Pelajaran dari Nonton Sebelas Duabelas

Menyaksikan sebuah program televisi, kita jadi sadar banyak hal tak tampak di layar.

Kemarin, saya mengajak mahasiswa mata kuliah Teknik Presentasi Media Elektronik Universitas Bakrie untuk nonton taping program ‘Sebelas Duabelas’ KompasTV. Lokasi syutingnya di Studio Evo, kawasan bypass Cawang, di Prumpung, Jakarta Timur.

Dari acara yang dipandu Pandji Pragiwaksono itu, banyak yang bisa dipelajari, terutama terkait merencanakan dan mengeksekusi sebuah show program televisi. “Ayo sekarang kita ambil stokshot tepuk tangan…”, kata sang floor director mengarahkan kami para penonton, baik yang ‘bayaran’ maupun yang bukan bayaran. Berlanjut, “Sekarang shot ketawa…” “Oke, sekarang ambil shot tajam menatap lurus ke depan, seperti serius memperhatikan…” “Nah, satu lagi, sekarang semua ngomong bareng ‘Iya, bener, bener…’”

Untuk program yang berlangsung sejam alias lima segmen, taping berlangsung hampir dua jam, termasuk di antaranya sesi persiapan, pergantian tamu yang on-stage, sampai membersihkan panggung yang penuh dengan pecahan balon dan kertas warna-warni.

Persiapan rapi

Nonton taping Sebelas Duabelas KompasTv. Di balik layar sebuah show.

Nonton taping Sebelas Duabelas KompasTV. Di balik layar sebuah show.

Semua harus dipersiapkan rapi, termasuk joke-joke yang akan dibaca Pandji dengan bantuan prompter. Apa yang menjadi kekuatan episode ini, ‘element of surprise’ atau ‘wow factor’-nya harus merata di tiap segmen. Bintang tamunya, salah satu band legend Indonesia beraliran acid jazz, Rieka Roslan dkk yang tergabung dalam ‘The Groove’.

Improvisasi dalam show tetap penting, apalagi kalau narasumber menyampaikan jawaban atau komentar yang lucu dan tak diduga. Tapi, yang menarik tetap saja, acuan show adalah durasi, durasi, dan durasi. Jangan sampai keasyikan improve, malah bablas.

Di sinilah tampak peran penting tim kreatif. Tim kreatif produksi televisi harus kuat dalam perencanaan. Seperti sebuah ungkapan menyatakan, ‘Kegagalan dalam merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan’. Sementara kaum militer punya filosofi bernada serupa: ‘Perencanaan dan persiapan yang baik adalah separuh dari kemenangan’.

Banyak pelajaran dari nonton langsung pembuatan sebuah program televisi –live atau taping. Dari situ, kita sadar, apa yang membuat kita tercengang, tertawa, atau teriris-iris perasaan kala duduk di depan layar kaca, hadir melalui sebuah planning dan eksekusi amat matang.

This entry was posted in televisi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s