Lensa Publik dan Liputan Jurnalisme Drone

Topik menarik program televisi buatan mahasiswa: soal drone, aksi sosial dan kuliner. Perlu sentuhan lebih halus dalam mengemas. 

Kelompok Aldo, Ayu Pratiwi, Putri Hapsari, Christina Maydita, Johanna Elizabeth Jesica Suryawaty dan Chrstine Yapman sebenarnya sudah memiliki angle menarik dalam menampilkan rangkaian berita yang mereka tampilkan.

Untuk live report, mereka memilih pelaksanaan Festival Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan lebih khusus lagi pada tema ‘Jurnalisme Drone’. Kelemahan segmen pertama ini, saat Christina Maydita mengawali pembukaan program berita sekaligus pembukaan segmen pertama. Seharusnya Christina sebagai anchor tidak terburu-buru menampilkan footage jurnalisme drone yang diambil dari youtube, tapi ada VO (voice over) pengantar yang cukup sebelum masuk ke live report.

Demikian pula saat Aldo live report dan bersama Bobby Gunawan, yang menjadi tema sentral jurnalisme drone ini. Selain live report dan wawancaranya kurang dalam, sebaiknya seorang reporter tak menyapa narasumbernya dengan sebutan “Bapak”, yang mengesankan kurangnya kesejajaran antara jurnalis dan sumber berita.

Berikutnya, lagi, kelompok ini terlalu panjang dan dominan memutar youtube terkait jurnalisme drone. Padahal, sebaiknya footage penunjang seperti ini cukup ditampilkan seperlunya, dan menjadi insert sebagai penunjang paket. Tak usahlah diumbar terlalu panjang, sehingga terkesan sebagai pengganjal durasi yang sangat lama.

Johanna Elizabeth, selaku scriptwritter mengakui adanya kesulitan dalam membuat draft pertanyaan dan draft live report oleh reporter. “Saya sendiri sebenarnya belum ada bayangan live report pada saat Festival Media itu bagaimana seharusnya, karena biasanya kami melakukan live report di tempat demonstrasi, maupun konser. Draft yang dibuat pun masih mentah, sehingga pada saat proses liputan terjadi, banyak kata-kata yang harus diubah,” ujar mahasiswa Jurnalistik 2013 ini.

Kelompok ini memilih ‘Jurnalisme Drone’ sebagai tema utama dalam segmen 1, karena adanya ketertarikan dengan topik ini. Mereka berkisah, proses liputan dalam Festival Media ini cenderung tidak mengalami banyak kendala, karena selain berada di dalam ruangan, suasana seminar pun berjalan dengan tertib. Christine dan Jesica selaku camera person mengatur posisi kamera di dalam ruangan seminar agar angle yang diambil lebih menarik. “Kami mengoptimalkan 3 buah kamera, 1 kamera di sisi kanan ruangan dengan mengambil angle medium shot, 1 kamera di pojok kiri ruangan dengan mengambil angle long shot, dan kamera terakhir kami letakkan dekat dengan narasumber dengan jenis shot close up, “ ujar Christine. “Kendalanya hanya terjadi di kamera yang terletak di pojok kiri ruangan, banyak sekali peserta yang mundar-mandir melewati kamera sehingga pengambilan gambar sering terganggu,” kata Jesica.

Segmen Dialog Minim Insert

Masuk segmen dua atau segmen dialog, kelompok ini mengambil tema “Semangat Membangun Jiwa Para Pemuda Indonesia”. Dilakukan di Newsroom Universitas Multimedia Nusantara, dua narasumber yang dihadirkan yakni Bastian Prabususilo selaku ketua Bike For Hope, serta Alexander Aji selaku ketua Wake Up Indonesia.

Sayang, dialog ini menjadi terkesan membosankan karena tanpa insert yang menampilkan footage acara yang sebenarnya telah berlangsung itu. Bike For Hope adalah acara yang dibuat oleh mahasiswa UMN, terutama PR 2013, karena merupakan salah satu syarat lulus mata kuliah event management. Acara ini bekerja sama dengan Bracelet For Hope, sebuah acara penggalangan dana untuk anak-anak penderita kanker. Sedangkan Wake Up Indonesia, yang merupakan tugas mata kuliah event management¸juga mengangkat konsep sosial dengan mengadakan acara untuk komunitas Anak Langit, Tangerang.

Segmen ketiga menampilkan feature kuliner unik di Tangerang. Duo Ayu Pratiwi dan Putri Hapsari in frame sebagai reporter liputan. Kafe Rute 15 dipilih karena kafe ini masih baru, ramai, dan menu yang ditawarkan murah dan menarik.

“Enaknya liputan feature itu lebih santai, bisa take berulang kali’” gurau Putri Hapsari, reporter. Sedangkan menurut Ayu Pratiwi menjadi reporter kuliner adalah pengalaman baru dan menarik baginya. “Senang sih, bisa berbagi info sama masyarakat, mencicipi aneka kuliner, bahkan ikut berkomentar tentang cita rasa suatu makanan,” ujar wanita berhijab ini.

Variasi visual dan keceriaan duo reporter menjadi nilai khusus tersendiri. Kelemahan ada karena minimnya CG serta beberapa saat sorot kepada Ayu hanya tampak bagian belakang hijabnya. Belajarlah tampil tidak membelakangi kamera, atau sebaliknya cameraperson  mencari sudut pandang yang tepat.

Sebagai closing program, sebaiknya reporter tidak langsung menutup liputan sekaligus menutup program besar ini. Kembalikan ke anchor, dan biarkan Christina melakukan tugasnya dengan sempurna: membuka dan menutup Lensa Publik.

Anyway, well done, team!

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Lensa Publik dan Liputan Jurnalisme Drone

  1. ayu says:

    thankyou bapak jojo raharjo🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s