Berpikirlah untuk Tidak Live Mematung

Liputan suasana penjualan takjil di kawasan Menteng Atas. Kreatif penyajiannya. Cuma, reporternya terlalu kaku.

Dara Negeri tampil penuh percaya diri sebagai presenter berita, mengantarkan live menuju lokasi live Haqi Prasutio di lokasi pusat penjualan makanan dekat masjid Al Bakrie, Menteng Atas. Serius sekali mereka menggarap materi take home test Ujian Akhir Semester Teknik Presentasi Media Elektronik  Universitas Bakrie.

Sayang, begitu ‘toss’ke Haqi di tempat yang menjadi spot keramaian menjelang Buka Puasa, Haqi hanya berdiri mematung. Tegas sih, firm bicaranya, hanya gaya berdiri kaku itu menjadikan liputannya amat monoton. Padahal, di sisinya ada ibu penjual kolak atau dawet yang bisa diajak ngobrol, membuat live bisa menjadi lebih hidup.

Di sinilah seharusnya peran Eka Nur Septia dan Octaviani Sari sebagai juru kamera sekaligus field producer bisa menata tampilan reporternya agar lebih ‘berwarna’di layar. Alih-alih berdiri kaku bak nisan di kuburan, reporter televise harus memberikan ‘element of surprise’ di layar, bisa wawancara, partisipatif membeli jajanan, memegang sesuatu, atau live sambil berjalan. Walk and talk.

“Dalam live ini, kami belajar lebih berani untuk berbicara di depan kamera dikelilingi banyak orang,” kata Haqi. Ia pun mengaku berulang kali take demi menghasilkan artikulasi laporan live yang baik.

Ok, next time better, guys…

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s