Kaya Visual, Kaya Isu, Tapi Tanpa Live Report

Liputan unjuk rasa Hari Buruh dari berbagai perspektif. Punya belanjaan visual amat banyak.

Aretyo Jevon, Angelina Rosyana, Sugeng Adji, dan Yeliana Pricentia memilih liputan Hari Buruh atau May Day 1 Mei 2015 sebagai materi take home test mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Beragam isu dibawa mereka, dengan angle visual cukup kaya. Mulai dari upah buruh Indonesia yang konon terendah ke-enam di dunia (mengapa disebut konon, karena tak menyertakan data dan grafis memadai) sampai rencana mendirikan Partai Buruh.

Beberapa masukan mendasar dalam kaidah jurnalistik televisi yakni hati-hatilah dalam menyebut ‘daftar’, avoiding the list. Menyebut daftar bukan hanya menyebut nama organisasi, cabang olahraga, atau sejenisnya, tapi juga termasuk aktivitas. Saat narator paket mengatakan, “BERBAGAI ATRIBUT MEREKA GUNAKAN// MULAI DARI IKAT KEPALA/ SERAGAM BERTULISKAN SERIKAT MEREKA/ DAN JUGA SPANDUK BERTULISKAN TUNTUTAN-TUNTUTAN MEREKA//” maka visual yang muncul harus selaras dengan narasi itu. Visual harus muncul perlahan, dari ikat kepala yang dikenakan, seragam dengan close-up ke nama serikat pekerja, sampai kain tentang tuntutan aksi. Sesuaikan antara yang tampak di layar dengan yang terucap.

Gambar yang kaya, ada pula yang diambil dari atas, CG alias character generator yakni teks yang muncul sebagai pelengkap berita, menjadi kelebihan utama kelompok ini. Sayang, kelemahan utamanya juga mendasar sekali: di mana bagian reporter live-reportnya? Tak ada reporter menyampaikan situasi aksi secara live, kecuali saat wawancara Yeliana dengan Anwar Sanusi, salah seorang dedengkot aksi massa. Itu pun bagian wawancara Anwar ini perlu dikritisi, Selain terlalu panjang –seharusnya bisa dipotong sebagian- wawancara dengan Anwar ditayangkan monoton. Tak ada insert visual di sela perbincangan cukup lama itu, serta variasi pengambilan gambarnya nyaris tak ada, selalu group shot (menampilkan reporter dengan narasumber). Sebaiknya, saat narasumber mulai fokus berbicara, ambil one shot, khusus menyorot ekspresi Anwar.

Pun demikian saat menyinggung rencana buruh mendirikan partai, yang seharusnya bisa menjadi ‘daging’ utama paket ini. Tak ada SOT/kutipan wawancara terkait tema itu, atau selebaran dan spanduk mengenai gagasan Partai Buruh. Sekali lagi, sesuaikan narasi dengan tema.

Proses liputan

Aretyo memaparkan, di awal liputan kawasan Bundaran Hotel Indonesia, reporter dan juru kamera berpencar. Camerapersons mencari stock gambar, sedangkan reporter membuat naskah untuk dibacakan saat PTC (piece to camera), berbekal informasi dari internet dan informasidari orang sekitar.

Untuk keperluan stok, mereka mewawancarai tiga buruh dari tiga kelompok berbeda. “Nanti di proses pascaproduksi, kami memilih yang terbaik,” katanya.

Dalam peliputan ini, mereka bermodalkan tripod dan kamera Canon DSLR tipe 60D. “Untuk pencahayaan karena masih pagi dan terang, kami rasa tak perlu menggunakan lampu/LED tambahan,” ungkap Sugeng. Untuk merekam suara sendiri, mereka hanya menggunakan teknologi voice note di smartphone.

Setelah sesi liputan kelar, mereka melakukan sesi pengambilan gambar anchor di kampus. “Kami menggunakan salah satu kelas kosong. Agar tak terlihat polos, pengambilan gambar dilakukan ke arah luar jendela di mana terlihat gedung-gedung lain di belakang pembawa berita,” tambah Rosyana.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s