Fokus pada Angle Tongseng

Liputan yang fokus pada topik tertentu. Sayang, tersandung soal akurasi.

Dalam mengerjakan take home test Ujian Akhir Semester mata kuliah Teknik Presentasi Media Elektronik di Universitas Bakrie, Bimo Wicaksana, Desi Yolanda Tarigan dan Hairana meliput pusat penjualan takjil di Masjid Agung Sunda Kelapa.

Di antara berbagai pilihan liputan, mereka fokus pada angle yang jelas, dalam hal ini tongseng sebagai menu andalan yang dijual, serta bazar Ramadhan. Langkah untuk fokus pada sebuah angle seperti ini amat penting, karena di sinilah pemirsa akan dengan mudah menangkap pesan apa yang ingin disampaikan reporter/media yang menyampaikan berita (pesan) itu.

Mereka tampil dengan deskripsi yang ‘basah’, menjelaskan detail tongseng sebagai ‘jualan utama’ liputan ini. Disebutkan bahwa penjual tongseng sudah berada di sana sejak 1985, dengan 4 menu andalan daging kambing yakni tongseng, sate kambing, nasi goreng kambing, dan gulai kambing. Sayang, fokus mereka itu sedikit ‘ternoda’ saat Bimo beralih ke bazar ramadhan yang disponsori susu cap beruang.

Seharusnya, fokus aja ‘main’ di tongseng. Ambil secara detail pengolahan, mulai dari proses memasak, membumbui dan menghidangkannya. Wawancara Toro selaku pemilik kedai tongseng sudah tepat, tinggal pengunjung kawasan Masjid Agung Sunda Kelapa, sebaiknya dipilih dari pelanggan atau konsumen Toro juga. Semakin fokus, semakin enak membungkus paket liputan itu, semakin mudah mengirim pesan dan demikian pula penerimanya.

Masalah kecil tapi besar yang mengganggu yakni soal akurasi. Benarkah Masjid Agung Sunda Kelapa ada di kawasan Jakarta Selatan? Bukannya lokasi itu masuk wilayah Kecamatan Menteng, Jakarta Puast?

Di balik layar peliputan

Bimo berkisah, sebenarnya di lokasi peliputan mereka sempat menemukan ‘obyek’ menarik.

“Kami bertemu dengan pria setengah baya yang memiliki keterbasan fisik, yaitu tuna netra. Walaupun beliau memiliki keterbatasan fisik, namun beliau dapat menggunakan komputer dan beraktivitas layaknya manusia normal,” kisahnya. Sayang, saat akan dieksplor lebih jauh, pria itu hendak bergegas pulang ke rumahnya di daerah Ciputat. Di sinilah pentingnya kekuatan lobby dan teknik persuasi untuk ‘membujuk’ narasumber agar mau menjadi obyek peliputan.

Dalam menjalankan tugas liputan, mereka mengaku terkendala peralatan, seperti memori yang kurang memadai sehingga setiap pengambilan gambar harus bersusah payah mengulangnya. “Tripod tanpa bracket ke kamera sehingga banyak sekali gambar yang goyah sehingga mau tidak mau kami harus menahan nafas saat peliputan,” kata Desi.

Rana menambahkan, waktu yang sangat terbatas dikarenakan pengerjaan ujian lainnya pun menjadi kendala dalam proses peliputan. Lagi-lagi, di sinilah peran perencanaan yang matang menjadi kekuatan suksesnya peliputan.

This entry was posted in campus, jakarta, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s