Memikirkan Liputan yang ‘Tidak Biasa’

Liputan takjil untuk buka puasa di masa Ramadhan di Jakarta kebanyakan mengarah ke Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Pikirkan, apa yang bisa menjadikan liputanmu berbeda dari yang lain.

Dalam topik yang sama, pasti bisa dihasilkan gaya dan kemasan liputan yang berbeda, asal berpikirnya ‘out of the box’. Mengemas berita dengan treatment unik. Itulah yang seharusnya dilakukan Mailan Fransian, Zudan Abdarrahman, Rizki Asra, dan Eunike melysa saat mereka bersama meliput pusat jajanan di Benhil, sebagai take home test Ujian Akhir Semester mata kuliah Teknik Presentasi Media Elektronik di Universitas Bakrie.

Jangan ragu untuk tampil berbeda, membawakan ‘element of surprise’ yang membuat paket beritamu berkesan dan tak dilupakan pemirsa. Rizki masih tampak malu-malu saat tampil on-cam berstand-up di depan lokasi pasar. Pun saat wawancara, suaranya tak terlalu jelas, dan tak terlihat gaya yang cair, bahkan wajahnya tak muncul, tertutup wajah Rudy sang penjaja dan Mila sebagai pembeli, yang sesungguhnya juga tak terlalu menarik.

Dari sisi pengambilan gambar, jangan segan untuk take ulang kalau melihat kualitas gambarnya kurang meyakinkan, seperti gambar Rizki yang blur dan kontras dengan kejernihan gambar pasar. Secara stok visual, sebenarnya liputan kelompk ini cukup kaya gambar. Sudut Benhil diambil dari banyak sisi. Sayang, nyaris tak ada yang luar biasa dari gambar-gambar itu. Pun, pilihan gambar yang disajikan gambar kurang detail. Sempat menyorot cukup lama ke kemasan kolak biji salak, tapi sayang kemudian lewat begitu saja sebelum ‘dieksploitasi’ secara istimewa.

Kesan peliputan

Rizki berujar, salah satu kesulitan kelompoknya karena tak mudah mencari spot yang pas dengan lokasi, untuk menggambarkan beberapa objek yang ingin diambil ke dalam satu frame agar bisa mewakili pesan yang ingin ditampilkan ke publik. “Kami juga ditantang untuk tampil profesional di tengah ‘ketidakprofesionalan’ kami, karena saat itu juga hadir tim liputan dari beberapa kru televise berseragam,” ceritanya.

Sementara itu, juru kamera Eunike Melysa memaparkan kendalanya mengambil gambar tanpa tripod. “Agak sulit melakukannya, terutama saat take anchor di perpustakaan. Keterbatasan peralatan membuat kami tidak menggunakan tripod di ruangan, jadi gambar Mailan ada yang sedikit goyang,” paparnya. Sebuah pelajaran berarti. Jangan mengorbankan kualitas layar dengan alasan keterbatasan sarana.

Sebagai host di ‘Ritma TV’, Mailan mengaku ia mengalami tingkat nervous cukup tinggi. “Saya belajar bagaimana sebaiknya memlih kata-kata yang baik dan benar agar penonton dapat menangkap apa yang ingin disampaikan dengan mudah,” katanya. Ia pun menyimpulkan, diperlukan jam terbang dalam segala hal, mulai dari proses persiapan liputan dan juga siaran di studio.

Satu orang lagi memegang peranan penting di balik layar. Zudan yang menjabat produser menceritakan kerumitannya berhubungan dengan birokrasi. “Banyak yang harus diurus dari mulai satpam rese’ yang sok minta keterangan sampe orang sok ganteng yang nolak untuk diwawancara,” paparnya.

Bagi kelompik ini, seperti ditegaskan Zudan, No guts No story. Keberanian dan nyali juga yang akhirnya berbicara menyelesaikan masalah. “Dengan semangat ingin belajar, akhirnya semua bisa teratasi,” pungkasnya.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s