Zidane, Pangeran Kepagian

Zinedine Yazid ‘Zizou’ Zidane menjadi pelatih kepala Real Madrid kesembilan dalam kurun waktu satu dekade terakir. Di usia 43 tahun, ia bak raja yang terlalu muda berkuasa.

Ada kalanya, dalam suatu masa di dunia ini, sebuah nama menjadi begitu trend untuk diberikan kepada para bayi. Ada saat nama berbau ‘Obama’ menjadi favorit orangtua, ada waktu ‘Saddam Hussein’ begitu disenangi, atau di Indonesia nama ‘Soeharto’, ‘Habibie’ dan ‘Joko’ digemari untuk diwariskan.

Dan, tengoklah saat tim nasional Perancis memasuki era keemasan keduanya setelah masa Michel Platini dkk. Pada selang 1998-2006, nama Zidane dipilih seolah sebagai sebutan mulia untuk disematkan kepada generasi baru lahir. Iniah masa Zinedine Zidane menjadi pahlawan bagi tim berjuluk ‘Le Coq’ alias ayam jantan itu, dengan merebut trophi Piala Dunia 1998 di Perancis, Piala Eropa 2000 di Belgia-Belanda serta runner-up Piala Dunia 2006 di Jerman.

Kiprah fenomenal Zinedine Zidane, dalam bahasa Arab lebih kurang berarti ‘iman yang bertumbuh’, tak dianggap tercoreng meski pada 2002 membawa Perancis menuai catatan sebagai ‘juara bertahan terburuk sepanjang sejarah putaran final Piala Dunia’: gagal lolos dari fase grup tanpa mencetak sebiji gol pun. Pun saat empat tahun kemudian Zizou mencabut keputusan pensiunnya dan membawa Perancis ke partai puncak Piala Dunia 2006 di Berlin. Perancis kalah adu penalti dari Italia di partai final dan Zidane diusir wasit Horacio Elizondo di menit ke-110 karena menanduk Marco Materazzi yang memakinya sebagai ‘the son of a terrorist whore’. 

Setelah insiden yang dianggap sebagian besar pencinta sepakbola sebagai kelakuan amat memalukan itu, ayah empat putera ini benar-benar gantung sepatu bola sebagai pemain profesional. Aktivitas bolanya sebatas bermain bersama tim veteran Real Madrid, laga-laga sosial dan juga menggocek si kulit bundar di arena futsal.

Di Madrid, pria berdarah Aljazair ini melanjutkan karir menjadi penasehat presiden Florentino Perez, serta mulai mencicipi peran pelatih sebagai sekondan Jose Mourinho serta Carlo Ancelotti. Empat jagoannya: Enzo, Luca, Theo dan Elyaz merupakan anggota Real Madrid Academy, ada yang menjadi kiper maupun gelandang seperti ayahnya. Juni 2014, Zidane resmi menjadi pelatih Real Madrid Castilla alias Real Madrid B yang bermain di level ketiga Liga Spanyol. Hanya butuh satu setengah tahun baginya saat pekan pertama di 2016 didapuk menggantikan Rafael Benitez sebagai manajer Madrid di La Liga.

“Saya amat bahagia dengan petualangan baru ini. Hanya, tolong jangan bandingkan saya dengan Guardiola, karena saya juga tak pernah membandingkan diri saya dengan siapapun. Pesan utama dari pekerjaan saya dari hari ke hari hanya satu: menang,” itu kalimat Zidane usai latihan perdana Real Madrid yang dipimpinnya. Tak sampai sepekan, janjinya terwujud, Madrid mencukur Deportivo La Coruna lima gol tanpa balas. Gareth Bale mencetak trigol ditambah double Karim Benzema. Adapun Cristiano Ronaldo, bos di lapangan yang dituduh punya andil besar menyingkirkan Benitez, cukup menyumbang dua assists.

Apakah umur 43 tahun terlalu muda bagi Zizou untuk menjadi pelatih profesional? Rafa Benitez yang digantikannya berada di angka 35 saat mulai melatih Real Valladolid di La Liga, Jose Mourinho baru 37 tahun saat memimpin Benfica, dan Carlo Ancelotti berusia 36 tahun kala membesut Reggiana, atau tiga tahun usai pensiun sebagai pemain tengah AC Milan. Untuk ukuran dua mantan pemain La Liga, Luis Enrique Garcia berumur 41 tahun saat menukangi AS Roma setelah tiga tahun sebelumnya menjajal pengalaman sebagai arsitek Barcelona B. Adapun Josep Guardiola, pria yang tak diinginkan Zidane menjadi bahan perbandingan dengannya, baru 37 tahun kala memimpin Lionel Messi dkk di musim perdananya dan langsung berbuah treble.

Memimpin Los Galacticos, tim bertabur gugusan bintang, di umur 43 tahun mungkin bukan usia yang terlalu hijau di antara deretan pelatih profesional liga utama dunia. Meski faktanya, angka itu memang termasuk paling muda di jajaran sejarah pelatih Madrid sepuluh tahun terakhir, bersama Juan Ramón López Caro yang pada usia 42 tahun menggantikan Vanderlei Luxemburgo pada 2005-2006.

Berbekal nama besar sebagai legenda dan dielu-elukan pendukung setia Madrid, mampukah Zizou mengikuti jejak Pep atau Enrique di kubu rival mereka? Atau alih-alih akan serupa Lopez Caro yang hanya bertahan setahun sebagai entrenador Madrid sebelum dilengserkan Fabio Capello jilid kedua?

Berat bagi Zidane untuk jadi seperti sedikit dari orang di jagad ini yang sukses mengoleksi gelar sebagai pemain maupun pelatih. Pengalaman segelintir dihimpit beratnya tekanan dan tradisi pecat di Madrid bakal menyulitkannya.

Tapi, toh, setidaknya, mantan pemain termahal dunia senilai 75 juta euro ini akan mencoba membuktikan ucapan emasnya, “Cest la chose la plus importante qui me soit arrivée dans la vie, tantcomme footballeur que comme personne.” Real Madrid adalah hal paling penting dalam hidup Zidane, baik sebagai pesepakbola, maupun sebagai seorang manusia.

This entry was posted in football evangelist, sport and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s