Sepasang Rajawali Mencari Sakti

Pengalaman melepas anak di hari pertama sekolah selalu menimbulkan keharuan tersendiri.

Berita televisi di awal tahun ajaran baru menyajikan fenomena unik, khususnya dari desa dan kampung di pelosok nusantara. Pada hari pertama sekolah, anak-anak SD selalu bangun dini hari. Subuh mereka sudah ada di gerbang sekolah. Apa tujuannya? Berebut bangku. Jika tak datang pertama, mereka terancam tak mendapat posisi duduk terbaik sepanjang satu semester ke depan dan harus rela ada di deret belakang kelas. Sebuah sistem atau pola pembelajaran yang patut dikritisi. Tapi apa boleh buat, itulah faktanya. Sejak kecil mereka sudah diajar berkompetisi, bahwa hidup itu keras. Dan semua dimulai dari bangun pagi.

Hari pertama Einzel kelas 3 SD. Diretweet Mendikbud.

Hari pertama Einzel kelas 3 SD. Diretweet Mendikbud.

Pagi ini, tahun ajaran baru 2015/2016 dimulai. Greget kehidupan setelah Libur Lebaran –secara kalender Lebaran selalu maju sepekan, jarang-jarang hari pertama sekolah ada di Juli setelah libur Lebaran- meriah dengan semangat baru di dunia pendudukan. Tak kurang, Menteri Pendidikan Dasar Anies Baswedan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandi bersehati menyatakan perlunya orang tua hadir di hari pertama sang anak bersekolah di tahun ajaran baru.

Anies bahkan berkicau di akun twitternya @aniesbaswedan, ragam kegiatan apa yang bisa dilakukan orangtua di hari pertama anak bersekolah. Selain mengantar anak ke sekolah, juga berkenalan dan bertukar kontak dengan wali kelas, guru, serta kepala sekolah, serta berkenalan dengan orang tua murid lainnya.

Orangtua dan hari pertama sekolah. Ajakan menteri.

Orangtua dan hari pertama sekolah. Ajakan menteri.

Gairah itu juga ada di rumah kami. Mikhael Einzel, 7, hari ini menapaki hari baru di kelas 3 Sekolah Dasar. Sementara, Gabriella Kirana, 3, berniat sekolah lebih ‘serius’. Kalau sejak Maret lalu Kira numpang belajar di taman kanak-kanak samping rumah, kini ia ada di playgroup berjarak 2,5 kilometer dari rumah. Percaya diri dalam rompi dan topi kedodoran, puteri kecil kami bersemangat di baris terdepan, saat Bu Rohana –guru barunya memberi instruksi, “Lencang depaaaaan, grak..”

Jpeg

Kirana di hari pertama playgroup. Antusiasme tinggi.

Kami merelakan mereka bak melepas rajawali yang berjuang mencari ilmu baru. Kami berharap, sepasang rajawali itu menemukan kesaktiannya. Bukan soal ranking atau nilai akademik terbaik, tapi bagaimana Einzel dan Kira mendapat pendidikan karakter yang pas, tanpa bullying dan tekanan keras demi mencapai sesuatu, bergembira menatap masa depan penuh harapan dalam genggamannya.

Terbanglah rajawali kami, bersukalah dalam duniamu…

This entry was posted in family and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s