Jurgen Klopp: Come to Papa…

Klopp menjadi media darling dari Liga Inggris yang dikenal kejam.

Jürgen Norbert Klopp memberi warna lain pada Liga Inggris selepas Jose Mourinho menepi (untuk sementara). Gaya bicaranya saat konferensi pers menjelang dan setelah pertandingan ditunggu jurnalis, karena bernas dan ‘layak kutip’.

“We must turn from doubters to believers”

“It is our job to let people forget their problems for 90 minutes and then they can talk for three days about the last game and talk for two days about the next game. That’s how I want to live.”

Di Jerman, saat menukangi Borrusia Dortmund, seorang fans Schalke bertanya apa resepnya memenangi Bundesliga. Klopp menjawab, “How do you explain to a blind person what colour is?”

Sementara atas kesuksesan Bayern Munich mendominasi Liga Jerman dengan membeli banyak pemain bintang, Klopp berujar, “They are like the Chinese in the business world. They look at what others are doing and copy it, just with more money.”

Tapi, bukan hanya diksi dan kalimatnya, lihatlah gesturnya. Pelukan hangatnya pada pemain, caranya memimpin tim berterimakasih pada penonton, serta reaksi gembiranya menyambut gol. Amat jauh beda dengan Rafael Benitez dan Brendan Rodgers yang terlihat dingin saat timnya membuat gol. Kedua pelatih Liverpool terdahulu itu nyaris tanpa selebrasi, kecuali mengangkat satu tangan atau melihat arlojinya.

Usai pertandingan yang layak diklaim sebagai salah-satu terapi terbaik bagi penderita penyakit jantung, Liverpool mengalahkan Norwich 5-4 di Carrow Road, Klopp melakukan ‘crazy celebration’ , keluar dari bangku officials, menunjuk dadanya seolah berteriak meminta pemainnya, Come to Papa” dan berakhir dengan pecahnya kacamatanya.

Tentang kacamatanya yang retak karena tersenggol para pemain yang ramai-ramai berpelukan, Klopp bukan sekali ini mengalaminya. Sebelumnya terjadi saat Dortmund mencetak sejarah untuk kali pertama mengalahkan Bayern Munich. Gol Nuri Sahin berujung pada selebrasi yang heboh, dan memecahkan kacamata sang coach. Klopp mencandai kacamata yang kemudian jadi koleksi di museum tim bekas besutannya.

“One of them is in the museum of Borussia Dortmund because we won for the first time against Bayern Munich and Nuri Sahin broke my first glasses. Today it was Adam, it’s broken.”

“Usually I have a second [pair] but until now I couldn’t find it because it’s really difficult to look for glasses without glasses!”

Bahkan, momen perpisahannya di BVB –sebutan khas Borussia Dortmund- pun dimeriahkan dengan lagu ‘You’ll Never Walk Alone’, anthem istimewa Liverpool yang juga beberapa kali diadopsi pendukung Dortmund.

Klopp adalah pribadi mengesankan. Great personality. Semoga karirnya di Liverpool panjang, dan berakhir mengesankan pula.

This entry was posted in football evangelist and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s