Fokus Pada Detail

Di antara berbagai liputan yang mengangkat ‘side bar’ alias sisi lain sebuah event besar yakni terkait penjualan merchandise, karya ini terbaik. Menampilkan visual berupaa shoot-shoot detail.

Ketika mengangkat angle tentang pedagang pernak-pernik tim nasional setiap Indonesia bertanding, maka Febryanto, Antonius Wilton, Reza Sugiharto dan Ryan Giovanni mengambilnya dengan sangat cermat. Diiringi musik latar yang pas –sayang tak ditulis judul ‘Garuda di Dadaku’ serta ciptaan atau siapa yang mempopulerkan lagu itu di CG, mereka mengambil detail per detail gambar dengan amat fokus.

Penampilan Ryan yang amat ceria berceloteh juga menjadi nilai plus paket ini. Hanya satu kurangnya, yakni saat mewawancarai Udin, sorotan ke punggung Ryan tampak mengganggu. Sebaiknya, Ryan tak usah terlalu membelakangi kamera, atau sebaliknya, kamera mengambil gambar agak ‘çenter’ dengan sebagian muka Ryan terlihat. CG alias Character Generator yang kosong melompong nyaris di sepanjang paket juga menjadi catatan tersendiri. Padahal bisa saja ditulis CG: Udin 10 Tahun Berjualan di GBK, Pedagang Raup Untung Saat Timnas melawan Malaysia, atau Penghasilan Pedagang Merchandise Tak Bisa Ditentukan.

Untuk pengerjaan Ujian Tengah Semester mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN), karya mereka memenuhi kaidah Jurnalistik TV, karena menyorot visual sesuai detail narasi yang dibacakan narator. Misalnya saat menyebut topi, jersey, dan syal, pas gambar menyorot item tersebut, dengan nada bicara yang tak terlalu cepat.

Kendala peliputan

Senjata mereka saat mengerjakan project ini yakni kamera  600D, kamera 60D, tripod, lensa fix, lensa standart 18-55mm, dan microphone. Reza sebagai produser berkisah, kendala utama mereka adalah cuaca. “Cuaca saat itu terbilang panas, terik matahari yang menyengat membuat kami agak kesulitan mencari lokasi untuk syuting,” kata Reza. Cuaca yang terik membuat mereka kesusahan untuk mengatur ISO kamera. Kendala kedua yakni  susahnya mencari pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan kepada pedagang.

Mereka juga mengakui, ada masalah pada reporter yang awalnya sedikit gugup sehingga memakan waktu lama untuk merekam pembukaan acaranya. Selain itu, problem juga ada pada pedagang yang diwawancara. “Mungkin karena belum terbiasa di depan kamera, pedagang tersebut agak sedikit gugup, kemudian suaranya agak sedikit kecil sehingga untuk wawancara dibutuhkan pengulangan sekitar tiga kali,” kisah Febryanto dan Wilton, para juru kamera.

Yang jelas, mereka berkesimpulan, kendala-kendala itu membuat mereka merasakan langsung dunia jurnalistik. “Tugas ini sangat memperkaya pengalaman kami sebagai calon jurnalis. Dengan merasakan liputan langsung membuat kita mengetahui suka duka menjadi seorang wartawan,” kata Ryan.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s