Live Report yang ‘Hidup’ karena Antusiasme Reporter

Laporan ini menyajikan suasana Masjid Sunda Kelapa menjelang Buka Puasa. Cukup menarik karena ada semangat besar dari reporternya. Ada beberapa hal yang menjadi catatan untuk dipoles.

Sebagai materi Ujian Akhir Semester mata kuliah Teknik Presentasi Media Elektronik, empat sekawan anggota kelompok ini memotret suasana Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Amal Burga Muhammad menjalankan peran sebagai cameraperson dan editor, Hara Prakasa sebagai News Anchor dan script writer, Rian Marfinsyah Rahim sebagai Reporter dan script writer, serta Ridwan Aji Pitoko menjabat Field Producer dan cameraperson.

Antusiasme Rian menjadi kunci live memotret penjual takjil di salah satu masjid besar Jakarta ini. Gairahnya saat berbicara menyambut ‘toss’ dari presenter, mewawancarai pedagang, serta bercerita suasana di sana, menjadi kelebihan sendiri.

Kekurangannya, bukan tak ada. Tampilan plasma di samping anchor memudahkan pemirsa mengetahui topik apa yang dibicarakan, serta format apa yang muncul kemudian (live). Sayangnya, sebelum Hara mempersilahkan Rian berbicara, Rian sudah tampak di layar komat-kamit duluan. Entah itu menghapal naskah, mempersiapkan diri, atau sudah ‘live’ sebelum di-‘cue’ atau mendapat aba-aba dari studio.

Kelemahan lain ada pada closing. Seharusnya tak perlu ada adegan seperti disebut di naskah ini sebagai ‘walk out from frame’. Baiknya, cukuplah ia standby di sana, sampai benar-benar item berita live itu selesai. Menyelesaikan live dengan berbalik memunggungi atau meninggalkan penonton tentu menimbulkan kesan tak elok dipandang.

Secara pasca produksi atau editing, video ini sudah keren. Selain ada tampilan plasma di samping presenter, ada pula running text atau newsticker menyertai program berita. Sayangnya, dalam berita itu tak dilengkapi CG (character generator) yang menunjukkan tema apa yang sedang dibicarakan. Kalau membuat running text serta narasumber saja bisa, harusnya membikin CG di layar bukan pekerjaan susah, bukan? Sayang kalua CG nya hanya muncul sekali ‘Semarak Ramadhan 1436 H’.

Kesan peliputan

Ryan memaparkan, ternyata menjadi seorang reporter itu tidak semudah yang sering dilihatnya di televisi. Butuh banyak latihan untuk bisa menjadi reporter yang sudah handal seperti mereka. “Saya harus mengulang bahkan hampir 5 kali karena salah baca teks, lupa mau ngomong apa, ter-distruct pengunjung, dll. Tapi ternyata disitulah keseruannya, karena bisa melatih diri untuk tampil di depan umum, dan bisa dilihat banyak orang,” katanya.

Sementara itu, Hara sebagai newsanchor menuturkan, sebelum proses take video, ia berlatih dengan sungguh-sungguh untuk  dapat membaca sript berita agar dapat dibacakan dengan tepat dan benar. “Sebenarnya news anchor tidaklah hanya membacakan berita dengan benar  sesuai dengan yang ada di script, tetapi haruslah dibacakan dengan intonasi yang tepat sehingga dapat menjiwai berita yang dibawakan,” ungkapnya.

Dua juru kamera di kelompok ini, Ridwan dan Amal mengaku tak ada kesulitan berarti pada proses pengambilan gambar di lapangan. “Semua berkat kerja sama tim yang baik serta reporter yang memberikan performa yang baik ketika liputan,” ungkapnya. Mereka kompak menyatakan, selama mengikuti kelas Teknik Presentasi Media Elektronik, mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan bagaimana menjadi seorang jurnalis, dan hal tersebut sangat menyenangkan  karena  dapat menambah  pengalaman dan pengetahuan di bidang jurnalistik.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s