Totalitas Liputan di Tengah Hujan

Namanya jurnalis harus siap dalam kondisi apapun. Cuaca buruk bisa jadi justru jadi berita bagus. Dibandingkan kelompok lain yang ‘berperang’ di medan berkondisi serupa –mengangkat angle konser mahal diguyur hujan, karya ini bisa dikatakan lebih baik.

Empat ‘wartawati’ di kelompok ini – Tsarina Maharani, Yovita, Rahmayanti, dan Vinsensia Ariesta Dianawanti memilih semarak gelaran konser One Direction di Gelora Bung Karno, sebagai pengerjaan take home test Ujian Tengah Semester mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Pengambilan gambar lead live Jurnal Berita yang dilakukan di Studio UMN TV berlangsung ciamik. Kepercayaan dan ketenangan diri Yovita sebagai anchor memberi nilai plus, ditambah bumper dan plasma di kiri host menjadi penunjang siaran yang layak mendapat plus. Kekurangan karya ini secara keseluruhan antara lain masih miskin CG sesuai tema yang diangkat. Memperhatikan sound of tape (hasil wawancara) dengan beberapa penonton, seharusnya bisa muncul CG bertuliskan ‘Hujan Deras, Antusiasme Penonton Tetap Tinggi’, ‘Penonton Kecewa Fasilitas dan Layanan Panitia Konser’, dan ‘Mahalnya Tiket Tak Diimbangi Kualitas Pelayanan Bagi Penonton’.

Kekurangan lain yakni jumping antara kualitas audio saat lead presenter (suara memadai), wawancara penonton (kurang jelas, mungkin pakai telepon genggam) serta laporan Rani di lokasi (kembali jelas). Kelompok ini berani mengambil gambar saat malam hari, di tengah sisa hujan dan penerangan secukupnya. Toh, pemirsa masih dapat jelas melihat visual serta pesan yang disampaikan, juga berkat Rani yang tampil ceria serta sistematis dalam menyampaikan laporan ‘live’-nya.

Khusus soal diksi atau pilihan kata, coba pikirkan untuk tak lagi menggunakan kata ‘kondusif’, kaena kondusif –dari istilah polisi dan tentara di tingkatan Polsekta maupun Koramil, memiliki arti bercabang. Kondusif berarti peluang pada hasil yang diinginkan yang bersifat mendukung. Di sisi lain, kondusif disebut ‘sebuah situasi yang mendukung atau menuntun atau mengarahkan kemungkinan sesuatu terjadi’.

Pujian lain dilayangkan, karena di tengah susahnya akses masuk ke area antrean penonton, mereka mendapat belanjaan visual cukup memadai. Keputuan menyertakan ‘natural sound’ menjadi tepat karena di situlah pemirsa bisa membayangkan antusiasme penonton yang menunggu berjam-jam sebelum pintu GBK dibuka pukul sepuluh pagi.

Kesan peliputan

Yovita memaparkan, untuk peliputan ini, mereka meminjam alat kepada pihak kampus berupa dua buah HXR, satu buah recorder, satu buah kabel data dan satu buah mic. “Sayangnya, kami lupa meminjam tripod dan LED, untuk persiapan liputan di malam hari,” katanya. Masalah itu menemukan solusi saat mereka berbagi tripod dan HXR dengan kempok lain. Dalam dunia industri sebenarnya, pemecahan masalah seperti ini bakal sulit ditemui. Mana mungkin berbagi tripod dengan televisi kompetitor, misalnya?

Melanie Rahmayanti, juga anggota kelompok ini, mengungkapkan, kunci timnya menembus akses yang tak bisa dilakukan kelompok lain –sampai ke antrean penonton di area tenda GBK. Hal itu karena salah seorang di antara mereka memiliki  satu tiket konser One Direction di kelas Festival C. “Kami pun mengubah strategi peliputan, dengan salah seorang dari kami masuk ke dalam untuk meliput crowd penonton dalam konser,” paparnya.

Tepat pukul tiga sore, Dian, salah seorang anggota kelompok, masuk ke dalam arena konser untuk meliput crowd penonton di dalam. Dengan membawa dua buah kamera saku dan satu buah kamera GoPro, ia merasakan antrean penonton cukup panjang hingga timbul aksi dorong antar penonton. Setelah menunggu sekitar satu jam, Dian bisa memasuki stadion GBK bersama ribuan penonton lainnya. Berjejalan dan saling jepit.

Sementara Dian melakukan peliputan di dalam, Yovita, Rahmayanti, dan Rani masih mengambil stockshoot yang kira-kira bisa dimasukkan ke dalam paket berita. Kami juga sempat mewawancarai beberapa penonton. “Tanpa disangka kami diperbolehkan masuk oleh pihak keamanan di pintu masuk arena stadion untuk melakukan live on tape,” kata Tsarina, yang tampil sebagai reporter di tengah kondisi yang masih hujan.

Salah satu pelajaran penting dari liputan ini, yakni kurangnya persiapan alat yang dibawa. Mulai dari tak membawa tripod, kehabisan stock LED di kampus, sampai lupa membawa trash bag untuk melindungi HXR dan jas hujan untuk reporter. “Kami pun terpaksa membeli jas hujan plastik seharga Rp 30 ribu untuk melindungi tas yang berisikan banyak kamera. Padahal di pasaran, harganya paling cuma Rp 10 ribu,” kata Tsarina.

Khusus peliputan di dalam arena terbatas, dilakukan Dian sebagai pemegang tiket, mereka menggarisbawahi kondisi padatnya penonton menjadi penyebab gambar tak fokus dan goyang. “Sayang sekali, padahal konten yang saya dapat cukup bagus,” kata Vinsensia Ariesta Dianawanti.

This entry was posted in campus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s