. Fajar Junaedi, dosen dan juga penggila bola di Yogyakarta memberi contoh bagaimana ia bisa menemukan spanduk Pasoepati di Tawangmangu, sebuah lokasi wisata yang sebenarnya masuk wilayah kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Sejarah panjang

Berbeda dengan klub perserikatan lain yang langsung mengambil nama kota home base’ seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, Persib Bandung atau PSM Makassar, nama yang dimiliki PSIM terbilang unik. Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram berdiri pada 5 September 1929 dengan nama awal Persatuan Sepakraga Mataram (PSM). Nama Mataram digunakan karena Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan kerajaan Mataram alias Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sejumlah nama yang identik dengan PSIM antara lain kiper Maladi –kemudian menjadi Ketua Umum PSSI, Menteri Penerangan dan Menpora di era Bung Karno, kiper Siswadi Gancis serta Seto Nurdiantoro –penyerang yang tiga kali keluar masuk PSIM diselingi bergabung klub tetangga: PSS Sleman dan Persiba Bantul.

Salah satu pelatih tersukses di Indonesia, mendiang Bertje Matulapelwa juga punya kenangan manis di PSIM. Arsitek timnas peraih emas SEA Games 1987 serta mengantar Indonesia masuk empat besar Asian Games 1986 itu sukses membawa PSIM lolos ke Divisi Utama musim 1993/1994. Koran Kedaulatan Rakyat mengutip alasan Bertje meninggalkan Petrokimia Putra Gresik, salah satu klub Galatama kaya pada era 1990-an. “Jogja terasa lebih nyaman dibanding Gresik. Bayangkan saja, jam delapan malam kota itu (Gresik) sudah terlihat sepi,” kata Bertje, mantan pemain timnas 1960-an.

Yogyakarta terus berkembang. Sebagai kota pelajar yang dihuni mahasiswa dari Aceh sampai Papua, kota ini bak Indonesia Mini. Di sini, setidaknya ada 136 unit perguruan tinggi dari berbagai kategori: universitas, akademik, politeknik, sekolah tinggi, dan institut. Tiga klub besar ada di provinsi ini: PSIM Yogyakarta, PSS Sleman, Persiba Bantul ditambah dua ‘bond’ kecil lain, Persig Gunungkidul dan Persikup Kulon Progo.

Seharusnya, bukan kebetulan klub ini menetapkan julukan ‘Brajamusti’ bagi para penggemarnya. Dipilih melalui sayembara di surat kabar, Brajamusti merupakan kepanjangan dari ‘Brayat Jogja Mataram Utama Sejati’. Sesungguhnya, Brajamusti merupakan ajian kebanggaan Gatotkaca, menguatkan kaki dan tangannya sehingga menghasilkan tendangan dan pukulan nan dahsyat.

Anak-anak muda Yogyakarta itu terus gelisah. Mereka berharap, ‘brajamusti’ menemukan kesaktiannya untuk membangkitkan kisah indah PSIM.

====


* Penulis biasa disapa ‘Jojo’, lahir sebagai bonek Niac Mitra, Persebaya, dan Mitra Surabaya, dan besar sebagai pendukung virtual Liverpool. Sekarang bekerja sebagai koordinator peliputan CNN Indonesia TV. Pernah menjadi wartawan media cetak, online, radio dan televisi. Dua cita-cita yang belum terwujud dalam hidupnya: punya warung makan dan jadi manajer tim sepakbola. Twitter: @jojoraharjocom

This entry was posted in football evangelist and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s