Boyzone, Plan B yang Berkesan

“Don’t love me for fun, girl
Let me be the one, girl
Love Me For a Reason
Let the reason be love”

(Boyzone, Love Me For a Reason)

Mereka berempat – Catherine Gladys, Almas Jeihan, Dian Mardiah, dan Angelia- meliput konser Boyzone di Istana Olahraga (Istora) Senayan sebagai materi take home test Ujian Akhir Semester mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Beberapa kritik dari paket liputan dan live ini, yakni tingkatkan rasa percaya diri. Dimulai dari penampilan Jeihan sebagai presenter. Belajarlah menatap kamera lebih fokus ke depan, bukan mengawang-awang seperti pada tayangan ini. Juga, suara anchor harus lebih tegas dan mantap. Terkait video clip sebagai pengantar paket, boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu panjang, apalagi sampai dua lagu.

Kepercayaan diri Angelia sebagai reporter sudah ok, hanya saja harus konsisten. Saat melontarkan pertanyaan ke narasumber, sebaiknya microphone juga diarahkan ke bibirnya, sehingga suara penanya menjadi lebih jelas. Dalam hal ini saat Angel menanyakan, “Daya tarik apa yang membuat kakak ngefans Boyzone?”

O ya, atas nama kesetaraan jurnalis dan sumber, sebaiknya reporter televisi tidak menyebut “Kakak”, atau “Bapak” dan semacamnya kepada narasumber. Lebih elegan sebut namanya langsung atau pakai “Anda”. Selebihnya sudah ekselen, termasuk menonjolkan visual menarik terkait anjuran menghindari tiket palsu.

Plan B

Kelompok ini sebenarnya meliput Boyzone karena ‘Plan A’ mereka gagal terlaksana. “Dalam Tugas UAS kami kali ini memilih berita mengenai konser Super Junior yang dilaksanakan di ICE. Kami memilih topik ini melalui beberapa pertimbangan untuk hasul UAS yang memuaskan,” kisah Dian. Sebelum terjun ke lapangan, mereka pun telah membuat Job desk masing-masing, anatra lain Dian Mardiah sebagai Producer, Catherine Gladys sebagai Camerawoman, Angelia sebagai News Anchor, dan Almas Jeihan sebagai reporter.

Pada hari konser Suju berlangsung, mereka sudah melakukan liputan dan sudah banyak belanja gambar untuk dijadikan paket berita yang baik nantinya. “Beberapa minggu sudah terlewati dan saat kami ingin mengedit video tersebut ternyata memory kamera kami terkena virus yang sangat parah,” papar Keke.

Mereka berusaha sebisa mungkin untuk data yang ada di memory dapat kembali lagi tetapi ternyata tidak bisa karena virus ini sudah sangat tinggi levelnya. Maka, terbitlah rencana Plan B, bersyukur masih ada konser berkelas lain, yakni Boyzone di Senayan.

Mereka berkisah, setelah selesai meliput Konser Boyzone, take dilakukan studio UMN agar dapat diedit dan selesai lebih awal. Alat-alat yang mereka gunakan yaitu tripot, dua unit kamera, dan microphone.

“Kesan yang kami dapatkan dari liputan ini adalah kami belajar untuk lebih hati-hati serta teliti dalam menyimpan data liputan, serta harus siap menempati job desk apa pun yang didapat di saat waktu yang singkat,” simpul Dian. Bagi mereka, meliput euphoria konser secara langsung akan terus menjadi pengalaman yang berharga bagi perjalanan karir menjadi calon jurnalis.

This entry was posted in campus, journalism and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s