Dialog Kuliner Tanpa Visual Kuliner

Cita-citanya ‘Weekend Update: Rangkaian Berita Ringan di Akhir Pekan’. Sayang, tak didukung tampilan visual memadai.

Sesuai karakter programnya, Weekend Update punya jualan khas sebagai “Program mingguan ini berisikan informasi-informasi berita yang terangkum dalam tayangan mingguan, bersifat soft, dan berisikan informasi-informasi tentang dunia hiburan. Program ini sangat cocok ketika sedang berkumpul bersama keluarga di pagi hari”. Digawangi Nanda Arief , Bernadeta Dyah,  Aldi Chaeri, Andika Zulfikar, dan Gilang Gegono, mereka menyajikan serangkaian berita untuk dikonsumsi secara ringan di akhir pekan.

Masukan pertama tertuju saat Nanda dan Aldi tampil sebagai duo host membuka tayangan. Ingatlah, bahwa program berita televisi bukan hanya melulu menyajikan konten informasi kepada pemirsa. Tampilan (outlook) di layar amatlah penting. Kalau pemirsa sudah merasa tak nyaman dengan penampilan di layar pembuka, maka konten-konten menarik yang ada di item atau segmen selanjutnya tak akan disimak.

Maksudnya tampil sebagai tayangan akhir pekan, tapi mengapa duo host ini tak tampil outdoor di taman atau restoran misalnya? Mereka ada dalam ruangan, dengan penerangan minim, dan tata-ruang yang kurang asyik dilihat. Kursi single seat (sofa besar) yang diduduki Aldi tampak mengganggu dan kurang pas dengan kondisi pasangan duetnya.

Padahal, secara konten apa yang mereka paparkan berbeda dengan kelompok lainnya. Kekuatan ada misalnya saat live Festival Media, kelompok ini meliput pada sesi hadirnya Najwa Shihab, tentu saja ini memancing pemirsa sebagai kekuatan nilai berita yang ‘prominance’ dibandingkan kelompok lain dalam karya akhir Produksi Televisi Universitas Mutimedia Nusantara (UMN) ini.

Liputan malam penganugerahan Festival Film Indonesia di ICE BSD sebenarnya juga jadi kekuatan tersendiri. Sayang, selain lagi-lagi karena CG yang minim, tak ada PTC (piece to camera) atau LOT reporter yang menunjukkan nilai plus bahwa mereka benar-benar hadir di sana.

Hati-hati juga dalam penulisan CG. Dalam paket pengantar Festival Media, ada visual Kelas Teknik Penulisan, tapi mengapa CG yang muncul ‘Investigasi Open Data’? Pada jualan utama mengenai talkshow menjadi presenter pun, hanya muncul LOT Bernadeta, tak ada wawancara dengan Najwa atau Aiman Wicaksono yang menjadi unggulan program ini. Oke, kalau misalnya masih ragu atau malu melakukan wawancara –meski sebenarnya alasan ini tak dapat dibenarkan juga- ambil saja soundbyte mereka saat berbicara on stage. Ada kutipan Najwa, tapi tak masuk di paket berita, hanya di headline program. Lha…

Masuk segmen kedua, mengapa saat duo anchor menjelaskan apa materi berikutnya, backsoundnya begitu ramai? Kecilkan musik latarnya atau hilangkan saja sama sekali, agar pesan yang disampaikan Aldi dan Nanda sampai ke pemirsa.

Ngomongin ikan tuna dalam bayangan

Di segmen dialog bersama pengusaha kuliner Cinta Andini, aduh, mengapa hanya full dialog. Harus kerja lebih keras lagi, tampilkan suasana orang memesan makanan lewat aplikasi gawai, masakan dibikin, diantar gojek, sampai diterima customer. Bagaimanapun, ini televisi, butuh visual yang harus dilihat pemirsa secara langsung. Lha, jangankan televisi, profil pengusaha kuliner di media cetak aja menyajikan foto makanan, ini malah sama sekali tak ada visual. Ngomongin nasi tuna yang muncul Cinta melulu.

Untuk feature café di segmen tiga, perhatikan pengambilan gambar, jangan sampai terulang ada headroom kepotong. Saat wawancara narasumber pastikan, dia dalam bentuk SOT (hanya kutipan narasumber) atau menyertakan pertanyaan reporter. Kalau model seperti ini, suara reporter terdengar, ya perlihatkan juga dong wajah pewawancaranya.

Pewawancara harus lebih pede dalam bertanya. Bertanya apakah harga mahal atau tidak, tak usaha pakai kata ‘maaf’. Selain itu, sebagai kata sifat, mahal atau murah itu relatif. Jadi, harusnya tanya saja soal rate, tak usah menyebutkan soal ‘mahal’ atau ‘murah’ itu.

Segmen terakhir, profil café dan review dua film, oke ya secara visual. Hanya ya itu, minim CG yang berfungsi sebagai penjelas tayangan. Apalagi tak semua pemirsa bisa menonton televisi dengan seksama lengkap dengan audio yang jelas. Bagaimana kalau mereka nontonnya sambil antre di bank, di kamar rumah sakit tanpa audio, di boarding room bandara, dan lain-lain.

Last but not least, perhatikan durasi ya. Kalau diminta 30 menit lalu jadinya 38 menit, jangan dibayangkan akan mendapat nilai lebih atau pemirsa semakin banyak. Satu program ‘over duration’ akan merembet sliding dan merusak tatanan program lain secara keseluruhan dalam satu hari. Harus berani memotong mana yang dipakai mana yang tidak. Apa perlu ‘Star Wars’ dan ‘Negeri van Oranje’ diresensi semua, atau cukup salah satu?

Pesan utamanya: lebih bersiaplah menjadi orang visual. Perlakukan tayangan karya kita dengan perspektif kita sebagai penonton juga. Akankah pemirsa bosan kalau disuguhi yang semacam ini…

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s