Lebih Luwes dan ‘Santai’ lah di Depan Kamera

Demam panggung kadang menjadi factor pengganggu yang membuat seorang reporter atau anchor tampil kaku di layar kaca. Tak ada lain, jam terbang menjadi solusi nyata.

Guna memenuhi kewajiban Ujian Akhir Semester mata kuliah Jurnalistik TV untuk Universitas Multimedia Nusantara, Alif Gusti, Regina Pertiwi, Bernadeta Dyah, dan Martinus Eko membuat video liputan pada konser Super Junior di Indonesian Convention Exhibition (ICE), BSD, 3 Mei 2015 lalu.

Beberapa elemen pendukung video ini cukup ‘meyakinkan’, misalnya yel-tel ELF – sebutan kelompok penggemar Suju, visual antrean penonton, maupun CG yang menjelaskan harga tiket dipatok mulai Rp 1,4 juta. Penampilan Regina sebagai host juga tak mengecewakan, meski blocking ruangannya datar banget.

Masuk ke Alif Gusti sebagai reporter/stand-upper, tampil cukup pede, dengan suara tegas dan mantap. Sayang, saat sesi wawancara dengan lima perempuan fans fanatik Suju asal Tangerang, ia tampak amat kaku. Lihat dari caranya memegang mike, yang seolah begitu berjarak. Jangan ragu tampil lebih dekat, akrab dan ‘cair’ dengan narasumber. Akibatnya, Alif kurang bisa mengeksplorasi sisi-sisi yang harusnya bisa dimaksimalkan. Saat seorang ELF menjawab mereka harus puasa bareng demi bisa mengumpulkan dana untuk membeli tiket misalnya, harusnya bisa diolah dengan asyik dan menjadikan materi live lebih ‘bunyi’.

Pun saat closing live, Alif meminta mereka menyanyikan semacam yel-yel atau lagu khas Suju, sayang bener kalau mereka hanya menjawab sesingkat itu. “Nothing Better Than Won Kyu…“ Dalam kasus seperti ini, beri mereka kesemapatan berlatih dalam posisi kamera off record, dan pastikan kompak dalam memilih yel atau lagu terbaik. Tapi kalau sudah tiga atau empat take hasilnya masih kurang meriah, tampaknya perlu dievaluasi materi yang mereka yel-yelkan.

Yang bisa memoles rasa grogi dan kurang tanggap dari reporter seperti ini tak lain adalah memperbanyak jam terbang tampil. Sesering mungkin berlatihlah di depan kamera, dan membuat rekaman-rekaman di youtube, dengan meminta komentar kawan, dosen, atau siapapun untuk memberikan masukan, yang selanjutnya sangat berguna sebagai portofolio pribadi.

Kesan liputan

Toh demikian, kelompok ini menganggap tidak banyak kesulitan yang mereka alami, lantaran telah belajar dari kesalahan pada liputan sebelumnya, yaitu konser One Direction dan kualifikasi Piala Asia U-23 pada Ujian Tengah Semester. Jika pada tuags UTS itu, Bernadeta berlaku sebagai stand-upper, maka kali ini Alif yang menjadi stand-upper, dengan Regina menggantikan posisi Alif sebagai camera person.

Mereka tiba di gedung pertunjukan pukul 09.00 WIB, suasana sudah mulai ramai penggemar Super Junior. “Kami langsung mempersiapkan peralatan, dan mencoba mencari spot yang sekiranya sesuai dengan angle yang akan kita ambil yaitu kemeriahan dan kepadatan fans,” kisah Regina. Setelah semua peralatan telah settled dan Alif telah siap, mereka mewawancarai beberapa fans, namun setelah beberapa kali take, hasilnya kurang memuaskan lantaran fans itu wawancarai kurang menunjukkan antusias mereka di depan kamera.

Kemudian bertemulah mereka dengan narasumber yang dari jauh terlihat begitu heboh dan antusias, dan hanya membutuhkan tiga kali take. Namun, kesalahan kembali terjadi. Microphone yang Alif gunakan belum dinyalakan sehingga tidak ada rekaman suara yang masuk dalam video. “Hal ini membuat kami sedikit patah semangat, namun, kami sesegera mungkin mencari narasumber lain, lantaran waktu terus berjalan dan konser akan segera dimulai pada pukul 14.00 WIB,” kata Bernadeta.

“Pada wawancara ketiga, yang akhirnya kami ambil untuk video, berjalan lancar. Kami membutuhkan tiga atau empat kali take, dan setelah itu, kami membantu beberapa rekan kami yang belum selesai ataupun membutuhkan bantuan,” urai Alif.

Hal yang menjadi pelajaran kami pada liputan kali ini adalah bagaimana persiapan yang seharusnya dilakukan, solidaritas sesama rekan jurnalis yang akan bermanfaat bagi satu sama lain, dan juga ketepatan waktu. “Kelompok kami dipinjamkan alat oleh kelompok lain, dan kelompok lain kami bantu secara teknis pula. Hal ini membuat kami merasa satu, baik dalam segi profesi yang sedang kami bangun, maupun secara personal,” kata Regina. Alif pun mengambil pelajaran berharga bahwa semakin sering kita turun ke lapangan, maka semakin lancar kita dalam hal tersebut.

Ala biasa karena biasa. Seseorang menjadi pakar karena jam terbang penguasaannya tinggi.

This entry was posted in campus, journalism. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s