Menjadi ‘Game Changer’ dalam Hidup

Perlu kita pikirkan, apakah kehadiran diri kita dalam tim member signifikansi tersendiri? Atau semuanya akan berjalan biasa seandainya kita tak ada. Atau, jangan-jangan eksistensi kita justru memperburuk situasi?

Sudah satu jam pertandingan berjalan, tak ada satu pun percobaan pemain Liverpool ke arah gawang Jack Butland, kiper Stoke City, dalam laga perdana Liga Premier Minggu (9/8) lalu. Ambisi Kopites agar tim pinggir Kali Mersey itu setidaknya mampu membalaskan kekalahan 1-6 di laga penghujung musim lalu kian jauh di angan. Tak harus menang dengan margin lima gol, tapi cukup tiga poin yang sama, itu harapan para penggemar Liverpool di awal season 2015/2016.

Menit 62 detik ke-18 Emre Can masuk dari tepi lapangan menggantikan Adam Lallana. Sebelum menginjak rumput hijau Stadion Britannia, pemain berpaspor Jerman keturunan Turki itu komat-kamit membaca doa. Dan, jedar, hanya berselang 17 detik, peluang pertama Liverpool lahir dalam pertandingan itu. Sepakan kaki kiri Dejan Lovren mengarah ke gawang Stoke. Seperti ungkapan, yang pertama memudahkan segalanya, kemudian lahir peluang berikutnya. Berturut-turut lahir ancaman lewat tendangan kaki kanan Christian Benteke, sundulan Martin Skrtel, serta shooting Phil Coutinho yang masih melambung ke atas gawang Butland.

Menit 77 detik ke-31, Roberto Firmino Barbosa de Oliveira menjadi pemain pengganti kedua. Ia mensubstitusi peran Jordon Ibe. Kehadiran pemain baru asal Brasil ini sudah lama dinanti para pendukung The Reds. Sebagian besar penonton menyayangkan mengapa mantan pemain Hoffenheim ini tak turun sejak menit awal. Bisa jadi, peracik strategi Liverpool beranggapan Firmino belum fit benar karena tak ikut seluruh rangkaian ujicoba pramusim, selepas liburan usai main di Copa America. Bisa jadi Brendan Rodgers merasa Firmino perlu mengawali debut Liga Inggrisnya dengan menjadi pengamat dulu dari bangku cadangan. Karena Liga Premier tentu berbeda dengan Bundesliga.

Peran pembeda

Dan, lihatlah. Pemain yang bakat awalnya pertama kali ditemukan oleh seorang dokter gigi negerinya itu, sungguh memberi kontribusi signifikan. Tujuh menit kemudian, Phillipe Coutinho mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan ini. Emre Can dan Roberto Firmino menjadi pembuka ruang dan membuat alur serangan Liverpool lebih bernyawa. Mereka menjadi pembeda, dan kemenangan pun resmi di tangan.

Bagaimana hidup kita di tengah tim di mana kita berada saat ini? Sudahkah memberikan peran berarti layaknya dua pemain pengganti tadi? Jangan-jangan, kita sudah sejak awal sejak tim itu ada, tapi sesungguhnya kehadiran kita hanya sebagai pelengkap saja. Semata-mata agar jumlah pemain tak dianggap kurang.

Ikut dari awal ataupun pertengahan permainan, pastikan kita ada sebagai ‘energyzer’ atau ‘game changer’ dalam tim di mana kita berada. Dan orang lain pun berkata, ‘Gak ada elo gak rame’. Gak ada elo, kita gak bakalan menang…

This entry was posted in football evangelist, inspiration/biography and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s