Musik Pengiring Bukanlah yang Utama

Musik latar member warna tersendiri dalam sebuah paket berita. Tapi, patut diingat, ini news, bukan video clip. Jangan sampai terlalu dominan dan menutup porsi berita.

Bendungan Hilir atau Benhil yang terletak di kawasan segitiga antara Sudirman dan Pejompongan Jakarta Pusat, selalu menjadi spot atau tak terlupakan saat momen puasa. Deretan penjual takjil alias makanan ringan, yang sebenarnya juga ada di hari-hari di luar Bulan Ramadhan, menjajakan sajian khas berselera dan membuatnya sebagai titik khas ibukota.

Karena itu, tak salah Muhammad Devandrey Delmeizar, Sony Wicaksono, dan Sumayya memilih Benhil sebagai lokasi feature ujian akhir semester mata kuliah Teknik Presentasi Media Elektronik ujian akhir mata kuliah Teknik Presentasi Media Elektronik.

Penampilan Mayya sebagai anchor cukup percaya diri. Pada pembuka siaran (lead live) kritik ada tangannya yang tampak kaku, sementara pada closing siaran, penyebutan kata ‘kalian’ untuk menyapa pemirsa terasa janggal dan kurang enak didengar. Bagus jika kata ‘kalian’ diganti ‘Anda’ atau lebih netral –pemirsa saja, misalnya.

Duet Devan sebagai reporter lapangan (stand-upper) dan Sony sebagai juru kamera sebenarnya menjanjikan paket berita menarik. Gambar-gambar yang diambil berasal dari banyak angle. Tak lupa, saat mereka menyebut ‘daftar’, misalnya siomay, gorengan, dan nasi padang, disertai dengan visual memadai terkait apa yang disampaikan reporter. Keterbatasan alat, perekam suara memakai telpon seluler bisa dimaklumi, dan tak menjadikan Devan terlalu kaku, meski mungkin bakal berbeda treatmeant-nya jika menggunakan clip-on yang bisa membuatnya bergerak lebih bebas.

Masalah ada pada musik latar, irama padang pasir yang menyertai paket berita ini. Awalnya asyik, musik pendukung masuk dari time code 01:12 terus hingga 02.05. Bayangkan, lebih dari 50 detik, betapa panjangnya. Dan, selama musik itu mengalun, tak ada CG alias character generator atau teks bermain di layar (kecuali tulisan Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat), sedikit natural sound yang kurang dieksploitasi, serta sama sekali tak menyertakan wawancara dengan narasumber. Pertama muncul, musik latar ini terasa menyegarkan, tapi saat diputar terlalu lama dan tak berisi ‘apa-apa’, pemirsa jadi bertanya, “What’s next? Ada apa di sini?”

Catatan peliputan

Sony berkisah, liputan mereka berjalan seru, bisa terjun langsung ke lapangan, sekalian belajar bagaimana liputan di depan orang banyak. “Sebagai juru kamera saya merasa bagaimana seninya mengambil gambar di lokasi dengan banyak orang berdesak-desakan,” katanya. Dalam liputan seperti ini, mereka berkesimpulan harus kuat dalam persiapan, termasuk urusan teknis. Misalnya, bagaimana menjamin ketersediaan baterei, serta alat-alat pendukung kamera lainnya.

Pengalaman berkesan. Mungkin saat ini ia berdesak-desakan mengambil gambar di lokasi penjualan takjil, bisa jadi suatu saat nanti Sony dan kawan-kawannya merasakan ribetnya menjadi juru kamera di KPK, konser musik, atau Istana Negara. Sukses membentang di masa depan!

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s