“Siwon, My Future Husband…”

Liputan peristiwa dengan crowd alias kerumunan massa, seharusnya mengoptimalkan gambar-gambar dramatis yang didapat. Jangan segan-segan memaksimalkan natural sound yang ada di sana.

Dalam pengerjaan Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara, Johanna Elizabeth, Livani Rizky, Gilang Gegono, Maya Vivian, dan Magdalena bahu-membahu mengemas liputan konser Super Junior Six Show di Indonesia Convention Centre (ICE), Bumi Serpong Damai.

Evaluasi bermula dari penampilan Magda yang diposisikan sebagai host acara. Kesan yang didapat, performanya terlalu kaku, di samping pemilihan wardrobe (busana) dan backdrobe (latar) yang semestinya bisa lebih kreatif lagi. Come on, Magda, seharusnya posisi tanganmu tidak sekaku itu.

Berada di kerumunan massa. Belajar peka melihat hal yang 'luar biasa'.

Berada di kerumunan massa. Belajar peka melihat hal yang ‘luar biasa’.

Masuk ke footage liputan. Di sini seharusnya bisa lebih dieksplorasi keramaian dan suasana yang didapat di lokasi. Mereka sukses mendapatkan gambar-gambar dramatis, protes serta riuh-rendah calon penonton yang kecewa karena pintu utama gedung pertunjukan tak kunjung dibuka, sehingga ada insiden pintu kaca ICE lepas. Harusnya, roll di adegan ini. Maksimalkan, ambil gambar lebih close, detail, dan biarkan natural sound (teriakan “Buka, Buka…) mendominasi. Untuk beberapa saat, tak perlu ada narator tak masalah, karena menjual gambar istimewa itulah kelebihan mereka.

Hal senada perlu dilakukan saat menyorot kemarahan orangtua yang mendampingi anaknya serta gambar penonton pingsan. Jangan diperlakukan secara biasa. Malah bisa diperpanjang shotnya, atau reporter ber-PTC di depan ELF –penggemar Suju- yang semaput itu. Bayangkan ada reporter on-cam di dekatnya dan berkata, “Saudara, pertunjukan masih berlangsung lima jam lagi, tapi korban mulai berjatuhan. Seorang perempuan yang belum dapat saya ketahui identitas lengkapnya ini pingsan, karena tak kuat berdesak-desakan ketika antre menukar tiket…. bla .. bla .. bla…” Pesan moralnya: Jangan perlakukan hal yang luar biasa dengan biasa saja.

Masukan untuk Maya dan tim field producer, belajarlah tampil lebih simple. Kabel-kabel earphone yang terjuntai memanjang menjadikan performa Maya kurang sedap dipandang, apalagi kabel itu berwarna putih. Rapikan, dan taruh di belakang badan.

Selain soal tak adanya CG, keterangan teks yang ada di layar, penampilan reporter di lapangan bisa lebih ekspresif lagi. Jangan kalah dari ekspresi dua ELF yang begitu histeris dan mengumandangkan teriakan, “Siwon, my future husband…” Maya bisa lebih aktif lagi daripada hanya berkomentar singkat, “Mereka penggemar dari Choi Siwon..” (Ya iyalah, itu juga bisa dilihat dari layar, tak usah diterangkan lagi). Cobalah lebih ekspresif dalam berkomentar, berteriak, atau melakukan element of surprise lain dalam show di lapangan. Sekali lagi, jangan perlakukan hal yang luar biasa dengan biasa saja.

Kesan peliputan

Liputan event besar. Eksplorasi keramaian dan suasana.

Liputan event besar. Eksplorasi keramaian dan suasana.

Johanna, yang kebagian tugas sebagai produser dan narator package, memaparkan, kesan saat meliput konser Super Junior ini sangat menarik. “Kami bisa masuk ke area antrean tiket, dan bisa mengetahui bagaimana situasinya serta dapat mengambil gambar secara leluasa,” katanya. Dipaparkan pula, Maya baru kali ini menjadi seorang reporter dan pengalaman pertama ini cukup membuat jantungnya berdebar. “Tak sedikit pula take reporter yang diambil karena Maya sesekali gugup dan salah bicara,” papar Gilang, cameraperson dan editor. No problem, itu hal yang wajar.

Livani, juru kamera lain, menegaskan, liputan kali ini terasa lebih mudah dan terkonsep karena kami sudah belajar dari pengalaman liputan yang sebelumnya (UTS), dan membuat kami lebih prepare terhadap segala macam kemungkinan yang akan terjadi. Sekali lagi mereka membuktikan ungkapan: kegagalan dalam persiapan, sama dengan mempersiapkan kegagalan. Sebagaimana kaum militer punya semboyan: perencanaan dan persiapan yang baik, adalah separuh dari kemenangan.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s