Saat Mahasiswa Meliput Pilkada

Berbagai topik disajikan dalam karya akhir semester mahasiswa kelas Produksi Berita Televisi Universitas Multimedia Nusantara ini. Pelaksanaan pilkada serentak di Tangerang Selatan menjadi ‘nilai jual’ yang menarik.

Di segmen pertama, kelompok yang beranggotakan Fransisco Carollio Gani Hutama, Bernadinus Adi, Bilan Clara, Fitra Hasnu, Rika Kurniawati, Adonia Putri Serahya, Almas Jeihan, dan Magdalena  menampilkan dua topik straight news. Selain Voice Over (VO) tentang gelaran Festival Media Aliansi Jurnalis Independen, mereka juga meliput pelaksanaan pemilihan walikota dalam pilkada serentak 9 Desember 2015.

Topik pilwalkot dikemas kuat, karena menampilkan cuplikan kampanye tiga pasang kandidat yang bertarung secara berimbang. Sayang, saat ketiga pasangan ini diprofilkan sekilas dalam rangkaian kampanyenya, tak ada CG (character/generator keterangan tulisan) yang menyertai munculnya tiga kandidat itu.

Untuk item live report di lokasi pemungutan suara tempat kandidat petahana Airin Rachmi Diany mencoblos, Bilan cukup percaya diri. Hanya saja, sekali lagi selain nyaris tanpa CG, suara Bilan harusnya lebih bersemangat. Kekurangan lain, saat Bilan live harusnya diselingi insert suasana saat Airin dan puteranya mencoblos.

Kalaupun telat tak dapat momen ini, tampilkan keriuhan suasana lain, jadi tak hanya menyorot wajah standupper sepanjang live report. Misalnya, selingi dengan suasana kesibukan panitia pada saat tim sedang ada di lokasi, apakah pencoblosan masih berlangsung atau KPPS sedang menghitung perolehan suara, dengan natural sound suara para kandidat yang diumukan nama atau nomor urutnya.  Tapi, catatan besarnya: aduh, suaramu lemes sekali, Bilan..

“Saat liputan Pilkada Serentak situasinya  sangat tidak mudah, karena saat kami sampai ke lokasi ternyata calon walikota sudah mencoblos. Tapi kami tidak putus asa untuk mendapatkan berita, dan kita pun tidak sia-sia mendapatkan semua berita itu. Sampai kita menunggu saat konferensi pers kepada calon walikota Airin,” kata Almas Jeihan, juru kamera dan reporter di liputan Pilkada. Tapi, mana suara (soundbyte) Airin saat konferensi pers?

Dialog panjat tebing

Dialog di segmen dua yang dipandu Fitra Hasnu menyajikan pengantar yang memadai. Ada VO pengantar dilengkapi foto dan berita, serta sekuence pengantar sebelum bertemu coach Syarief, sang narasumber panjat tebing. Masukannya, mengapa VO pengantarnya ada di segmen pertama –dan harus dijeda teaser sebelum commercial break– dan bukannya digabung saja jelang dialog di segmen kedua?

Kembali, kekurangan segmen dua, tidak menampilkan CG yang cukup untuk memberi penekanan apa yang disampaikan oleh narasumber. Ingatlah, televisi adalah media sekilas. Tidak banyak pemirsa yang terus konsentrasi menonton secara visual dan mendengarkan audio selama program berlangsung. Munculnya CG yang konsisten ter-update sangat membantu penonton yang menyaksikan acara di sela kesibukan lain, atau dengan penerimaan audio terbatas, misalnya sedang mengantre di bank, di ruang tunggu rumah sakit, warung makan, dan lain-lain.

Dialog dengan Ridwan, atlet panjat tebing, juga diupayakan maksimal meski suasana mulai gelap. Sayang, headroom (sisi antara bingkai atas dengan kepala obyek) terlalu lebar. Meski, argumennya mungkin agar lebih terlihat logo federasi panjat tebing, dalam hal ini reporter dan narasumber menjadi tak fokus di layar. Selain itu, wawancara ini kurang footage Ridwan saat beraktivitas, yang seharusnya bisa ditampilkan sebagai insert di sela dialog.

Masuk segmen tiga, sangat disayangkan tak ada Magdalena sebagai host muncul membawakan pengantar feature tentang kehidupan biarawan, suster, dan romo. Pemilihan topik yang sangat menarik, dengan VO pengantar yang sebenarnya sangat memikat. Kembali, persoalan ada CG, tak menjelaskan lokasi, maupun menggarisbawahi setiap poin dalam aktivitas para biarawan-biarawati itu.

Pada saat SOT (sound of tape, kutipan) Bante Bodhi Nadha dan Suter Via sebaiknya juga tak hanya muncul suaranya. Sertakan aktivitas sebagai insert sehingga pemirsa dapat membayangkan apa kegiatan mereka sehari-hari. Pada akhirnya, kegiatan romo dan suster ini muncul di detik berikutnya, tapi setelah tayangan SOT mereka kelar.

Profil Romo Benny Susetyo juga ekselen. Sayang, hanya menampilkan footage Romo Benny dari KompasTv dan MetroTV dan bukannya menemui langsung Romo Benny di Katedral atau janjian di tempat lain di Jakarta. Apalagi, Romo Benny bukan sosok yang sulit ditemui dan diambil SOT-nya secara langsung. Setidaknya, jika dibandingkan Dalai Lama, hehehehe…

Overall, penampilan Magdalena sebagai host cukup firmed. Dengan peralatan audio minim, tim ini bisa menggapi audio maksimal. Paket penutupnya tentang panis cilik Joey Alexander juga tepat mengakhiri program. Meski lagi-lagi, minim informasi dalam bentuk CG.

Well done dan salut untuk rangkaian topik yang dipilih…

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s