Tiga Hukum Utama Jurnalistik: Akurasi, Akurasi, Akurasi

Karya jurnalistik yang ditonton orang banyak kerap menjadi acuan dalam berbagai hal. Mulai soal pemilihan narasumber, sampai pilihan kata yang digunakan. Karena itu, hati-hatilah dalam soal keakuratan.

Akurat, artinya tepat sasaran, tidak salah, dan jelas. Pelajaran ini tampaknya harus dicamkan empat anggota kelompok yang memperjuangkan tugas take home mereka sebagai prasayarat Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Wawancara narasumber aktivis buruh. Awas jangan salah nama dan atribusi.

Wawancara narasumber aktivis buruh. Awas jangan salah nama dan atribusi.

Apa yang dihasilkan Yovita Debora, Melani Rahmayanti, Tsarina Maharani dan Vinsensia Dianawati sebenarnya cukup berkelas. Di bagian anchor yang membawakan lead package dan lead live, mereka mengemasnya sedemikian apik. Tak hanya bloking pembawa berita yang dipilih outdoor sehingga tak kaku, penampilan Melani pun cukup percaya diri menatap kamera. Lihat gerakan tangannya saat menyebut sepuluh tuntutan buruh. Istimewa lagi, di sudut kanan layar, atau bagian kiri host, ditampilkan plasma yang menjelaskan topik apa yang sedang dibawakan sang presenter. Insert visual yang menjadi pendukung liputan pun amat memadai, misalnya mendapat gambar peserta aksi berteatrikal layaknya terpidana menghadapi hukuman gantung.

Sayang, saat masuk package, kesalahan mendasar terjadi. Bagus sekali kelompok ini mengambil satu elemen peserta aksi secara khusus, dengan tuntutan aksi yang sangat spesifik: tolak hukuman mati. Problem besar terjadi saat wawancara terjadi, dan CG (Character Generator) alias tulisan di layar menuliskan nama narasumber: Minah, Ketua Migrant Care. Sang tokoh sebenarnya cukup populer, dialah Anis Hidayah, Ketua Migrant Care, yang bahkan sempat diminta pertimbangan secara khusus oleh Presiden Joko Widodo terkait hukuman mati bagi Mary Jane.

Timbul pertanyaan: bagaimana mungkin kelompok ini menulis Nama Minah, alih-alih Anis Hidayah yang amat kondang itu? Beberapa kemungkinan muncul, seperti pendengaran yang kurang jelas karena kencangnya suara demonstran. Namun, satu opsi yang menyeruak, mungkin mereka lupa menanyakan nama narasumber, dan asal menulis saja nama Minah di CG. Kalau benar itu terjadi, celakalah para pemirsa televisi di tanah air karena menjadi korban penipuan massal!

Pelajaran moralnya: jadilah wartawan yang disiplin verifikasi. Rajin riset, dan senantiasa check, re-check, bahkan sampai triple check. Jangan mudah percaya pada keterangan satu sumber, terus konfirmasi demi terpenuhinya tiga hal utama dalam sebuah karya jurnalistik: akurasi, akurasi, dan akurasi.

Di balik layar peliputan

Pose riang usai 'kerja'. Harus fokus dan jangan mudah teralihkan perhatian.

Pose riang usai ‘kerja’. Harus fokus dan jangan mudah teralihkan perhatian.

Yovita memaparkan, dalam peliputan May Day 1 Mei, mereka menggunakan 2 kamera DSLR salah satunya digunakan untuk Live On Tape (LOT) dan satu lagi dipakai untuk belanja stock shot visual. Selain kamera, mereka juga membawa tripod, mic, dan recorder berupa handphone. Sebelum berangkat ke Bundaran Hotel Indonesia, mereka berkumpul terlebih dahulu di kampus. “Kami memutuskan untuk berkumpul pukul 06.00 dengan toleransi paling telat 06.30. Kami pun membuat kesepakatan jika salah satu dari kami telat, terpaksa akan ditinggal,” urai Yovita.

Menggunakan Transjakarta dari Blok M, setiba di kawasan Bundaran HI mereka pun berbagi tugas. Rahmayanti (Melanie) dan Dian mencari tempat untuk lokasi LOT, sementara Yovita dan Rani belanja rambar sebanyak-banyaknya. Dalam tugas ini Melanie sebagai cameraperson dan news anchor, Dian sebagai reporter dan pembuat naskah berita, Yovita sebagai cameraperson dan editor, dan serta sebagai pembuat naskah berita dan editor.

“Kami semua saling bekerjasama, dan tidak ada dari kami berada pada porsi kerja yang dominan. Kerja sama dalam tim sangat dibutuhkan dalam keberhasilan mencapai sesuatu,” papar Melanie. Mereka bercerita, dalam peliputan di lokasi mendapat kemudahan untuk belanja gambar, misalnya Rani diizinkan untuk menaiki mobil RTV guna mengambil gambar keseluruhan kondisi Bundaran HI.

Berempat mereka menyimpulkan, pelajaran yang didapat dari liputan lapangan seperti ini harus tahu kondisi medan tempat liputan, harus sudah persiapan semuanya dari rumah apa yang diperlukan, serta harus fokus dan cepat melihat keadaan baru. “Terpenting, jangan terlalu mudah ter-distract persoalan lain. Harus fokus,” kata Dian, Mel, Yovita, dan Rani.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s